Angelina Dae
Waktu terus berlalu. Bulan pun kian berganti. Setiap memasuki bulan November, aku merasa senang. Pasalnya, tanggal 10 dan 25 November menjadi catatan sejarah untuk sekolahku.
Tanggal 10 dan 25 November menjadi hari istimewa. Di sekolahku, kedua tanggal tersebut diperingati khusus mengenang jasa pahlawan dan hari guru.
Aku selalu beranggapan, “jika sejarah merawat jasa para pahlawan dengan baik, biarkan para pelajar mengenang mereka dalam alunan nada yang paling merdu dan kisah tak berkesudahan tentang mereka.”
Bagiku, guru tak pernah lelah untuk memberikan semua ilmunya. Ilmu itulah yang kelak akan kami ramu jadi senjata masa depan. Tanpa guru, aku bukan siapa-siapa dan tidak akan menjadi berarti. Guru adalah orang tua kedua bagiku. Tempatku mencari ilmu dan tempatku belajar bersosialisasi.
***
“Woi..!!! Mengelamun lagi.” Bentak Erika,
“Ah, kamu ni, bikin kaget saja!” Jawabku kesal.
“Enjel, kamu harus tahu. Sebentar lagi, sekolah kita akan mengadakan acara hari guru! Siapa guru favoritmu di sekolah ini?” Tanya Erika.
Dengan wajah gusar, aku tak menghiraukan pertanyaan Erika. Aku hanya diam saja. Sebenarnya diamku semacam aktivitas berpikir mengenai guru idolaku. Ingi kusergah Erika, bel tanda masuk jam pelajaran pertama berbunyi. Aku lalu urungkan saja.
Selama pembelajaran, pertanyaan Erika tersebut sangat mengganggu pikiranku. Mengiang-ngiang di sanubariku. Bahkan, sapaan guru kubalasa datar. Aku merasa sedang melamun. Dan memang itu yang kurasakan selama pembelajaran.
Sepanjang lamunan, aku teringat sosok guru yang selama ini memotivasi hidupku. Guru itu bernama ibu Maria Bunda. Di sekolah, teman-teman memanggilnya demikian. Persis nama, Bunda Maria, Ibu Yesus, saudari kandung St. Elisabeth.
Pikiranku masih menembus lamunan ruamgam kelas. Aku baru sadar, ternyata Guru pelajaran di kelasku ini adalah guru yang ada dalam lamunanku. Pikiraku lantas menggelayut. Aku kaget dan seolah di saat namaku dipanggil olehnya.
Setelah kuselidiki, wanita yang memanggilku berasal dari kota Ende. Kota Ende adalah tempat persinggahan presiden pertama RI, Soekarno. Ia adalah sosok guru yang selalu kunantikan kehadirannya. Banyak sekali kata-kata motivasi yang selalu disampaikannya.
Kata-kata motivasi itu sangat berguna bagiku dan bagi semua teman-temanku. Kadang, aku berpikir bahwa motivasi yang diberikan itu adalah jalan untuk mempersiapkan masa depanku dan teman-temanku.
“Apakah kamu bisa menjadi orang yang sukses dan bermanfaat bagi banyak orang?” Kalimat itu yang selalu kuingat darinya. Kata-kata itulah yang membuatku seelalu belajar mengintropeksi diri.
Orang yang dikatakan fisiknya tidak sempurna suatu saat bisa menjadi orang yang sukses. Kuncinya, semangat menolak menyerah. Kenapa aku yang dikatakan fisik yang cukup sempurna tidak mau berusaha dan berjuang malah hanya bisa menyerah dengan keadaan? Dalam lamunan, aku mencoba merenungi semua kata kata yang di ucapkan dari ibu Bunda itu.
***
“Enjel... Enjel...Enjel...” Erika berkali-kali memanggilku dengan nada tinggi. Sepertinya ia masih menuntutku untuk menjawab pertanyaannya. Aku pun tersadar dari hayalanku dan melihatnya sambil berkata, “Ada apa? Kenapa kau memanggilku?” sanggahku sedikit berbisik.
“Siapa guru favoritmu? Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi.”
“Oh soal itu. guru favoritku itu ibu Bunda.” Jawabku singkat.
“Sudah kuduga. Ternyata pilihan kita sama.” Jawab Erika sambil tersenyum melihatku.
Aku memerhatikan dengan saksama gerak-gerik ibu bunda di hadapanku. Ia meraih remot untuk menyalahkan infocus yang tergelantung menyerupai kalong. Tampilan laptop yang terpancar di layar mencerahkan mataku. Kami semua dengan saksama mengarahkan pandangan ke layar infocus.
Setelah pelajaran berakhir, aku meraih kertas dan menuliskan tanda terima kasihku untuknya. Di lembar kosong, tulisan terbaca demikian:
“Guru itu ibarat lilin. Ia rela terbakar, demi menerangi masa depan anak muridnya. Guru selalu punya cara merawat siswa dan siswinya kelak menjadi orang yang berguna bagi masa nusa dan bangsa.
Walaupun sudah lelah, guru tidak pernah memperlihatkan rasa lelahnya di hadapan murid-muridnya. Karena ia ingin siswanya menjadi orang yang pentang menyerah. Peran guru sangat penting bagi pendidikan siswa dan siswi mereka. Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.”
Aku meletakkan pena di atas lembaran yaang ku tulis itu bersiap untuk menerima pelajaran berikutnya.*
Jadilah yang pertama berkomentar di sini