Feliksianus Ama, S.Pd
Guru Bahasa Indonesia
Salah satu kemampuan kebahasaan yang dimiliki oleh peserta didik adalah keterampilan menulis. Menulis merupakan salah satu kegiatan untuk mengungkapkan pikiran atau perasaan dalam bentuk kata-kata. Semi (2007: 14) mengemukakan bahwa, menulis merupakan proses kreatif memindahkan gagasan ke dalam lambang-lambang tulisan. Dalam pengertian yang lebih sederhana, kemampuan menulis bukanlah bakat bawaan sejak lahir (aptitude).
Kegiatan menulis hanya dapat dilakukan bila peserta didik secara giat melakukan latihan secara terus-menerus. Proses kreatif itu akan lahir dengan sendirinya bila peserta didik mampu memadukan minat menulis secara terus-menerus dan membangun kebiasaan menuangkan ide dan gagasan secara tertulis.
Dalam upaya mengoptimalkan potensi dan menumbuhkan keterampilan menulis peserta didik, salah satu cara yang tepat dengan menggunakan model pembelajaran Amati, Tiru dan Modifikasi (ATM). Menurut Syarifudin (2015: 56-57) model ATM merupakan teknik pembelajaran yang dimulai dengan mengamati, meniru, dan memodifikasi peristiwa sesuai dengan pengetahuannya.
Model pembelajaran ini memudahkan peserta didik untuk membaca karya-karya penulis besar sebagai referensi yang relevan sebelum melahirkan ide/gagasan sendiri dalam tulisan. Pendekatan ini mengharuskan peserta didik untuk lebih teliti dalam proses mengamati, meniru dan memodifikasi tulisan sebelum memulai tulisan sendiri.
Dalam konteks pembelajaran, diperlukan pendekatan pembelajaran dan langkah-langkah yang tepat. Pendekatan pembelajaran yang dimaksudkan lebih menekankan pembelajaran yang kontekstual agar peserta didik dapat mampu menghasilkan karya kreatif dalam melahirkan karya tulis yang berkualitas.
Dengan pendekatan ini, diharapkan peserta didik mampu memberikan dampak sekaligus menumbuhkan kreativitas dalam meningkatkan keterampilan menulis serta memudahkan peserta didik melahirkan tulisan-tulisan kreatif.
Proses kreatif dalam melahirkan tulisan bagi peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terdapat pada materi Menulis Teks Cerita Sejarah Pribadi. Dalam pengamatan penulis, peserta didik kelas XII IPA 1 di kelas mengalami beberapa hambatan.
Peserta didik mengalami kesulitan menuangkan ide atau gagasannya dalam bentuk tulisan. Peserta didik juga menemukan habatan mengembangkan kerangka konsep penulisan dasar teks cerita sejarah pribadi.
Permasalahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, rendahnya pemahaman peserta didik terhadap pengertian literasi yang dicanangkan oleh kementrian pendidikan dan program tahunan sekolah. Pada taraf pemahaman, peserta didik hanya sebatas membaca.
Kedua, peserta didik tidak membiasakan diri menghabiskan satu bahan bacaan sampai selesai. Akibatnya, peserta didik tidak memperoleh pemahaman yang utuh dalam sebuah tulisan. Keadaan tersebut mengakibatkan pemahaman peserta didik terhadap keutuhan sebuah cerita atau karangan tidak kompleks.
Ketiga, rendahnya penguasaan kosakata dan tata bahasa. Kemampuan pengasaan kosakata Bahasa Indonesia tentu berkaitan erat dengan kebiasaan membaca. Peserta didik tidak terbiasa mencatat kata-kata sulit untuk menambah perbendaharaan kata. Hal tersebut mengakibatkan rendahnya sumber kosakata. Berdasarkan beberapa persoalan yang terjadi di atas, penulis hendak mengajukan pendekatan ATM sebagai penunjang keberhasilan peserta didik dalam meningkatkan kompetensi menulis.
Hal itu sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Syarifudin (2015: 4-5) bahwa ada enam kompetensi menulis yang melekat pada diri seseorang, terlebih pada peserta didik, di antaranya pengetahuan, sikap, proses, keterampilan, hasil dan profesi.
Untuk mendukung proses kreatif dalam pengembangan kompetensi menulis pada peserta didik kelas XII IPA 1, penulis menganggap perlu menggunakan teknik ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi). Cara ini memang tidak sepenuhnya baik, tetapi bagi penulis pemula, teknik ATM ini dapat digunakan untuk menumbuhkan kebiasaan menulis peserta didik dengan cara mudah dan lebih sederhana.
Teknik ini dimulai dengan mengamati tulisan yang dihasilkan oleh penulis-penulis besar. Dalam proses pengamatan yang diamati, ialah gaya penulisannya, cara penyajian tulisan, penokohan, alur; latar, sudut pandang dan sebagainya.
Mengamati karya yang dihasilkan oleh penulis-penulis besar dapat menjadi salah satu teknik untuk menulis cerita. Setelah proses pengamatan, langkah selanjutnya adalah Tiru (meniru). Langkah ini dilakukan dengan meniru jalan cerita atau alur yang dituangkan lewat karya penulis-penulis ternama.
Dalam konteks kepenulisan bukan bermaksud menjiplak. Konsep meniru pada tahap ini dimaksudkan untuk menjadi inspirasi dalam menyampaikan jalan cerita atau penggambaran suasana cerita lewat kata-kata. Teknik meniru ini mengambil esensi pesan dan isi tulisan yang dikemas dengan kualitas kebahasaan, berdasarkan daya imajinasi, dan proses kreatifitas yang dimiliki.
Langkah terakhir yang dilakukan adalah memodifikasi tulisan. Teknik memodifikasi tulisan dilakukan dengan mengembangkan nuansa baru dengan cerita yang berbeda dari cerita atau kisah yang dibaca. Memodifikasi berkaitan erat dengan kekhasan menciptakan perbedaan tiap-tiap cerita. Memodifikasi tulisan berarti mengurangi atau menambahkan bagian-bagian cerita yang tidak perlu yang menjadi kekhasan gaya kepenulisan peserta didik sendiri.
Proses kreatif yang dialami oleh peserta didik kelas XII IPA 1 pada materi Menulis Teks Cerita Sejarah Pribadi pada awalnya mengalami kesulitan. Para peserta didik kesulitan untuk memulai kata apa yang lebih tepat untuk merangkai kalimat. Setelah kalimat pertama ditulis, peserta didik merasa kesulitan merangkai kata untuk kalimat berikutnya.
Penulis mencoba untuk memberikan teknik ATM ini kepada peserta didik dengan memperlihatkan beberapa cerita-cerita (Cerpen SGA yang berjudul Belajar Menulis, dan Cerpen-cerpen yang ditulis Oleh Feliks K.Nesi) sesuai dengan ide yang dimunculkan oleh para peserta didik sendiri.
Melihat pola pengembangan peserta didik mampu menuangkan ide dan gagasannya dalam bentuk kerangka konsep cerita. Dengan kerangka konsep tersebut, peserta didik mampu mengembangkannya ke dalam bentuk paragraf dan menjadi suatu karangan cerita sejarah pribadi yang utuh.
Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh setelah penerapan pendekatan ATM ini: Pertama, proses pemunculan ide. Dalam proses ini, peserta didik diharuskan untuk menemuka ide-ide yang akan dituangkan dalam bentuk tulisan. Pada materi ini, peneliti memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk memilih pengalaman yang paling berkesan untuk dituangkan ke dalam bentuk tulisan.
Kedua, menyusun kerangka konsep. Dalam proses ini, peserta didik diharuskan untuk mampu menyusun kembali ide-ide itu menjadi kerangka acuan yang akan dikembangkan menjadi sebuah karangan. Ketiga, menyempurnakan naskah tulisan. Pada bagian ini, siswa bersama guru melakukan penyempurnaan isi tulisan, baik dari segi kebahasaan dan sistematika tulisannya.
Berdasarkan pembahasan dan hasil pengamatan sederhana ini, dapat disimpulankan bahwa kegiatan menulis sebagai proses kreatif dengan menerapkan pola pendekatan ATM (Amati-Tiru-Modifikasi) menunjukan adanya peningkatan keterampilan menulis peserta didik kelas XII IPA I.
Hal itu ditandai dengan antusias para peserta didik dalam pengumpulkan tugas Teks Cerita Sejarah Pribadi yang diberikan. Selain itu, dalam proses pembelajaran, siswa lebih terlibat aktif dalam menuangkan ide dan gagasannya. Itu artinya, kegiatan menulis bukan lagi hal yang sulit melainkan kegiatan menyenangkan untuk dilakukan.
Penulis memberikan saran sebagai acuan dalam mengembangkan potensi peserta didik dalam kegiatan menulis. Di sisi lain, guru harus mampu mengoptimalkan potensi siswa dengan menggunakan pendekatan yang merangsang kreativitas menulis.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini