Oleh: Maria Bunda, S.Pd
Guru Mata Pelajaran Sejarah
Pancasila merupakan dasar negara Indonesia, yang menjadi pedoman dalam segala pelaksanaan pemerintah negara Indonesia termasuk peraturan perundang – undangan. Pancasila merupakan cerminan bangsa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi tolak ukur bagi bangsa Indonesia dalam penyelenggaraan bernegara. Pancasila membuat Indonesia tetap teguh dan bersatu di dalam keberagaman budaya.
Dalam sejarah, Pancasila dirumuskan oleh tiga tokoh nasional yaitu Mohamad Yamin, Soepomo, dan Soekarno. Kemudian dicetuskan oleh Soekarno dalam sidang BPUPKI pada 1 juni 1945. Di dalam Pancasila terkandung banyak nilai di mana keseluruhan nilai tersebut terkandung di dalam lima garis besar kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejak zaman penjajahan sampai sekarang kita selalu menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila tersebut. Maka seluruh kehidupan dan penyelenggaraan berbangsa dan bernegara tidak boleh menyimpang dari nilai ketuhanan, kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan dan nilai keadilan.
Peserta didik perlu mengingat bahwa proses membangun NKRI itu tidak terjadi dengan sendirinya, akan tetapi harus diusahakan dengan kesadaran semua elemen bangsa. Seringkali terjadi bahwa kita sulit menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Dalam materi pembelajaran sejarah kita menemukan masalah berkaitan dengan disintegrasi yang terjadi di Indonesia. Salah satunya yang berkaitan dengan penerapan nilai-nilai ideologi Pancasila.
Peserta didik kurang memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Hal ini terjadi karena sedikit pemahaman peserta didik dalam menerapkan nilai yang terkandung dalam diri mereka. Seperti sering terjadi perilaku menyimpang dari nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan. Misalnya tidak menjalankan doa pagi dengan baik, tidak mengikuti upacara bendera dengan tertib, kurangnya kesadaran tentang kebersamaan, kurangnya asa memiliki, dan kurang bersikap adil di lingkungan sekitar.
Pendidik sebagai seorang tokoh yang memiliki peran penting dalam menerapkan nilai terkandung dalam Pancasila; menerapkan nilai-nilai yang terkandung sesuai dengan pengalaman yang dimiliki, seperti mengajarkan untuk menanamkan nilai dan moral yang terkandung dalam Pancasila. Memberikan arahan yang baik kepada peserta didik agar bisa memaknai nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Untuk semakin menanamkan nilai Pancasila, pendidik menerapkan metode discovery learning. Metode discovery learning merupakan suatu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pandangan konstruktuvisme. Dalam pembelajaran discovery learning, mulai dari strategi sampai dengan pelaksanaan dan hasil penemuan ditentukan oleh peserta didik sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Maier (Winddiharto:2004) yang menyatakan bahwa apa yang ditemukan, jalan atau proses semata wayang ditemukan oleh peserta didik sendiri. Berdasarkan penjelasan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan. Tujuan pembelajaran discovery learning agar peserta didik mampu menemukan pola dalam situasi konkret maupun abstrak, peserta didik mampu merumuskan strategi tanya jawab, serta membantu siswa membentuk cara kerja sama yang efektif saling membagi informasi dan menggunakan ide-ide orang lain.
Adapun sintaks dalam kegiatan pembelajaran yang menggunakan discovery learning sebagai berikut; Stimulution (pemberian ransangan). Pada tahap ini pendidik menyajikan persoalan yang berkaitan dengan masalah yang sering terjadi di negara Indonesia yang bertentangan dengan nilai–nilai Pancasila. Peserta didik diberikan masalah yang terjadi di negara Indonesia seperti masalah yang terjadi di Papua. Pendidik mengajukan pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal dan mendorong eksplorasi. Peserta didik mendengarkan permasalahan yang disajikan agar menciptakan kondisi belajar yang mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan yang berkaitan dengan pengembangan nilai-nilai bangsa.
Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah) terjadi setelah melewati stimulus. Pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam kelompok untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah disintegrasi yang terjadi di Indonesia sejak Indonesia merdeka sampai saat ini yang melanggar nilai–nilai Pancasila baik diperoleh melalui internet,buku sumber maupun lewat film. Peserta didik juga diarahkan untuk mencari informasi yang terjadi dalam lingkungan belajar yang menyimpang dengan aturan sekolah dan menyimpang dari nilai – nilai Pancasila.
Data Collecting (Pengumpulan data), terjadi ketika eksplorasi berlangsung guru memberi kesempatan kepada para peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis.Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis. Peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber. Pada tahap ini Peserta didik melaporkan hasil observasi,wawancara dan hasil kerja di depan kelas agar bisa mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik pada nilai-nilai Pancasila.
Data processing (Pengolahan data), merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para peserta didik baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya lalu ditafsirkan. Data processing disebut juga dengan pengkodean coding / kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Proses generalisasi tersebut peserta didik akan mendapat pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
Veryfication (Pembuktian), pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan dengan temuan yang dilakukan pada wawancara, observasi dihubungkan dengan hasil data processing. Pada tahap ini bertujuan agar proses belajar berjalan dengan baik dan kreatif, jika pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan dan nilai-nilai Pancasila melalui contoh-contoh konkrit yang dijumpai peserta didik dalam kehidupannya,baik berdasarkan pengamatan,wawancara,maupun membaca literatur.
Generalization (kesimpulan); Tahap ini merupakan proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan hasil verifikasi. Pada tahap ini peserta didik dan pendidik memberikan kesimpulan atas hasil yang sudah diperoleh.
Setelah menerapkan metode pembelajaran discovery learning peserta didik mampu memahami materi pembelajaran sejarah di kelas XII tentang masalah disintegrasi yang terjadi di Indonesia dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan terutama di lingkungan pendidikan SMAS Frater Don Bosco Lewoleba. Nilai-nilai Pancasila ini terangkum dalam nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan, nilai keadilan yang dijalankan dan dilaksanakan peserta didik. Melalui kegiatan observasi, wawancara, peserta didik mampu memahami dan memaknai nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam aturan-aturan dan norma yang berlaku baik di negara Indonesia maupun lembaga pendidikan SMAS Frater Don Bosco Lewoleba.
Pancasila merupakan ideologi yang menyatukan pandangan hidup masyarakat di Indonesia. Pada tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai hari Pancasila oleh Presiden Soekarno. Pancasila merupakan cakupan dari nilai, norma, dan moral yang harusnya mampu diamalkan oleh seluruh masyarakat Indonesia khususnya peserta didik SMAS Frater Don Bosco Lewoleba. Apabila peserta didik mampu mengamalkan nilai-nilai Pancasila tersebut, maka tindakan yang menyimpang dalam aturan sekolah dapat diminimalisir, secara tidak langsung akan mengurangi tindakan yang melanggar aturan sekolah, dan peserta didik mampu memaknai nilai-nilai Pancasila dalam kepribadiannya.
Diharapkan agar semua masyarakat Indonesia khususnya Peserta didik dapat menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Penerapan nilai-nilai Pancasila harus ditanamkan sejak dini agar kelak nilai Pancasila melekat dalam kepribadian peserta didik dalam bermasyarakat agar terciptanya bangsa Indonesia yang damai.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini