Detail Opini Guru

MARI BERCERITA BERSAMA MATEMATIKA

Sabtu, 5 April 2025 05:00 WIB
  757 |   -

Maria Magdalena Bota Tukan, S.Pd

Guru Mata Pelajaran Matematika

 

           Matematika berperan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun banyak peserta didik di sekolah merasa pelajaran Matematika termasuk yang paling sulit. Karakteristik matematika yang abstrak dan sistematis menjadi salah satu alasan sulitnya siswa mempelajari matematika. 

           Kenyataan yang terjadi di sekolah menunjukan banyak siswa yang tidak menyukai matematika karena persepsi yang sudah terbangun di dalam pikiran dan meyakini matematika sebagai pelajaran yang paling sulit di antara mata pelajaran lainnya. Hal ini semakin didukung dengan rendahnya keterampilan berfikir siswa dalam menyelesaikan masalah matematika. Akibatnya banyak peserta didik melakukan banyak kesalahan dalam penyelesaian soal matematika.  Kesalahan dalam mengerjakan masalah matematika tidak lepas dari bentuk soal matematika yang diberikan. Salah satu bentuk soal matematika yang diberikan berupa soal cerita atau soal uraian.

          Soal cerita matematika memberi gambaran nyata permasalahan kehidupan yang sebenarnya. Soal cerita merupakan salah satu bentuk soal yang menyajikan permasalahan terkait dengan kehidupan sehari-hari. Soal cerita biasa digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika terutama kemampuan menganalisis dan menyelesaikan permasalahan melalui langkah-langkah operasional matematika. 

         Guru menilai kemampuan menganalis dan prosedur penyelesaian soal yang ditempuh peserta didik. Penulis mencoba menerapkan soal cerita dalam materi program linear pada peserta didik kelas XI IIS 3 di SMAS Frater Don Bosco Lewoleba. Dalam menyelesaiakan soal cerita materi program linear tidak semua siswa dapat mengerjakan dengan tepat. Hal ini ditunjukkan dengan hasil ulangan harian dan ulangan semester yang nilainya masih jauh di bawah standar ketuntasan kompetensi minimal (KKM). 

          Sesuai pengalaman dan refleksi penulis, salah satu penyebab rendahnya pencapaian peserta didik adalah peserta didik masih merasa kesulitan dalam mengubah soal cerita ke dalam model matematika. Misalkan pada soal “seorang pembuat kue mempunyai 8 kg tepung dan 2 kg gula pasir. Ia ingin membuat dua macam kue yaitu kue dadar dan kue donat. Untuk membuat kue dadar dibutuhkan 10 gr gula pasir dan 20 gr tepung. Sedangkan untuk membuat sebuah kue donat dibutuhkan 5 gr gula pasir dan 50 gr tepung. Jika kue dadar dijual dengan harga 1000 / buah dan kue donat dijual dengan harga 1.500 / buah. Tentukanlah pendapatan maksimum yang dapat diperoleh pembuat kue tersebut” 

      Dalam mengerjakan soal cerita matematika tersebut peserta didik masih sering mengalami kesalahan. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan peserta didik dalam menyelesaikan soal cerita matematika yaitu kesalahan memahami soal, kesalahan prosedur penyelesaian, dan kesalahan menginterpretasikan jawaban model matematika.

       Kegagalan peserta didik dalam menyelesaikan soal cerita matematika memerlukan gambaran yang jelas guna mengetahui kesalahan apa saja yang sering muncul saat siswa menyelesaikan soal. Diperlukan adanya deskripsi secara jelas yang bertujuan untuk menemukan kesalahan, mengklasifikasikan, dan berupaya melakukan tindakan perbaikan. Kesalahan– kesalahan ini pun dapat menjadi bahan pertimbangan bagi guru dalam usaha meningkatkan kegiatan pembelajaran dan diharapkan siswa yang bersangkutan dapat menghindari kesalahan yang sama. 

       Dalam penyelesaian soal cerita terdapat tahapan-tahapan yang harus dilakukan untuk mencapai jawaban yang diinginkan. Terdapat beberapa tahapan dalam penyelesaian soal cerita, yaitu: kemampuan menulis aspek yang diketahui; kemampuan menulis aspek yang ditanyakan; kemampuan membuat model matematika; kemampuan menyelesaikan model matematika; kemampuan menjawab pertanyaan soal ( Polya dalam Aisyah, 2007).

       Peserta didik diminta untuk terlebih dahulu mengerti apa yang dimaksud oleh soal. Seperti apa yang diketahui? Apa saja datanya? dan lain sebagainya. Lalu peserta didik mengerjakan soal, misalnya dengan mencari rumus atau operasi yang tepat untuk mengerjakan soal tersebut. Berikutnya peserta didik menjalankan rencana yang telah dibuat dan mengerjakan dengan seksama. Terakhir, peserta didik diminta untuk melihat kembali hasil pekerjaannya, apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini juga dapat membantu peserta didik apa bila ada proses yang kurang tepat, sehingga peserta didik mempunyai waktu untuk memperbaikinya. 

       Penyelesaian soal cerita juga menggukan bahasa yang dikenal dalam dunia matematika. Untuk menyelesaikan soal cerita diperlukan kemampuan sebagai berikut: (a) menentukan hal yang diketahui dalam soal, (b) menentukan hal yang ditanyakan dalam soal, (c) membuat model matematika (kalimat matematika), serta (d) melakukan komputasi (perhitungan, dan mengintepretasi jawaban model ke permasalahan soal semula) (Sukarno (2001:5). 

      Dalam menyelesaikan soal cerita sangat diperlukan kemampuan-kemampuan dalam menentukan hal yang diketahui, ditanyakan, membuat model matematika, dan melakukan perhitungan. Dengan demikian, dapat dideskripsikan bahwa kemampuan menyelesaikan soal cerita sangatlah penting untuk dikuasai oleh peserta didik. Terutama dalam menentukan apa yang diketahui dari soal cerita itu, apa yang ditanyakan dalam soal cerita, memilih operasi yang tepat, dan menjawabnya dengan jawaban yang tepat.

         Masalah di atas adalah masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, yang bisa diselesaikan dengan materi program linear menggunakan metode problem-based learning. Tahapan pada metode problem-based learning, yaitu; pertama, mengorientasikan peserta didik terhadap masalah. Pada tahap ini guru memberikan permasalahan berupa soal kepada peserta didik. Kedua, mengorganisasikian peserta didik untuk belajar. Pada tahap ini peserta didik dituntut untuk berpikir kritis sehingga peserta didik bisa mengubah informasi yang didapat ke dalam model matematika.

       Ketiga, membimbing penyelidikan peserta didik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini guru membimbing peserta didik untuk menyelesaikan masalah yang diberikan. Keempat, mengembangkan hasil karya. Pada tahap ini peserta didik dituntut untuk mempresentasikan hasil penyelesaian masalah yang diberikan. Kelima, analisis dan evaluasi. Pada tahap ini guru bersama peserta didik merangkum dan mengambil kesimpulan dari permasalahan yang sudah diselesaikan.

        Mata pelajaran matematika, khususnya pada materi program linear didominasi pada pemecahan masalah sehingga model pembelajaran problem-based learning cocok untuk diterapkan. Metode pembelajaran sangat penting dalam mencapai hasil dari tujuan pembelajaran bagi peserta didik. Guru diharapkan lebih sering memberikan latihan soal-soal cerita yang bervariasi dari soal yang sederhana sampai dengan yang lebih kompleks dengan menekankan pada penggunaan langkah-langkah penyelesaian sehingga peserta didik lebih terlatih dalam menyelesaikan soal cerita dan lebih sistematis. 

 

Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini