Detail Opini Guru

VIDEO REPORTASE MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA

Sabtu, 5 April 2025 05:03 WIB
  1846 |   -

Oleh : Agnes Derang Soge, S.Pd

(Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia)

 

Manusia memerlukan alat komunikasi antarsesama. Banyak alat atau cara yang sering digunakan dalam berkomunikasi. Alat atau media yang paling sempurna adalah bahasa.

Bahasa adalah suatu abstraksi dari pernyataan, pikiran, dan perasaan. Wujud bahasa berentuk lambang dan digunakan menurut aturan tertentu.  Bahasa terbentuk dari perantaraan bunyi yang secara sadar dibentuk dan diucapkan.

Dari segi keberadaannya, bahasa lebih bersifat konvensional. Artinya, bahasa merupakan kesepakatan antarkomunitas penuturnya.  

Sebagai produk sosial atau budaya tentunya bahasa merupakan wadah aspirasi sosial, kegiatan dan perilaku masyarakat, wadah penyingkapan budaya. Sehubungan dengan pemahaman ini, bahasa dapat dianggap sebagai sebuah cerminan peradaban.

Ada empat keterampilan berbahasa, yakni mendengarkan atau menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Pertama, keterampilan menyimak. Menyimak  merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat reseptif. Menyimak tidak sekadar kegiatan mendengarkan, tetapi juga memahami.

Ada dua jenis situasi menyimak, yaitu situasi menyimak secara interaktif dan noninteraktif. Menyimak secara interaktif terjadi dalam percakapan tatap muka dan percakapan di telepon. Menyimak secara non interaktif, yaitu mendengarkan radio, televisi, film, khotbah atau menyimak dalam acara-acara seremonial.

Kedua, keterampilan berbicara. Berbicara merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam. Ada tiga jenis situasi berbicara, yaitu interaktif, semi interaktif dan noninteraktif. Situasi berbicara interaktif, misalnya percakapan searah tatap muka dan berbicara lewat telepon.

Berbicara yang semi interaktif, misalnya dalam berpidato di depan umum secara langsung dan berbicara non interaktif, serta berpidato melalui radio atau televisi. Ketiga, keterampilan membaca yang berarti memahami berbagai bentuk teks wacana.

Keempat, keterampilan menulis. Menulis berarti mengembangkan dan meluangkan pikiran-pikiran dalam suatu struktur tulisan yang teratur. Keterampilan mikro dalam menulis, meliputi penggunaan otografi secara benar, pemilihan kata (diksi) yang tepat, mengurutkan kata-kata dengan benar, adanya struktur gramatikal.

Untuk menunjang tulisan semakin baik, dipilih gaya tulisan yang tepat sesuai kebutuhan pembaca, mengupayakan ide-ide atau informasi utama, dan mengupayakan terciptanya paragraf dan keseluruhan tulisan koheren. Tujuan terbentuknya kalimat yang benar agar pembaca dengan mudah mengikuti jalan pikiran atau informasi yang disajikan melalui beberapa paragraf. 

Kemampuan berbicara bukanlah sekadar pengucapan kata atau bunyi. Membaca merupakan suatu alat untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan, atau mengkomunikasikan pikiran, ide, ataupun perasaan. Dengan kemampuan berbicaralah kebutuhan untuk berkomunikasi dengan masyarakat dan lingkungan dapat terpenuhi.

 Berbicara merupakan instrumen dasar dalam berkomunikasi. Pesan yang disampaikan kepada orang lain bisa dipahami dan dimengerti dengan jelas karena ada lata berkomunikasi.

 Faktor yang mempengaruhi kemampuan berbicara meliputi faktor eksternal dan internal. Faktor internal berkaitan dengan sikap percaya diri. Faktor ini akan mempengaruhi seseorang dalam berbicara, sehingga satu pembicaraan bisa berlangsung secara efektif. Tingkat percaya diri yang dapat membuat seseorang mampu bicara dengan tenang, serta berkomunikasi dengan jelas menggunakan bahasa yang sederhana.

Berbicara merupakan instrumen yang fundamental dalam komunikasi. Pembicara mengatakan sesuatu agar mendapatkan timbal balik dari pendengar, pembicara menyatakan sesuatu untuk mengubah pengetahuan pendengar, pembicara bertanya untuk mendapatkan respon dari orang lain, maka secara ilmiah berbicara memainkan peran penting di dalam proses komunikasi (Tarigan. 2008:67).

Pengertian ini yang kemudian mendorong penulis mengamati peserta didik kelas X SMAS Frater Don Bosco Lewoleba dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Penulis menemukan rendahnya tingkat keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran.

Para peserta didik sulit mengungkapkan pendapat, gagasan, pikiran serta pertanyaan selama Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM). Menurut penulis, hal tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa penyebab, seperti kurangnya rasa percaya diri, takut diolok teman, masih terpengaruh dialek lokal, serta kurangnya perbendaharaan kosa kata.

Salah satu strategi yang dipakai, yakni pemanfaatan video reportase sebagai solusi penyelesaian permasalahan . Adapun langkah-langkah video reportase. Pertama, menentukan letak atau tempat observasi yang dilakukan. Kedua, menentukan objek yang akan diobservasi. Ketiga kajian teori tentang objek yang diobservasi. Keempat, menulis kerangka konsep observasi (definisi, ciri-ciri, manfaat dan kegunaan). Keenam mengembangkan kerangka konsep. Ketujuh melaporkan secara lisan melalui video reportase.

Berdasarkan hasil kerja peserta ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berbicara. Kemampuan itu diperlihatkan melalui tuturan dan penggunaan kosakata secara baik dan benar. Siswa lebih leluasa menyampaikan pikiran dengan lebih terbuka dan adanya peningkatan kepercayaan diri yang tampak melalui kebebasan berekspresi.

Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan penugasan video reportase sangat membantu siswa dalam mengekspresikan diri di luar kelas. Hal ini bertujuan meningkatkan kemampuan berbicara siswa baik itu di luar kelas maupun presentase di dalam kelas. Dalam observasi penulis, penugasan video reportase cukup efektif  dalam meningkatkan kemampuan berbicara.

 


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini