By. Benyamin Doni Sura
Siswa Kelas XII MIA-II
Sehelai sajak menyatu, satu hingga kaku
Membuat aku semakin ragu mengungkapkan sesuatu
Bahwasannya aku masih hidup dalam dunia bisu,
Lancang tak berkata soal isu.
Perasaan ego mengungkapkan fakta anggapan surga bagi kami
Menyelimuti keragaman yang terbilang unik
Dengan karakter budaya yang berbeda
Menyaksikan kepercayaan yang berbasis rapih
Merangkai kota literasi.
Kami patahkan paham lama yang belum laku
Menyakinkan mereka akan ilustrasi hidup dalam halu
Dengan menyuarakan puisi paling aku
Merangkul, membahu,membasuh jadi pelaku
Bukan keraguan yang dihidangkan
Tetapi tentang rasa antara budaya dan kekayaan
Tentang bahasa Ibu yang selalu bersuara ingin pulang
Tentang kemauan tuan untuk terus menenun tanya.
Sahutan diri bujuk menyulam sastra
Dari kata menjadi sebuah frasa
Yang berdiri dengan kaki sendiri
Menuntun sajak untuk terus berseri
Seruan waktu mengajak berterima kasih
Kami anak bangsa ingin bernyanyi
Sorakan raga riahkan daun menari, menuntun mentari
Memuji dari hati dia sang pemberi
Namun, tetap berlagak kasih
Sebagai generasi beralas bangsa
Kita wujudkan mimpi, seberangi membawa bisa
Karena patokan liurmu dapat kau tuangkan
Dalam bubungan sajak pribumi
Kita kaum milenial
Kita bangsa penggemar jati diri
Ayo berliterasi
Kita NTT...
Jadilah yang pertama berkomentar di sini