Nicolo Ignasio
“Kamu di mana?”
“Di pintu gerbang kos. Mau melihat kendaraan yang lalu lalang di jalanan.”
“Ini kan sudah larut. Cepat sana masuk kamar!”
“Nona....”
“Nona....”
Obrolan malam itu terhenti.
Ketika itu waktu sudah di sekitaran pukul 19.28. Aku tidak ingat persis. Kira-kira sebelum pukul delapan malam. Percakapan kami malam itu terhenti. Entah kenapa aku tak tahu pasti. Aku menunggu sedemikian lama balasan pesan dari si dia. Aku tak tahu apa yang dilakukannya. Apa yang sedang dia lakukan aku tak tahu pasti. Aku berharap cemas, sebab setelah perkenalan kami dan menjalani kebersamaan, hubungan kami sedang tidak baik-baik saja. Begitulah masalah anak muda. Biasalah...
Saking lamanya menunggu, aku mengusir kecemasan dengan lagu yang kusambungkan lewat headset. Sesekali aku mencoba menghubunginya, tapi tak pernah dijawab.
“Sudahlah... Gini amat yah LDR. Lemah di jaringan. Masa tidak bisa diangkat.” Aku berucap kecil.
“Apa dia masih marah?” Tanyaku sendiri.
Aku menanti dalam sendiri dan tanya yang tak habis-habisnya. Akhirnya si dia memberi kabar. Jantungku berdebar semakin kencang. Anehnya, chatingannya terlihat sedih ditambah dengan emoji yang ia tampilkan di kolom pesannya. Biasalah, emoji itu selalu menggambarkan suasana hati. Tetapi terkadang, emoji tidak selamanya menggambarkan perasaan seseorang, sama seperti yang dialami oleh kekasihku ini. Bagi mereka yang jadi korban ghosting pasti pahamlah.
Kecemasan yang dirasakannya pun mengalir dalam darahku. Tapi apa yang sedang dia lakukan? Apa yang terjadi pada dirinya saat ini? Aku bisa merasakan pasti ada sesuatu yang menegangkan terjadi padanya. Aku mencoba meneleponnya beberapa kali, tapi tidak ada jawaban.
“Apa dia terkena masalah?”
“Apa dia sakit?”
“Apa jangan-jangan dia....”
“Ayolah sayang, angkat dong. Plisss...” Pikiranku mulai tak karuan. Aku mulai gelisah, takut bahkan sampai marah. Semua rasa bercampur aduk. Aku jadi bingung.
Setelah beberapa saat menunggu, handphoneku bergetar. Isi pesan yang dikirimkannya membuatku kaget. Yah, aku kaget. Bukan hanya kaget, tetapi juga bingung. Kenapa semua ini bisa terjadi? Aku mencoba untuk memanfkannya.
“Saya percaya, non. Kamu pasti tidak salah.”
“Percayalah. Kamu pasti tidak bersalah.”
Handphone yang kugenggam bermandikan keringat di tanganku tiba-tiba bergetar. Ia menelpon dan aku buru-buru mengangkatnya. Dengan perasaan sedih dan sisa tangis yang masih terisak, ia bercerita bahwa ia terkena musibah.
Tanpa sengaja, seseorang di samping mereka berusaha untuk mendorongnya dan ia berusaha untuk menghindarinya. Pada akhirnya, temannya yang berada disampingnya itu yang terdorong.
“Aku jadi bingung sendiri setelah mengetahui teman yang terjatuh itu. Aku tidak tahu apa yang saya lakukan. Hanya kami berdua saja dengan orang yang mendorongnya itu.” Katanya dengan tangis yang semakin keras terdengar.
“Darahnya banyak sekali. Kalau dia kenapa-kenapa bagaimana? Kalau dia sampai meninggal bagaimana?” Katanya dengan sisa tangis dan nada suaranya terdengar seperti sangat ketakutan.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini