Detail Berita

SEMARAK KEMERDEKAAN DI LODOBLOLONG

Selasa, 30 Agustus 2022 10:38 WIB
153 |   -

Dua tahun bermuram akibat pandemi Covid-19 langsung berbalas gemilang tahun ini. Untuk kali pertama di pertengahan tahun 2022, utusan siswa dan siswi Smater tampil perdana di luar kota Lewoleba.

Mengusung personil lengkap, siswa dan siswi Smater langsung bikin guncang desa Lodoblolong, kecamatan Lebatukan. Bagi masyarakat Lembata desa Lodoblolong terkenal dengan sebutan uniknya, yakni London. Mungkin ada beberapa alasan disebut demikian.

Pertama, biar terdengar persis nama ibukota negara Inggris, London. Kedua, akronim London lebih mudah disebut ketimbang Lodoblolong. Ketiga, supaya desa ini lebih akrab di telinga masyarakat dengan sebutan yang dipersingkat. Untuk para pelajar Smater, desa ini sudah akrab di telinga mereka.

Saking akrab di telinga dan saking tenarnya, lebih dari ratusan siswa dan siswi tampil memukau dengan atraksi Marching Band, paduan suara, tarian tradisional, modern dance, dan Band Smater di desa yang berada di puncak bukit ini. Tentu suatu keistimewaan bisa tampil di hadapan ratusan masyarakat desa Lodoblolong.

Apalagi, aktivitas kembali normal dan sudah tidak lagi dibatasi pasca pandemi. Ruang gerak dan ekspresi para pelajar jadinya terbuka lebar. Siswa dan siswi Smater akhirnya bisa mengeksplorasi bakat dan kemampuan mereka. Persis ini momen yang ditunggu selama ini.

Pak. Marjo, misalnya, selaku pembina Band Smater tidak main-main dalam urusan membawakan lagu-lagu bandnya. Dia punya keyakinan anak asuhnya bisa tampil memukau. Lagu-lagu yang dibawakan Erika, dkk mengusung tema kemerdekaan.

Karena momen kemerdekaan, maka masyarakat Lodoblolong boleh melihat langsung atraksi dan kreasi dari pelajar Smater ini. Selama dua hari, Selasa dan Rabu, mereka 'beri habis' menghibur masyarakat di sana. Rombongan Smater memang datang untuk memenuhi undangan khusus kepala desa, Bapak. Yohanes Lewan Leni.

Kades dua periode ini, sudah jauh-jauh hari menargetkan akan mengundang rombongan Smater untuk tampil pada perayaan HUT RI tahun ini. Tersiar kabar undangan ini pernah resmi diberikan dua tahun lalu. Karena pandemi, baru bisa terwujud tahun ini.

Di sisi lain, tentunya anak-anak Smater membawa misi promosi sekolah. Misi promosi ini dipimpin langsung kepala sekolah, Fr. Norbert, bersama para staf pengajar. Mereka hadir di tengah masyarakat. Mereka turut bergembira bersama masyarakat sambil mengusung moto sekolah: Fides, Scientia, et Fraternitas.

Pada perencanaan kegiatan bersama Kades, dikonsepkan seluruh rangkaian 17-an dimulai dengan misa kenegaraan yang dipimpin langsung RD. Elias Pari Werang selaku pastor paroki. Setelah itu, malam hiburan diisi atraksi modern dance, tarian tradisional, aklamasi puisi, dan band.

Acara-acara ini dikemas menarik karena berkolaborasi bersama pelajar SD dan SMP desa London. SDK Lodoblolong, SDI Lodotokowoa, dan SMPN 5 juga ikut dilibatkan dalam malam hiburan. Maka, terjadilah tontonan yang menarik. Dalam acara dance, salah satunya, Susi Lemar tampil dengan solo modern dance.

Liukan tubuh siswi dari kelas XII MIA-II ini sanggup menghiptonis ratusan penonton anak-anak, remaja, dan orang tua desa Lodoblolong. Susi menamakan diri sebagai Solo Dance. Susi mengatakan untuk tampil prima, ia berlatih serius dan optimal.

"Saya sudah latihan serius selama ini. Wajar kalau mendapat apresiasi. Saya juga senang karena masyarakat desa Lodoblolong larut dalam kegembiraan", ujar Susi. Anak bimbingan ibu Novi juga tidak mau kalah. Kelompok gabungan dari beberapa siswa kelas XI dan XII tampil memukau penonton dengan tarian tradisional.

Dengan sedikit variasi, kelompok polesan guru ekonomi ini tampil tidak mengecewakan. Kombinasi gerakan mereka sangat menghibur masyarakat. Kalau soal tarian, ibu Novi dan kelompok asuhannya memang sangat jago. Selama ini, ibu Novi selalu berupaya bangun keakraban bersama para pelajar dengan maksud agar ekosistem positif tercipta selama latihan.

Terbukti benar. Para penonton desa Lodoblolong larut dalam keterkesemiaan gerak lentur Febri, dkk. Semakin menarik acara malam itu, karena drama kolosal yang dibawakan Ketrin, dkk membangkitkan gelak tawa. Pecah keheningan, lantaran diselipkan goyangan Bento.

Band Smater juga tampil gemilang. Sederet lagu yang dibawakan, antara lain, Bendera, Berkibarlah Bendera, Soka Sele, Bolikana, Paimura Rame-Rame, serta ditambahkan lagu lain. Dipimpin Erika Erap, harmonisasi musik terdengar jelas dan 'enak' di telinga. Hari puncaknya, Rabu pagi, dimulai dengan apel bendera. Apel kemerdekaan dipimpin langsung inspektur upacara, Bapa Yohanes Leni.

Bertindak komandan upacara, Yani Soba, siswa kelas XII IIS III. Pembawa baki, Cia Lamuri, Leon Kaka, dan Yani Watun. Tepat pukul 08.00 pagi seluruh masyarakat London ikut berkumpul. Mereka terdorong rasa penasaran menyaksikan dentuman Marching Band.

Mereka senang, karena baru pertama kali desa London diguncang oleh suara-suara gabungan trompet, snare, bels. Apalagi, permainan harmonisasi musik-musik tersebut terlihat jelas bersamaan dengan cheers dan penari bendera.

Rombongan pelajar SMP, SD, PAUD, dan masyarakat London merasa terpukau oleh goyangan pimpinan Nindi, Rambu, dan Tiara. Dari ekspresi wajah, mereka puas telah menyaksikan langsung dari dekat Marching Band Fraternitas. Bisa jadi mereka membatin, "kapan lagi kalau bukan sekarang?"

Kegiatan kemerdekaan berakhir dengan acara tos-tosan kenegaraan bersama perangkat desa, masyarakat, dan pastor paroki. Dalam sambutannya, Bapa Yohanes Leni mengucapkan rasa kebanggaannya. Ia secara pribadi merasa berbangga karena boleh meyaksikan atraksi yang dipertontonkan anak-anak Smater.

"Atas nama seluruh masyarakat, saya mengucapkan banyak terima kasih untuk kehadiran rombangan Smater Lewoleba. Suatu kehormatan sudah menghibur masyarakat", ungkap Pak Yohanes. Dalam acara tos kenegaraan, Fr. Norbert menyampaikan beberapa hal penting. Pertama, ucapan kebanggan dan rasa hormat karena bisa diundang secara luar biasa, mulai dari penyambutan awal hingga acara puncak di hari kemerdekaan, 17 Agustus.

Kedua, ucapan rasa hormat tidak terhingga atas segala pelayanan, ketulusan, dan kebaikan dari seluruh masyarakat desa Lodotokowoa. "Sejak kami diterima, sangat terlihat ada persatuan yang luar biasa. Kerja sama yang yang hebat. Ada semangat kemerdekaan yang ditunjukkan oleh seluruh desa Lodotokowoa", ungkap haru Fr. Norbert.

Ia juga tidak lupa menyampaikan permohonan maaf atas segala sikap, perkataan, dan gerak-gerik sejak hari lalu. Perbuatan kekeliruan perlu diutarakan Fr. Norbert karena ia sadar bahwa kehadiran rombongan Smater sudah merepotkan seluruh masyarakat desa Lodotokowoa.

"Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih, kebanggan, dan permohonan maaf kami. Suatu kehormatan bisa datang di desa yang terkenal dengan keramahtamaan, kebaikan, dan kebersamaan", tutup Fr. Norbert.

Lodoblolong sudah bikin kami jatuh cinta. Cinta kepada Lodoblolong tergambarkan seperti puisi Pak Feliks.

"Cintaku padamu Lodoblolong

malam jatuh perlahan-lahan

Kabut tipis turun pelan-pelan di lembah jiwaku, menjelma bulu kuduk, menyatu dalam darah menjadi cinta.

Aku datang ke dalam lembah kasihmu, ke dalam sepi kasihmu dan ke dalam dingin cintamu dan kau selimuti aku dengan kabut kasih cintamu.

Aku cinta padamu, Lodoblolong yang teduh, Lodoblolong yang dingin, Lodoblolong yang tabah, Lodoblolong yang riang Lodoblolong yang candu.

Cintaku dan cintamu menjelma kita dalam selimut kasih persaudaraan."


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini