Oleh: Katharina Dheku,S.Pd
Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Pancasila sebagai dasar negara menjadi acuan terbentuknya negara Indonesia. Rumusan Pancasila bukan merupakan hasil pemikiran seseorang atau kelompok orang. Pancasila diangkat dari nilai-nilai, adat-istiadat, dan kebudayaan yang terdapat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pancasila mengandung nilai-nilai dan makna. Secara kultural nilai-nilai Pancasila berakar pada kebudayaan dan tradisi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Nilai-nilai tersebut terdapat dalam lima garis besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial.
Ketuhanan Yang Maha Esa, diwujudkan oleh setiap orang dengan memeluk agama sesuai keyakinannya, bertoleransi terhadap orang lain yang berbeda agama. Kemanusiaan yang adil dan beradab, diwujudkan dalam bentuk perilaku saling menghargai harkat dan martabat sesama, kesamaan dalam kemasyarakatan dan hukum, saling mengasihi dan menyayangi. Persatuan Indonesia, diwujudkan dengan tiadanya diskriminasi individu dan antar golongan, kesediaan bekerja sama untuk kepentingan bersama, bergotong royong, rela berkorban, dan senantiasa berupaya untuk menciptakan kerukunan.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan diwujudkan dalam bentuk menyelesaikan masalah dengan musyawarah, demokrasi substansial, dan tidak memaksakan kehendak. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, diwujudkan dalam bentuk perilaku menghargai hak orang lain, karya cipta orang lain, mengedepankan kewajiban dan melaksanakan hak secara seimbang.
Indonesia terdiri dari beranekaragam suku, bangsa, budaya, dan agama. Keanekaragaman tersebut merupakan satu kesatuan yang kokoh di bawah naungan Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Filosofi tersebut menjadikan Indonesia satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa. Inilah karakter dan nilai Pancasila sebagai budaya bangsa.
Pendidik menemukan persoalan dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegara, materi Pancasila sebagai budaya bangsa yang dialami oleh peserta didik kelas X IPS SMAS Frater Don Bosco Lewoleba pada tahun pelajaran 2021/2022. Pada awalnya pendidik menerapkan pembelajaran dengan metode ceramah. Namun ketika guru bertanya dan mengevaluasi kembali, peserta didik kurang atau tidak memberikan jawaban yang diharapkan. Peserta didik belum memahami secara benar apa itu ideologi bangsa indonesia maupun nilai-nilai Pancasila secara ideal, instrumental dan praksisnya dalam kehidupan sehari-hari.
Contohnya peristiwa bencana alam di Kabupaten Lembata yaitu erupsi gunung berapi yang terjadi di Lembata beberapa waktu lalu. Peserta didik diminta untuk melakukan aksi sosial dengan berbagi sumbangan untuk para korban bencana. Misalnya memberi pakaian bekas layak pakai, makanan, peralatan mandi, perlengkapan tidur, atau uang. Akan tetapi hanya sekitar 30-40% peserta didik yang berpartisipasi aktif memberikan sumbangan. Fenomena ini menunjukan bahwa para peserta didik belum sampai pada taraf pemahaman dan pengamalan nilai Pancasila secara konkret.
Hal ini disebabkan oleh ketiadaan keinginan untuk membaca, melihat, mengamati dan dan menemukan contoh-contah nyata pengamalan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Masih banyak peserta didik belum memiliki pemahaman tentang Pancasila secara baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, motivasi dan keaktifan belajar peserta didik masih rendah.
Keaktifan belajar peserta didik merupakan salah satu unsur dasar yang sangat penting untuk mencapai tujuan proses pembelajaran. Keaktifan merupakan kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berpikir dan bertindak sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan.
Keaktifan belajar juga berperan sebagai motivator dalam proses pembelajaran. Seringkali terjadi peserta didik kurang antusias dalam proses pembelajaran bukan disebabkan oleh kemampuannya yang kurang, melainkan karena tidak adanya motivasi untuk belajar sehingga peserta didik tidak ada upaya untuk mengerahkan kemampuannya. Oleh karena itu pendidik dianjurkan selalu memberikan motivasi kepada peserta didik agar dapat interaktif di dalam kelas saat proses pembelajaran.
Ketidakaktifan peserta didik di dalam kelas dapat dipengaruhi beberapa faktor, meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan keadaan peserta didik yang menyebabkan kurangnya keaktifan dalam proses pembelajaran, seperti: kondisi kesehatan, kesenangan dan kebiasaan minat belajar peserta didik, kurangannya ketekunan dan keuletan peserta didik.
Faktor penyebab lainnya yaitu dari faktor eksternal, seperti: hubungan guru dengan peserta didik. Kurangnya kebiasaan guru memberikan apresiasi dan pujian terhadap peserta didik. Kurang memberi teguran yang tepat terhadap peserta didik. Peserta didik tidak menunjukkan ketertarikannya pada media belajar yang digunakan guru saat proses pembelajaran, serta metode yang digunakan kurang menyenangkan dan kurang meningkatkan minat belajar peserta didik
Masalah dalam pembelajaran ini menggugah pendidik untuk mengubah langkah dan strategi yang tepat agar peserta didik kelas X IPS SMAS Frater Don Bosco Lewoleba mencapai tujuan pembelajaran. Strategi penting yang dilakukan pendidik adalah menggunakan metode pembelajaran problem-based learning melalui teknik diskusi yang sesuai karakter siswa. Dengan adanya diskusi terjadi pertukaran pikiran, gagasan, pendapat antara dua orang atau lebih secara lisan dengan tujuan mencari kesepakatan atau kesepahaman pendapat.
Metode pembelajaran problem-based learning diartikan sebagai sebuah model pembelajaran yang didalamnya melibatkan peserta didik untuk berusaha memecahkan masalah dengan melalui beberapa tahap metode ilmiah sehingga peserta didik diharapkan mampu mempelajari pengetahuan yang berkaitan dengan masalah tersebut dan sekaligus peserta didik diharapkan akan memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah.
Pilihan metode ini diikuti dengan langkah-langkah konkret. Pendidik membagikan peserta didik kedalam kelompok-kelompok kecil secara proporsional. Tujuannya agar terjadi kerjasama dan saling membantu antar peserta didik. Selanjutnya pendidik memberikan setiap kelompok contoh permasalahan kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi Pancasila sebagai budaya bangsa.
Langkah-langkah selanjutnya dalam metode Problem based learning adalah orientasi siswa terhadap masalah autentik. Pada tahap ini guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah, dan mengajukan masalah; mengorganisasikan peserta didik.
Selanjutnya peserta didik melakukan analisis, evaluasi dan konstruksi konsep pengetahuan baru yang diperoleh lewat permasalahan kontekstual yang diberikan pendidik. Peserta didik dapat melakukan refleksi dan aksi solutif konkret atas masalah yang diberikan. Peserta didik akhirnya menemukan sendiri nilai-nilai Pancasila yang dapat muncul sebagai budaya bangsa kita.
Setelah menggunakan metode Problem based learning, peserta didik mengalami peningkatan dalam prestasi belajar. Peserta didik kelas X IPS SMAS Frater Don Bosco Lewoleba mampu terlibat aktif dalam belajar, memahami ideologi bangsa Indonesia maupun menerapkan nilai Pancasila secara ideal, instrumental maupun praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan metode Problem-based learning pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. Langkah-langkah metode ini mendorong peserta didik untuk aktif, berpikir kritis serta dapat melatih kerja sama, musyawarah dalam kelompok, dan bersikap adil, sehingga peserta didik mampu mengetahui lebih banyak pengetahuan yang belum diketahui dan tertarik untuk terus aktif tanpa merasa malu untuk mengeluarkan pendapat.
Berdasarkan pengalaman ini, maka pendidik memberikan kesimpulan bahwa penerapan metode problem-based learning ini sangat efektif untuk peserta didik kelas X IPS SMAS Frater Don Bosco Lewoleba. Dengan adanya metode ini peserta didik bisa memahami dan berpikir kritis tentang Pancasila sebagai budaya bangsa dengan contoh-contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidik berharap artikel ini akan menambah wawasan mengenai metode pembelajaran Problem based learning dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Tindak lanjut penerapan metode ini pada saat proses pembelajaran diharapkan pendidik untuk lebih mengawasi, mengontrol serta membimbing siswa dalam pelaksanaan langkah-langkah proses pembelajaran.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini