Detail Berita

RANGKUMAN UJIAN KARYA TULIS ILMIAH

Senin, 4 April 2022 07:54 WIB
181 |   -

Hari ini, Jumat 1 April 2022, menjadi episode akhir presentasi karya tulis ilmiah kelas XII. Sebanyak sebelas kelompok bergilir menyajikan materi KTI. Satu kelompok yang ditunda kemarin mengawali sidang akademik karya tulis hari terakhir. Mereka adalah Renol Resing, Lian, dan Ersan.

Kelompok bimbingan ibu Friska ini menulis judul KTI mereka, "Tinjauan Tentang Nilai Yang Terkandung Dalam Gerakan Tarian Beku Desa Leragere Kecamatan Lebatukan Kabupaten Lembata." Pada tiga hari sebelumnya, kegiatan presentasi berjalan lancar. Kritikan, pertanyaan, dan saran lantang disampaikan oleh para penguji.

Hasil penelitian dan tulisan para pelajar tidak luput dari pertanyaan-pertanyaan kritis. Fr. Norbert, antara lain, menanyakan perihal misa Lefa dilihat dari sudut pandang kelompok. Selaku penguji satu, ia selalu mangajak para penulis untuk berpikir analitis dan diharapkan menjawab tuntas setiap pertanyaan.

Tulisan dan penelitian para pelajar juga banyak mendapat koreksi. Dari judul, kajian pustaka, metode penelitian, pembahasan penelitian serta penutup. Ibu Agnes dan Pak Feliks sangat telaten membaca metodologi penulisan. Kedua guru bahasa Indonesia ini lebih sering mengkritik cara penulisan abstrak, isi tulisan, dan kerangka berpikir penulis.

Pertanyaan-pertanyaan informatif selalu ditanyakan sebagai cara menggali informasi dari para penulis. 'Tulisan-tulisan ilmiah perlu mendapat kritikan dan masukan. Tulisan semakin menjadi ilmiah jika kritikan dilihat dari sudut pandang metode-ilmiah'. Itu poin dari kritikan dari Ibu Agnes dan Pak Feliks.

Sementara, Pak Domi selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menuntut pertanggungjawaban akademis. Ia tidak hanya mengoreksi isi dan memperhatikan daftar pustaka. Guru agama ini, sanggup membaca cepat atas tulisan para penulis.

Hanya Pak Domi saja yang melayangkan lebih dari dua pertanyaan. Tujuannya menguji kedalaman materi dan wawasan para penulis. Di sisi lain, para pembimbing enggan menyodorkan pertanyaan. Mereka terlihat lebih banyak mengapresiasi dan menerima masukan dari penguji satu dan dua.

Hanya Pak Teo dan Ibu Friska yang rutin mengajukan pertanyaan kepada anak bimbingan mereka. Namun, selama proses penulisan para pembimbing rutin mengarahkan anak bimbingan mereka. Faktanya karya tulis ilmiah para pelajar tidak luput dari kekeliruan selama penulisan dan penelitian.

Coretan, diomelin, dan bahkan kritikan menjadi bentuk tanggung jawab pembimbing. Secara moral mereka wajib membimbing. Secara akademik, tulisan harus selalu mendapat masukan. Tidak ada tulisan yang sempurna. Karena itu, para penulis harus selalu mau terbuka terhadap sikap kritis para pembimbing.

Sejauh ini, para penulis menerima itu dengan sikap ilmiah mereka. Memang ada pelajar yang terlihat baper, tetapi dengan semangat ilmiah kritikan selalu secara terbuka diterima.

Sebab, apa gunanya baperan kalau perasaan itu tidak bisa dijadikan alasan mencari jalan keluar atas satu persoalan? Terbukti, empat hari sidang akademik karya tulis ilmiah, tidak ada satu pelajar yang terlihat sedih atau menangis. Merasakan gugup itu wajar.

Presiden Jokowi saja pernah terlihat gugup dan canggung saat berada di samping SBY. Hal itu terjadi pada momen awal Jokowi menjabat Gubernur Jakarta. Artinya, rasa gugup adalah gerak refleks alamiah manusia yang timbul akibat perasaan dan pikiran tertentu. Itu bisa terjadi karena banyak indikator. Salah satunya kurang percaya diri.

Untuk mengasah kepercayaan diri, mental mereka pun diuji. Cara bicara, presentasi, pertanggungjawaban ilmiah tentu perlu diujikan juga secara metode ilmiah. Mereka wajib berbicara. Beragumentasi. Berani menyampaikan ide selain hasil tulisan. Kuncinya adalah membaca dan menulis. Tanpa aktivitas menulis, maka penelitian para pelajar kelas XII tidak dapat diujikan secara ilmiah.

Tentang menulis, Pram berujar: 'orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.'

Belajar juga dari Stephen King, seorang penulis kontemporer Amerika Serikat. Novel-novelnya yang umumnya bergenre horor, fiksi ilmiah, dan fantasi telah terjual lebih dari 350 juta eksemplar di seluruh dunia, dan sebagian di antaranya telah diadaptasi menjadi film layar lebar, film televisi, dan buku komik.

Menurut Stephen: 'untuk menjadi penulis, yang dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk menulis dan kemudian mempraktikkannya. Orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis, tetapi tidak pernah melakukannya, maka ia sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil, tanpa ada usaha dan kerja keras untuk memilikinya.'

Sampai di sini, para pelajar punya banyak cita-cita dan impian. Kita dukung mereka untuk capaian mereka ini. Kita berharap di antara mereka kemudian ada yang jadi penulis. Di hadapan para pengajar, terkadang, peserta didik selalu tampak malu menyampaikan cita-cita dan impian mereka. Wajar. Mereka seperti berada di persimpangan saat ini.

Masih ada kebimbangan. Takut. Cemas. Gelisah. Gugup. Gamang. Kalut. Namun, itulah mereka. Sedang berada dalam proses untuk menjadi baik. Pada akhirnya, kita percaya, mereka adalah apa adanya mereka. Suatu waktu mereka bisa jadi 'orang sukses'.

Fr. Norbert, selau beri apresiasi selama ujian KTI. Ia sangat mendukung terselenggaranya ujian akademik karya tulis ilmiah kelas XII tahun ini. Untuk itu, ia akan melanjutkan kegiatan yang sama untuk kelas XII di tahun depan. Ia menganggap bahwa penilaian utama dari seluruh penulisan KTI adalah proses penulisan.

Karena itu, kepada seluruh pelajar ia menitipkan pesan penting agar harus selalu percaya diri, rajin menulis, dan terus membaca. Akhirnya, yang abadi hanyalah pikiran dan waktu. Kita adalah seonggokan daging yang mudah rapuh. Belajarlah untuk menjadi manusia berkualitas sebelum kita 'pergi' selamanya.

Selamat dan banyak terima kasih.


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini