Ada satu cerita menarik di hari Rabu. Pada saat jam istirahat, beberapa rekan guru dikejutkan oleh suara Pak Iwan Lewai. Ia terlihat bersemangat sekali ingin menceritakan pengalaman berjumpa peserta didik di kelas. Pak. Feliks, Pak. Tino, dan Pak. Marjo niat mendengarkan.
Dengan enteng, Pak Iwan buka suara. "Saya senang sekali hari ini. Di kelas asuhan saya, para pelajar saling berdebat. Mereka baku silang argumen. Awalnya, aktivitas mereka itu diabadikan lewat foto. Saya kemudian buat video karena perdebatan semakin sengit. Sampai-sampai waktu istirahat terpotong beberapa menit".
Cerita Pak Iwan ini terus berlanjut. Ia sodorkan konten rekaman perdebatan. Dari raut mukanya, ia puas dan senang. Memang benar. Kelihatan perdebatan sengit sekali. Terlihat saling berganti argumentasi. "Saya kaget dan tidak sangka para pelajar berani berbicara", sambung Pak Iwan.
Isi cerita yang Pak Iwan maksudkan ialah peserta didik kelas X-A. Durasi video debat tersebut tiga menit. Ia menceritakan lengkap pengalamannya selama jam istirahat. Pak Feliks kemudian menanggapi. Tanggapan Guru bahasa Indonesia ini kurang lebih sama seperti Pak Iwan. Ia punya cerita tersendiri tentang peserta didik kelas X.
Tidak hanya Pak Iwan dan Pak Feliks, Pak Tino punya kesannya yang hampir sama. Rata-rata peserta didik kelas X tahun ini sangat aktif di kelas, demikian Pak. Tino. Pada kenyataannya tidak dilebih-lebihkan. Respon positif sebagian staf pengajar terdengar jelas pada waktu-waktu senggang.
Pak Domi ikut bersaksi. Ia berkomentar kalau peserta didik kelas X berkemauan belajar dan selalu mau terlibat dalam pembelajaran. Kebetulan dalam sepekan ini, Pak Domi diberi kesempatan untuk tatap muka. Ia membahas tema krisis lingkungan dan reboisasi.
Tema itu menarik karena dikemas melalui forum diskusi. Seperti terlihat, ada perdebatan di sana. Kalau dirunut, diskusi dan perdebatan itu menjadi bagian dari dinamika profil projek Pancasila. Aktivitas pembelajaran formal di kelas digantikan dengan kerja kolaborasi berkelompok selama sepekan.
Peserta didik dibagi ke dalam kelompok-kelompok untuk mendiskusikan tema-tema aktual. Secara bergilir. Misalnya, di kelas Pak Iwan tadi. Ia bersaksi sesuai fakta yang diamati. Selain aktif berdiskusi, peserta didik kelas X A tekun menggali, mencari, menemukan dan memecahkan masalah krisis lingkungan.
Tema krisis lingkungan semakin menarik karena muara akhir dari diskusi dan perdebatan di kelas ialah terjun lapangan. Sebelum ke lapangan tentu mereka wajib dibekali pengetahuan melalui interaksi dua arah. Dilatih menganalisis. Membentuk pola pikir dan konsep yang benar.
Semua peserta didik di kelas melakukan pola yang sama secara serempak. Ibu Lince tidak luput dengan kesaksiannya. Ia mengatakan partisipasi peserta didik di kelas X D sangat luar biasa. Tema yang diangkat mengenai penggunaan media sosial. Mereka berdiskusi, memantik tema, saling berdebat, dan menyampaikan ide serta gagasan mereka.
"Waktu di kelas X D saya saksikan peserta didik begitu aktif sekali. Mereka mau terbuka dan tukar pikiran", imbuh Ibu Lince. Tidak hanya itu, ungkap Ibu Lince, selalu ada ide baru yang dibisa dibagi dan ditambahkan
berdasarkan kreativitas mereka. Apalagi, tema media sosial selalu dekat dengan mereka dan sangat kontekstual. Ketika diamati selama sepekan, kesaksian para pengajar di atas memang benar adanya. Di kelas X A, B, C, D, E, dan F, peserta didik terlihat sangat aktif dan berani berargumentasi.
Berdiri dan berbicara di hadapan teman-teman kelas, antara lain, wujud nyata dari implementasi kurikulum merdeka belajar yang dijabarkan melalui projek profil Pancasila. Ada tiga profil projek Pancasila yang dikaji, yakni tentang media sosial, pelestarian lingkungan, dan kuliner. Tema kuliner juga mendapat atensi luar biasa dari peserta didik.
Ada beberapa staf pengajar yang punya bekal pengalaman dan ilmu terkait kuliner. Ibu Novi, misalnya, sedikit memberikan tambahan materi kuliner jagung titi berdasarkan pengalamannya. Peserta didik mulai berdiskusi. Menelurkan ide. Berdebat. Bahkan, memberikan pendapat soal kuliner jagung titi.
Selain jagung titi, projek profil Pancasila kuliner juga mengangkat kue putu dan olahan daun Marangga sebagai materi garapan peserta didik. Ketiga projek profil Pancasila ini bertujuan menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik.
Mereka disadarkan untuk bekerja pada hal-hal praktis. Secara kebetulan sekolah memilih dan mengangkat projek profil Pancasila yang dekat dengan kehidupan mereka sebagai pelajar. Mereka bisa belajar memasak, memintal ide, dan meracik menu yang siap dipasarkan ke masyarakat.
Peserta didik juga akan terjun ke lapangan sebagai modal pengetahuan untuk kemudian menghasilkan produk unggulan. Sasaran utama dari projek profil Pancasila adalah pengembangan bakat dan kompetensi peserta didik yang terintegrasi dengan kurikulum merdeka belajar.
Selama sepekan ini, tergambarkan bahwa peserta didik kelas X mau belajar, mau cari tahu, mau berdiskusi, sampai berniat menghasilkan produk hasil buatan tangan mereka sendiri. Singkatnya, projek profil Pancasila memberikan waktu yang menyenangkan. Menyenangkan karena ada ilmu baru, pengetahuan baru, dan pengalaman baru. Risiko melaksanakan kurikulum merdeka belajar, ialah memberikan keleluasaan kepada peserta didik untuk kreatif dan inovatif.
Sejak lama, SMATER sudah membaca peluang itu. Kreativitas peserta didik semakin teruji dan diasah melalui projek profil Pancasila dan pelaksanaan merdeka belajar. Melalui unggahan Instagramnya, Nadiem Makarim mengatakan kurikulum merdeka merupakan terobosan dari Kemendikbudristek sebagai upaya mendorong mutu kualitas pendidikan dengan mengedepankan proses yang jauh lebih releven, mendalam, dan menyenangkan.
Akhirnya, semangat terus. Jangan kasih kendur.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini