Margaretha Gratia Lamury
Namaku Chia. Aku anak kedua dari Komandan Militer Tentara Nasional Republik Indonesia. Ayahku baik. Tapi, jika urusan negara dia akan merelakan segala hal untuk negara ini. Ibuku seorang dokter. Ibu sering diajak Ayah ke markas untuk membantu mengobati pasukan-pasukan yang terluka karena para demonstran.
Keluarga kami cukup hangat, harmonis dan sejahtera. Aku memiliki kakak laki-laki. Vino namanya. Dia adalah salah satu anggota Kepolisian. Dari kecil, ayah selalu mengajarkan kami tentang rasa Nasionalisme. Lagu pertama yang ayah beri tahu kepada kami adalah lagu Indonesia Pusaka.
Ayah selalu menyanyikan itu di teras rumah sambil menyiram tanaman. Aku dan kak Vino selalu beda pendapat. Ayah pernah bertanya kepada kami.
"Kalau sudah besar nanti, anak ayah mau jadi apa?"
Dengan lantangnya kak Vino menjawab pertanyaan ayah, "Mau jadi pelindung negara seperti ayah." Ayah tersenyum.
"Chia, kalo kamu mau jadi apa?"
"Tidak mau jadi apa-apa, asal masih sama ayah dan ibu."
Ayah menggelengkan kepala dan dengan tersenyum menatapku,
"Jadilah rakyat yang bijaksana dan berwibawa ya. Kita tidak tinggal sendiri di negeri ini, hargai orang lain juga."
***
Ayah marupakan sosok pahlawan di mata anak-anaknya. Seorang pejuang yang mengajarkan tentang apa arti kehidupan. Seseorang yang siaga apabila terjadi sesuatu pada keluarganya. Sosok Ayah juga yang membuat kami tumbuh menjadi seseorang yang hebat dikemudian hari.
Jika ada yang menanyakan kepadaku, adakah pesan untuk ayah, jawabanku pasti iya. Tapi pesan itu belum pernah aku sampaikan kepada ayah karena ayah yang sering menjalankan tugas dinasnya. Ayah harus pulang setahun sekali. Setiap ayah pulang, ibu selalu menghidangkan makanan kesukaan ayah. Ayah selalu bercanda kepada kami selepas pulang dinas, tapi pesan saya belum juga tersampaikan.
***
Kakakku orang baik. Dia adalah pelindungku ketika ayah tidak ada. Kakak sering berpesan agar aku tidak telat pulang ke rumah. Kakak selalu mendapat ranking di sekolahnya mulai dari SD, sampai SMP. Sayangnya, kakak berpisah dengan kami saat SMA karena dia memilih untuk menginap di asrama khusus Kepolisian. Sedangkan, aku di rumah menjaga ibu. Kakak selalu pulang tepat ketika ayah pulang. Ketika beranjak dewasa, kakakku yang sebentar lagi lulus dan aku yang akan masuk SMA. Aku dan ibu diberi pilihan oleh ayah sulit oleh ayah. Ingin pindah dan ikut bersama ayah atau tetap tinggal di rumah lama kami. Namun, aku memiliki sekolah favorit di sini jadi aku memilih untuk tetap tinggal, lalu kak Vino bertanya, "Yakin Ci, tidak ikut ayah saja?”
"Mungkin nanti, kak, " jawabku.
"Kasihan ibu. Ibu kesepian di rumah kalo kamu sekolah atau lagi di luar rumah.” Aku mentatap wajah ibu.
"Ya sudah, hati-hati. Chia jaga ibu ya, kakak dan ayah akan terus berkabar dengan kalian!" Ucap ayah. Kami kembali ke perbicangan hangat seperti biasa di ruang tamu.
***
Setahun kemudian, kakak lulus dari Akademi kepolisian dan ikut seleksi untuk melanjutkan misinya menjadi pelindung negara. Ayah datang untuk menemani kakak ikut seleksi, sedangkan ibu dan aku hanya dapat berdoa dari rumah.
Tiga hari berlalu. Ibu yang mendapat telpon dari ayah, berlari ke arahku yang sedang terduduk di ruang tengah. Ibu memperbesar volume telpon.
"Kakak lulus, Ayah?” Tanya Ibu.
Ayah terdiam dan tidak menjawab. Tak lama setelah itu, ada sebuah pengumuman hasil seleksi dibacakan. Selama pengumuman dibacakan ayah hanya terdiam dan tetap menyalakan telponnya.
"Peserta terakhir yang lolos yaitu... Valentino Fernandez."
Ayah langsung berbicara
“ Ibu... Anakmu lolos."
Aku dan ibu sangat bahagia di dalam rumah.
***
Ketika mereka pulang ke rumah, ibu langsung dipeluk kakak. Ayah menyampaikan pesannya, "Jadilah pelindung negara yang jujur, berani dan bertanggung jawab, kamu dilatih untuk tidak cengeng." Pesan ayah juga sampai kedalam hatiku.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini