(Hari Keempat)
Kamis 24 Maret 2022, dijadwalkan Putra Adja, dkk memuaskan lidah para pengajar melalui sajian menu khas dari kelas mereka, XII IIS III.
Terdorong oleh rasa penasaran, lokasi yang menjadi pusat pengolahan protein dan rempah menjadi hidangan terenak, didatangi.
Lokasinya persis di sisi belakang perpustakaan.
Di lokasi tersebut, sudah ada banyak teman Putra. Disebutkan saja yang dikenal, seperti, Andi, Lian, Surti, Enjel, Risma, Eka, Lawe, Renol Resing. Teman selebihnya belum dihafal.
Mereka mulai sibuk selepas doa pagi. Memang seharusnya sudah terlihat sibuk, bukan sibuk-sibukan. Bahkan, terhitung H-1.
Lian, misalnya, ditugaskan mengurusi tempurung kelapa. Ia tersigap memastikan persediaan tempurung bakar di tungku. Ia sungkan mengajak teman sebayanya untuk terlibat. Ia mau bekerja sendiri.
Begitu juga Andi. Pemuda berbadan tegap ini, sedari tadi sibuk menggotong ember air. Dengan tidak beralas sepatu, ia berusaha tuntas mengisi wadah air.
Penuturan kakaknya, Ibu Yanti, Andi salah satu saudara kandung yang sangat rajin di rumah. Terbukti, ia tidak diam membantu teman-temannya dalam memasak.
Lain Surti dan Enjel. Kedua pelajar berperawakan hampir sama tingginya ini tidak mau ambil pusing.
Mereka mengurusi tugas mereka, menanak nasi. Surti sesekali melempar senyum. Enjel datar saja dengan air mukanya yang anggun (ibunya asli Jawa).
Di pojok lain, Risma gesit dengan tangannya. Ia tidak peduli dengan pekerjaan teman lain. Ia hanya fokus di pekerjaannya saja, yaitu mengupas kunyit dan bawang.
Ia justru membiarkan Ratna mengkoordinasi teman-temannya. Saat ditanyakan, ia jelaskan bahwa menu masakan mereka sangat spesial. Hidangan disajikan juga dengan cara spesial.
Spesialnya ada pada cara pengolahannya. Ayam Balik, salah satunya, diolah menggunakan berbagai rempah. Prosesnya diungkep. Digoreng. Lalu dibalik dengan bumbu.
Rempah utamanya adalah bawang merah dan bawang putih. Proses memasaknya memakan waktu dua jam.
Kelamaan di wadah karena bumbu-bumbunya mesti meresap hingga matang, ujar gadis berwajah manis ini.
Sementara kelompok dua, menu spesialnya ayam bakar Taliwang. Eka terlihat sibuk saat menjelaskan detail rempah-rempahnya Untuk proses pembuatan, ungkap Eka, mengandalkan santan. Gula merah. Jeruk nipis.
Cara pengolahannya serupa ayam teliwang umumnya. Namun, yang bikin jadi istimewa dan spesial terletak pada proses dan perjuangan, kata Eka.
Secara keseluruhan, melihat cara kerja, cara pengolahan, kekompakan, kegesitan, kerapian, persiapan rempah-rempah dan protein, anak wali Ibu Friska layak mendapat apresiasi yang luar biasa.
Tentu sangat beralasan apresiasi diberikan kepada mereka (sudah disebutkan di atas). Lebih dari itu, persiapan yang matang menunjukkan bahwa Putra Adja, dkk tidak main-main dalam urusan rasa dan memasak. Mereka pastinya ingin mengungguli kelas-kelas lain.
Apalagi momen hari ini menjadi kesempatan pertunjukan kebolehan dan skil memasak secara kelompok maupun individu. Estimasi waktu memasak selama tiga sampai empat jam, tutup Renol Resing.
Di kesempatan berbeda, Eby melakonkan adegan dramat. Ia bersama kelompoknya mementaskan drama singkat berjudul 'ANAK YANG HILANG'.
Kisah itu diadaptasi dan diangkat kembali dari perumpamaan 'ANAK YANG HILANG' dalam Injil Lukas 15:11-32.
Adegan ditutup dengan sedikit adegan treatikal kembalinya si bungsu, anak yang hilang. Mereka merayakan kedatangannya dengan pesta pora.
Hal itu sudah seperti adegan sungguhan. Hanya kurang pencahayaan dan setingan panggung yang belum proposional.
Tidak apa-apa. Penampilan mereka sangat layak diapresiasi. Sama seperti teman mereka dari kelas lain yang tidak kalah seru menampilkan senam irama.
Berhari-hari latihan, harus tetap diapresiasi. Kekurangan pasti ada. Namun, mereka tentu belajar di setiap kekurangan.
Karena itu, mereka selalu tampil beri habis dan serius dalam meliuk gerakan senam di hadapan Ibu Febi.
Akhirnya, Muchas Gracias Amigos. Teruslah bermekar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini