(Hari Kedua)
Ujian praktik sementara berjalan di hari kedua. Para pelajar kelas XII MIA II kembali berwirausaha pada pagi yang cerah ini.
Setelah mendapat pujian dan terima kasih dari para pengajar atas menu makanan yang enak dari kelas XII IIS II kemarin, hari ini giliran Elen Hurek, dkk ingin mendapat pujian yang sama dari para pengajar.
Anak wali Ibu Marlina Tukan berniat membuktikan ketrampilan mengolah menu masakan andalan mereka.
Selama beberapa jam, mereka memasak menu yang kelihatannya enak. Di atas meja tampak sudah berjejer rempah-rempah.
Masing-masing kelompok tentu menyiapkan menu spesial mereka. Praktik memasak hari kedua sudah semacam kompetisi Master Chef Indonesia.
Dalam kelompok mereka tekun, serius, kompak, disiplin, saling bantu, dan saling gotong. Mereka terkejar oleh waktu. Maklum, masakan harus sudah jadi sebelum jam dua siang.
Kevin mengutarakan, kelompok mereka akan memasak ayam Balado. Ikan Batu Bakar. Mie Sawi Wortel. Ayam Krispi. Lawar Pari. Nasi Kuning.
Kevin memang kelihatan sibuk mengurus tungku api. Ia selalu mengupayakan agar asap apinya selalu mengepul. Ia sedikit berujar, "menu makan kami pasti spesial dan enak".
Sementara di pojok lain, Tia mengkoordinasi teman-temannya memasak menu: Nasi kuning. Ayam Balado. Ikan Bakar. Minuman Sirup. Ayam rica-rica. Sayur rumpu rampe.
Tia lah yang mengepalai kelompok dua. Ia sibuk mengatur peralatan. Menyiapkan perlengkapan dapur. Mengecek rempah-rempah penunjang menu andalan Ayam Balado.
Berbarengan dengan itu, Beni Sura yang sejak awal ditugaskan mengurus persediaan api dan minyak tanah tampak mondar-mandir. Ia stand by di sekitar Tia.
Sampai di sini baru dipahami. Tugas memasak adalah kewajiban yang mesti dijalankan semua orang. Laki maupun perempuan.
Ada praktik kesetaraan gender di sana. Dalam menyiapkan menu, harus dilakukan bersama. Penuh tanggungjawab. Gotong royong.
Beberapa meter dari lokasi masak, praktik drama begitu dramatis. Ibet Sogen, dkk mampilkan drama kolosal berjudul "TENGGELAMNYA KEROKO PUKEN"
Judul ini mengisahkan tentang KEROKO PUKEN berawal dari seorang pria menikahi gadis pilihan ibunya. Gadis itu berasal dari khayangan.
Kenapa dinamakan KEROKO PUKEN? Karena saat itu Lagan Doni tidak mematuhi syarat Baginda raja yang akan menikahi dengan gadis bungsunya, Nining Sari.
Naskah drama ini diangkat dari kisah nyata masyarakat Adonara, Flores Timur pada ratusan tahun lalu.
Diadaptasi kembali oleh kelas XII IIS I sebagai syarat kelulusan ujian praktik Agama, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Seni Budaya.
Durasi adegan ini selama satu jam lebih. Dibawakan penuh keseriusan dan ketekunan oleh anak wali Ibu Leni.
Banyak apresiasi tentunya, sebab mereka mengadegankan kembali kisah lama yang barangkali banyak para pelajar Smater yang menyaksikan belum tahu.
Pada akhirnya, sejarah harus terus dipelajari. Hidup tidak akan lepas dari sejarah. Sejarah yang menuntun setiap manusia mengenal masa kini dan mempersiapkan masa depan.
Satu jam sebelumnya, kegiatan praktik diawali dengan gerakan senam irama oleh para pelajar kelas XII IIS II.
Di ruang laboratorium Kimia, Ibu Lin, guru Kimia, tekun dan serius mengawasi para pelajar kelas XII MIA-I yang sedang fokus membuat parfum, sabun, keju, dan menguji protein pada makanan, serta selfota dari tomat dan koin.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini