Maria Grasia Daten
Pagi-pagi buta, di sebuah desa yang lengang angin berhembus dari selatan. Embun subuh masih mesra bertengger di dedaunan sebelum mentari menjemputnya jatuh memesrakan tanah. Seorang wanita terbaring lemah di bale-bale bambu buatan bapak.
Sejak malam ia menahan kantuk. Matanya lebam dengan garis-garis hitam melingkari pelupuk matanya. Sesekali ia melihat tangannya yang lemah mengelus-elus perutnya. Wanita itu tak pernah menyerah meski sisa tenaga yang ia kumpulkan untuk menahan rasa sakit hampir selesai. Ia masih berusaha untuk kuat.
Wanita itu terus menunggu sambil menahan rasa sakit. Suaminya yang sedari tadi keluar bersamaan dengan kokokan ayam pertama di subuh itu belum juga kembali. Subuh mulai ramai dengan kokokan ayam, lolongan anjing dan gesekan reranting pohon di belakang rumah melagukan sunyi.
Dalam keheningan dan rasa sakit, ia mendengar langkah kaki semakin mendekat ke arahnya. Pintu belakang berbunyi. Langkah itu semakin melaju langsung menuju ke kamar tempat wanita itu berbaring. Ia langsung meraih tangan istrinya dengan sekuat tenaga seperti memberi kekuatan doa yang ia ucapkan dengan nada berbisik.
Matanya berat. Setelah istirahat beberapa saat, seorang wanita tua bergegas masuk ke kamar. Tubuhnya sudah mulai keriput. Dari tangannyalah semua nyawa anak-anak yang ada di kampung ini tumbuh. Ia meraba seluruh tubuh wanita yang terbaring lemah itu. Ia melihat ke arah lelaki paruh baya yang masih setia memgang tangan istrinya.
“Ama, tolong jerang air! Biar mama dengan dia jo bae ama.”
Ia melepaskan tangan istrinya dengan hati-hati dan bergegas langsung menuju ke dapur tanpa menjawab perintah dari nenek itu. Suara tangisan pertama terdengar dari dalam kamar mengagetkan lelaki paruh baya yang masih setia duduk di depan tungku dengan doa dan harapan yang tak habis ia ucapkan.
“Ama, bawa air panas ke mari. Campur dengan air dingin sedikit.” Teriak wanita tua itu dari dalam kamar.
“Ia Ema.” Jawabnya terburu-buru sambil menenteng air masuk ke dalam kamar. Setelah meletakkan ember di atas tanah, ia memandangi istrinya yang masih terbaring lemah. Dipandangnya wanita yang ia sayangi itu dalam-dalam dan hanya mengucapkan terima kasih dengan doa dalam hatinya.
“Perempuan ama.” Ucap nenek itu sambil meletakkan bayi itu dada ibunya.
Wanita itu menerimanya dengan sisa tenaga yang ia kumpulkan. Senyum lemah dan bahagia menyambut putrinya yang baru saja lahir. Dinding rumah bambu, atap alang-alang, tanah dan batu-batu kecil yang menempel lubang diding rumah itu seperti merayakan kelahiran putri pertama mereka.
Lima maret dua ribu dua puluh empat pagi, anak itu lahir dengan bahagia dan tumbuh dalam kesederhanaan yang berarti menemani sepasang suami istri yang hidup bahagia.
***
Hidup sederhana adalah hal biasa bagi kami. Bapak bekerja sebagai petani dan ibu mengurusi rumah tangga, termasuk mengantarkan kami ke sekolah. Meskipun makan nasi jagung, kami tak pernah mengeluh sedikitpun. Berapapun hasil yang bapak dapat kalau bekerja membantu orang lain selalu kami syukuri. Hari-hri hidup kami lewati bersama. Suka-duka, susah-senang adalah warna-warni kehidupan yang mesti disyukuri.
***
Juli dua ribu sepuluh adalah hari yang paling bahagia dalam hidupku. Meski dalam kesulitan ekonomi, aku masih disempatkan untuk sekolah oleh bapak. Bapak menyanggupiku untuk sekolah. Bapak tahu, meskipun ia sendiri tidak tamat sekolah dasar tetapi ia menjaga cita-cita dan masa depan kami.
Pagi itu, sebelum berangkat ke kebun, bapak menyempatkan diri untuk mengantarkan aku sampai ke sekolah karena hari pertama au masuk sekolah di sekolah dasar. Bapak memegang tanganku kuat-kuat dan sesekali menggendongku karena genangan air dari sisa hujan semalam belum mengering. Sesekali juga aku meminta pada bapak agar membiarkan aku sendiri yang berjalan.
Sepatu baru yang dibelikan ibu dari pasar terpaksa harus basah karena titik-titik hujan yang masih menempel di rerumptan membasahi sepatuku. Sampai di gerbang sekolah, aku mencium tangan bapak. Bapak melepasku berlari di halaman sekolah karena teman-temanku yaang sudah lebih dahulu berbaris di halaman sekolah. Dari kejauhan aku mendengar suara bapak yang memintaku untuk berlari dengan hati-hati. Meski hidup dalam kesederhanaan, aku tidak pernah patah semangat. Aku akan terus menuntut ilmu agar bisa kubayar semua yang bapak dan ibu berikan.***
Jadilah yang pertama berkomentar di sini