Detail Opini Siswa

GURUKU, PAHLAWANKU

Sabtu, 5 April 2025 04:49 WIB
  1435 |   -

                                           Virginia Margarita

 

Hai, sobat.. kira-kira ada berapa banyak nama pahlawan yang kamu ketahui?

Pasti ada banya. Saking banyaknya nama-nama pahlawan, kita pun hanya ingat beberapa darinya. Eh gak gitu juga sih! Hahahaha

Dan sadarkah kita, bahwa pada masa kini pahlawan itu ada dimana-mana? Benar? Tentu benar.

Ada banyak pahlawan yang sejatinya ada di dekat kita. Bahkan, mereka mungkin adalah orang yang kita temui, kita sapa dan kita ajak untuk berbincang-bincang setiap hari.

Siapakah pahlawan itu? Salah satunya adalah guruku, gurumu dan guru kita semua. Ini adalah cerita inspiratif tentang guruku pahlawanku.

Hai, Sobat! Biarkan aku menyapamu sobat, sebab barangkali ceritaku dan ceritamu mungkin saja akan saling berpaut dan bertemu dalam kisah yang mungkin saja kita rangkum bersama.

Inilah aku seorang gadis berumur 18 tahun yang mengejar mimpi. Namaku Fifi. Aku  salah satu alumni dari SMPK St. Don Bosco. Sekolahku lebih dikenal dengan nama Smp Don Bosco. SMP-ku adalah salah satu sekolah yang cukup populer di kota Lewoleba, kabupaten Lembata.

Banyak orang tua yang mendaftar anaknya bersekolah di sekolah tersebut karena kualitas dan favoritnya. Mari kita memulai ceritanya sobat. Lepaskan handphone dari genggamanmu. Simak ceritaku sebentar. Atau, kalau kau masih asik jatuh cinta pada handphonemu, simpan ceritaku ini.

Aku masih ingat persis masa-masa penuh emosi itu. Masa aku baru pertama kali mengenakan baju putih biru berdasi dan bertopi. Sebelumnya, seragam nasional untuk pendidikan dasar dipakaikan ibu. Kala itu, aku diminta wajib untuk mengenakan sepatu hitam tanpa ada sedikit pun putih. Itu adalah aturan yang harus dipatuhi. Kewajiban itu harus kupenuhi karena akan jadi bukti bahwa aku benar-benar ingin sekolah.

Aku datang dengan malu-malu. Aku tidak punya teman. Maklum, baru pertama kali masuk sekolah. Waktu itu, aku masih sedih karena ditinggali ibuku dan aku harus tinggal sendiri di asrama.

Mau Bagaimana lagi, kata Ibuku Ia melanjuti “Kamu yang semangat belajar ya, Nak. Ibu tak bisa terus membawamu ke ladang yang jauh. Ibu sudah bilang kepada Guru agar kamu jadi anak bawang.

Aku mana mengerti yang namanya anak bawang. Yang kumengerti hanyalah datang ke sekolah bisa dengan jalan kaki. Terkadang bawa uang jajan, serta tidak boleh terlambat.

Jam 07.15 WITA aku sudah harus tiba di sekolah dan menaruh tas gandeng yang baru saja dibelikan ibuku. Sebenarnya umurku waktu itu barulah 12 tahun. Kata Ibu, aku tidak perlu menangis karna aku sudah besar.

Mulai detik ini, hari-hariku disibukkan dengan aktivitas pergi dan pulang sekolah. Aku tidak pernah lupa untuk membawa buku pelajaran berikut dengan alat tulis. Tapi ada satu hal yang selalu kulupa, yaitu menanyakan kepada Bu Guru tentang anak bawang. Ah sudahlah. Aku juga tidak terlalu peduli kata itu. Yang penting aku bisa bermain dengan teman, sesekali jajan ketika jam istirahat tiba dan pulang sekolah untuk istirahat.

Tanpa kusadari, aku sudah memasuki semester kedua. Saat di kelas tujuh, aku baru tahu kalau aku itu tidak mampu dalam bidang olahraga. Sedangkan, teman-temanku lancar. Sedangkan aku? Rol depan masih tidak bisa. Kayang masih tidak bisa. Aku orangnya tidak suka berkeringat, sehingga aku malas melakukan apapun. Aku lebih suka tidur dan membaca komik atau menonton anime. Hehehe

Walau pun begitu, semangatku waktu itu tak kian surut. Soalnya Bu Guru begitu perhatian kepadaku. Sebagai seorang guru kelas, beliau dengan sabar mengajariku melakukan rol depan, belakang, kayang dan lain-lain. Di sisi yang sama, semakin bertambah hari aku semakin lancar melakukan hal-hal yang diajarkan oleh guruku.

Semua upaya sudah kulakukan, tapi setidaknya aku sudah sedikit berkembang. Nyaris dua bulan sudah berlalu sejak peristiwa hari itu. Sekarang aku sedang deg-deg-an menanti rapor. Aku sudah yakin bahwa aku tidak akan mendapat peringkat, bahkan 10 besar. Tapi entah mengapa, aku begitu semangat.

Sesaat setelah menerima rapor, dinyatakan “Naik ke Kelas II”. Walaupun nilai di bidang olahraga tidak mendukung, tapi setidaknya aku sudah bisa melakukan apa yang diajarkan oleh guruku

Bu Guru benar-benar pahlawanku, pahlawan yang tulus dan rela mengorbankan waktunya demi mengajariku. Beliau benar-benar sosok pahlawan yang sabar dan senantiasa mendukungku. Dalam ketulusan hati ini, aku hanya bisa berucap, “Terima kasih, Guruku”. Engkaulah Pahlawanku.


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini