(Hari Ketiga)
Menu khas Ayam Balado plus perpaduan es kelapa muda dari kelas XII MIA- II kemarin mendapat nilai sembilan dari ibu Lala. Banyak apresiasi juga dari para pengajar atas hidangan terenak dari anak wali Ibu Marlina Tukan.
Hari ini, masih dengan keseruan yang sama. Giliran anak wali Pak. Domi Kalang unjuk kemampuan memasak. Mereka memulai berwirausaha dengan sedikit lebih awal pada pukul 07.30 pagi. Setelah doa pagi bersama, Dimas, dkk bergegas mengatur peralatan dan perlengkapan masak.
Mereka sudah ambil posisi mantap di sekitar tungku api. Ada yang mulai menanak nasi, menjerang air, menyusun kayu bakar, mengupas bawang, kunyit, memotong ayam.
Aktivitas sibuk mereka ini sudah semacam berada di pentri Galeri Master Chef Indonesia. Lengkap dengan daftar bumbu dan rempah. Bedanya, lokasi masak diatur beratapkan langit-langit cerah dan di alam terbuka.
Kastilo saat ditemui di lokasi masak tampak sibuk mengiris labu. Dengan cekatan, satu buah labu dikupasnya dalam waktu dua menit. Terlihat kalau Kastilo hebat menguasai teknik mengupas.
Sambil menggerakkan jarinya, eks anggota paskibraka kabupaten Lembata ini mengatakan menu andalan kelompok mereka antara lain Nasi kuning. Ayam panggang. Perkedel ubi. Ikan bakar. Kuah sup. Es buah. Sambal tomat.
Dengan meyakinkan Kastilo mengungkapkan menu-menu di atas akan tersaji enak. Penuh senyum sumringah ia percaya diri akan memasak dalam waktu lebih cepat.
'Kami akan memasak hanya dalam waktu tiga jam saja,' nyeletuk Dimas yang sibuk menjaga bara api.
Sementara itu, Leni Aihua tidak kalah sibuk. Ia sedang mengiris bawang merah dan putih kala ditemui. Menurutnya, kelompok mereka akan memasak hidangan spesial.
Senada Kastilo, ia begitu percaya diri kalau menu khas mereka akan pas di lidah para pengajar. Ia mengungkapkan semua protein dan rempah-rempah tidak asing seperti kelas-kelas sebelumnya.
Yang unik dan bedanya, mereka menambahkan perkedel ubi, ayam panggang, dan sup kuah pada cita rasa menu mereka. Total duit yang dikeluarkan untuk protein dan rempah-rempah tiga ratus dua puluh lima ribu rupiah, sambung France.
Di pojok berbeda, Silfan sudah sibuk dengan tungku apinya. Ia tampak tersenyum malu ketika dijumpai. Wajahnya terkerut akibat kepulan asap. Di sampingnya, Wati Kotan sudah membungkuk. Pelajar berwajah hitam manis terkesan serius saat ingin dimintai penjelasan.
Menurutnya, menu khas kelompok mereka adalah nasi merah dan opor ayam. Hidangan ini menjadi lengkap karena ada kerupuk udang dan es kelapa muda. 'Kalau kelas sebelumnya menyiapkan lebih banyak nasi kuning, kelompok kami beda. Bisa terlihat, adonan nasi merah ini menjadi enak karena ditambahkan dengan bawang goreng', jelas Wati yang tampak tidak mau diganggu.
Di waktu bersamaan, Ibu Friska dan Ibu Ice bertugas menjadi juri untuk anak wali Ibu Febi Muda. Mereka berdua berduduk jarak. Lengkap dengan teks drama di atas meja masing-masing. Ketika ditemui, Ibu. Friska, guru Bahasa Inggris kelas XII, menuturkan kalau kelas yang dijurinya sedang menampilkan drama kolosal.
Sebagai syarat kelulusan ujian praktik bahasa Inggris, Ama, dkk mesti mendramatisasikan kisah 'ANAK YANG HILANG'. 'Sayangnya, karena isi ceritanya panjang dan daya hafal ke dalam bahasa inggris anak-anak belum kuat, maka teks drama dibawakan secara Indonesia.
Namun, saya tetap menugaskan mereka terjemahkan teks ke dalam bahasa: Indonesia dan Inggris' tutup Ibu Friska. Senada itu, ibu Ince mengomentari isi teks drama yang dipegangnya. Menurut guru mapel Agama kelas XII ini, drama kolosal yang ditampilkan mengangkat kisah atau cerita dalam teks kitab suci (Lukas 15:11-32).
Ia menjelaskan keseluruhan alur cerita drama tersebut sambil tersenyum. Pasalnya, ia tidak tahan tawa melihat adegan Ama, dkk yang secara serius dan lucu mempraktikkan cerita tersebut.
Saat menyaksikan, kelompok satu dari kelas XII IIS II memang penuh penghayatan dan sangat ekspresif. Mereka mengadegankan 'anak yang hilang' dalam versi kontemporer.
Tampak ada minuman beralkohol (sebenarnya teh) dan makanan berupa kripik disajikan di atas meja. Lengkap berpakaian pesta, mereka bergoyang liuk saat Boni memutarkan lagu Disk Jockey (DJ). Pementasan berakhir ketika anak hilang-diperankan Alfred-pulang dalam penuh penyesalan setelah bertahun-tahun di perantauan.
Sambil menahan sakit pada perut akibat tidak makan berhari-hari, si anak hilang itu memohonkan rasa belas kasih. Ia pun diterima kembali. Adegan yang luar biasa bagus. Penafsiran teks yang selaras zaman. Sesuai konteks anak muda sekarang yang syarat pesta pora dan hedonisme.
Yesus pasti melihat adegan tersebut penuh kagum dan barangkali sambil tersenyum Ia berujar, 'Alangkah dahsyatnya tempat ini'.
Kesibukan di tempat lain, Beni Kedang, dkk tampak santau mengupas kulit kedelai. Di bawah naungan pohon cemara, tidak terasa satu kilogram kedelai tuntas dikupas. 'Tempe yang kami buat pasti enak dan berkualitas. Sebab, bahan dasarnya dari kedelai dan ragi berkualitas', tambah Kevin.
Kegiatan ujian praktik hari ini ditutup dengan pemandangan ujian gerakan senam dari kelas XII IIS II.
Banyak terima kasih. Teruslah berkembang.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini