Oleh: Icha Franscisca
Selamat pagi dunia. Selamat pagi untuk aku dan kalian semua. Selamat menyambut dan menikmati cerahnya cuaca dan sejuknya udara.
Pagi-pagi sekali, aku terbangun dari tidur panjangku karena bunyi alarm. Jiwa kemalasan masih terkumpul, tetapi aku terpaksa bangun dari tempat tidur dan beranjak siap ke sekolah. Setelah mempersiapkan diri dan sarapan, aku langsung berangkat ke sekolah.
Dengan langkah yang berat serta semangat yang lunglai, aku berjalan ke sekolah. Ketika aku masuk di pintu gerbang sekolah, di dalam pikiranku ada sesuatu yang ingin ku mengadu pada guru-guru. Tetapi apakah bisa? Pikirku keras.
Dengan langkah pasti aku terus berjalan dan memikirkan masalahnya. Yah, tentang jam masuk sekolah. Apakah aturan datang tepat waktu hanya berlaku untuk para murid? Pikirku keras tak ada ujungnya. Sesampainya di dalam kelas aku berbaring dengan menaruh kepala di atas menja sambil menutup mata. Tapi sayangnya, teman-teman tidak bisa diajak kerja sama. Suara teriakan mereka sudah mengalahkan volume toa di sekolah ini.
Di pojok belakang ruangan, para anak laki-laki sedang bermain game. Di depan meja guru ada beberapa perempuan bergoyang tiktok dengan semangat sedangkan yang lainnya ada yang bercerita dan membaca buku. Sungguh hebat teman-temanku semua ini punya bakat yang terpendam. Itulah aktivitas kami bila tidak ada pelajaran atau jam pelajaran sekolah belum dimulai.
Dengan terpaksa, aku keluar kelas menuju koridor depan kelas. Aku melayangkan pandanganku ke arah pepohonan dan semua yang ada di halaman sekolah. Suara bunyi sepatu yang menyentuh lantai mengalihkan pandanganku seketika. Pandanganku beralih koridor sekolah. Ternyata yang datang adalah guru BK di sekolah kami.
Aku langsung berlari masuk ke kelas sambil berteriak, “Woi ibu BK datang”. Entah kenapa, kepala sekolah boleh terima guru BK itu disekolah ini.
Tak lama kemudian ibu BK pun masuk kedalam kelas kami dengan wajah galaknya dan juga kayu lontar kesayangannya yang selalu dibawah ditangannya.
“Selamat pagi anak-anak.”
“Pagi juga ibu,”
“Kenapa suara kalian sangat berisik, supaya kalian tau suara kalian sampai terdengar di ruang guru. Kalian semua berlutut.”
“I.. ibu tapi kelas lain juga masih ribut tu poh...” Jawab kami serempak.
“Mereka ribut tapi tidak seperti kalian yang seperti pasar wulandoni”
“Ibu.. kalo memang kami ribut kami minta maaf, tapi ibu harus hukum kelas yang ribut juga!”
“Kelas kalian ini berbeda dengan kelas yang lain, mereka kalo ditegur mereka akan minta maaf dan tidak membantah tetapi kelas kalian? Sama sekali.”
Mendengar perkataan ibu BK, Davit teman sebangku ku langsung membantah dengan suara yang keras.
“Ibu kalo kami salah kami minta maaf. Tapi dengan hormat tolong jangan bandingkan kami dengan kelas yang lain. Kalo kami salah cukup nasehati kami. Kami juga bisa bosan dan gampang tidak suka dengan guru yang selalu kekang kami dan memarahi kami”.
“Kami para guru punya sikap yang tidak berkenan dihati kalian tolong maafkan kami. Tetapi kami keras karena watak kalian ini harus ditanggapi dengan keras.”
“Iya ibu, kami minta maaf.” Pinta kami hampir serempak.
***
Sekolah tak seasik dulu, sekolah tak seindah kemarin. Yang diinginkan hanyalah angin lalu. Pernah kami bermimpi sekolah impian kami, yang bebas akan tugas, latihan dan bahkan ocehan yang tidak jelas para guru. Hampir kami berputus asa karena harus mencari ilmu yang benar kami sukai.
Guru, apakah harus sekolah biar bisa menjadi berguna? Sedangkan ada banyak paksaan yang tak seharusnya kami rasakan? Begitu banyak tuntutan agar kami bisa ini, bisa itu.
Guru, kenapa harus memilih sedangkan pencipta telah memberi kami talenta yang harus dikembangkan?
Rasa lelah pun terbayar dengan bel pulang sekolah yang berbunyi. Kami pun pulang dengan wajah yang gembira.***
Jadilah yang pertama berkomentar di sini