Detail Berita

UJIAN KARYA TULIS ILMIAH HARI KEDUA

Senin, 15 April 2024 10:36 WIB
73 |   -

Sebagaimana matahari adalah mahacahaya semesta dan segala makhluk hidup di bawah kolong langit tidak bisa hidup tanpa sedikit secercah sinarnya. Selayaknya juga hidup harus tetap menjadi terang bagi mereka yang sedang sedih hati dirundung galau, dinamika sosial-ekonomi pasang surut tiap hari, dan susahnya menghadapi inkonsistensi politik global.

Ujian karya tulis memasuki hari kedua. Mulai lebih awal, pukul 07.45 pagi. Cuaca sedikit cerah, sehingga aura positif dan semangat semakin baik dari aktivitas kemarin. Hujan memang turun sebentar saja, itu pun tersisa dari kenangan dan genangan semalam, kemudian panas terik berkepanjangan menghidupkan kembali harapan dan antusias.

Antusias para penguji dan pelajar kelas XII terlihat dari ketahanan dalam seluruh proses uji ilmiah selama tujuh jam di ruang RKB, dengan wajib menuntaskan empat belas kelompok. Para pelajar selalu terlihat bisa tampil berani, baik, dan bagus. Mereka sanggup menjawab, meski sedikit terbatah-batah. Para penguji juga tidak kalah kritis mengajukan pertanyaan.

Dinamika ujian karya tulis ilmiah terwakilkan oleh presentasi tentang "Pengolahan Biji Asam (Tamarindus Indica) Menjadi Kue Kering". Judul ini diteliti oleh Robert Hobataman dan Sifra dari kelas XII MIA-I. Menurut para penguji pemilihan judul ini menarik dan unik, serta penulisannya mengikuti metodologi ilmiah dan kaidah kepenulisan karya ilmiah yang benar. Setidaknya, dari judul ini pembaca jadi paham.

Tentu ada alasan mereka memilih judul ini. Alasan yang bisa direka-reka adalah bahwa fenomena biji asam bagi kebanyakan orang jarang dimanfaatkan. Itu karena, 'tamarindus indica' kalah tenar dari rasa asam (masam) yang pemanfaatannya untuk manis-manisan, kuah makanan, dan snack.

Orang NTT beranggapan biji asam, sebagaimana biji-bijian lain, bukanlah jenis makanan yang dapat diperbarui. Kira-kira begini, setelah diambil, isinya dimakan, lantas bijinya dibuang setara sampah dan kotoran lain. Baru kali ini, ada yang berani 'melawan arus'. Robert Hobataman dan Sifra mencoba keluar dari praktik keliru yang awet di masyarakat. Mereka sama-sama mengolah biji asam, dikupas, dimasak, dan diblender, maka jadilah tepung.

80 persen biji asam jadi bahan dasar pembuatan kue kering. Cara pengolahannya mirip adonan kue basah dan kering lain. Hasilnya bisa dilihat pada gambar foto usai presentasi. Kualitas kuenya bagus, tebal, tidak pecah, sedikit manis, ada bau kopi, dan rasa tepungnya tidak menonjol, tapi saling melebur. Baru kelompok mereka membuat penelitian ini, begitu reaksi Robert dan Sifra ketika ditanyai para penguji. Itu artinya, isi perut dan isi kepala dibuat seimbang.

Meski tidak semua, ada sebagian judul KTI para pelajar sangat provokatif. Mengundang para penguji untuk selalu beri pertanyaan konformasi, terbuka, dan diskusi. Itu yang buat ujian karya tulis semakin ke sini (hari kedua), semakin enak didengar, terlihat baru judulnya, dan selalu penuh kejutan.

Banyak terima kasih untuk hari ini. Kalian luar biasa. Esok masih ada beberapa kelompok. Juga menjadi hari terakhir. Kelompok yang belum diuji timbul rasa penasaran, gugup, dan antusias. Itu reaksi alamiah yang wajar, dan kata orang bertanda baik. Hanya robot, benda tak berakal budi, yang tidak pernah mengalami rasa grogi dan canggung. Tetap semangat. Tetap jadi diri sendiri dan terus percaya diri. Wasallam.


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini