Detail Opini Siswa

KASIH SAYANG IBU

Sabtu, 5 April 2025 04:49 WIB
  509 |   -

 

                                                                          

                                                                                     Ghebry Michella

 

 Aku dilahirkan dengan nama panggilan Tania. Aku hanyalah gadis biasa yang hdiup sederhana bersama ibuku. Tak ada kemewahan dalam hidup kami. 

Aku menyayangi ibu, tetapi ibuku lebih menyayangi aku dengan sepenuh hati. Ibu adalah penyemangatku. Ia menerima keluh-kesah, suka duka, dan semua yang ada pada diriku. 

Dialah perempuan yang telah melahirkanku dan merawatku dengan penuh kasih sayang sampai aku dewasa. Hatinya selembut sutera dan air matanya tertahan kuat bagai embun subuh yang membasahi dedaunan. 

Hari itu, tidak seperti biasa ibu duduk melamun seperti biasanya. Tatapannya kosong. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Aku menghampirinya dengan hati-hati. Siapa tahu aku mengganggu waktunya.

“Ibu! Ibu sedang memikirka apa? Mari kita makan sama-sama.” Kataku sambil memeluk mesra pundak ibu.

“Makanan sudah siap di meja. Mari kita makan sama-sama.” Kataku memohon.

“Ibu masih kenyang.” Kata ibu datar.

“Kenapa Ibu tidak mau makan bersamaku?” Tanyaku mencela.

Beberapa saat kemudian, aku melihat ibu menuju ke meja makan. Ia menuangkan air lalu meminumnya. Sementara itu, makanan masih di meja makan tanpa terjamah. Aku membatin sambil menitihkan air mata. “Bu, Tania tahu mama belum makan jadi mama minum banyak air untuk mengganjal perut.” 

Aku menghabiskan makanan kepunyaanku. Terlihat ibu bergegas kembali ke dapur dan menyiapkan makan malam. Setelah menghabiskan makanan, aku kembali belajar.

Keesokan pagi, aku menjalani rutinitas sebelum ke sekolah. Aku menyiapkan diri. Setelah semuanya beres, aku bergegas mencari ibu untuk berpamitan. Aku melihat ibu di sekeliling rumah, tetapi tidak ada. Aku masuk kembali ke kamar dan melihat ibu masih terbaring lemah di tempat tidur. 

Aku meraba badan ibu sambil menanyakan keadaanya. Ibu hanya menjawab baik-baik saja. Ia pun meraih dompet yang ditindisnya dengan bantal kepalanya. Ia memberiku beberapa uang untuk jajan di sekolah.

Selama dalam perjalanan, pikiranku hanya tertuju pada ibu. Aku mulai khawatir dengan keadaannya. Bagaimana dengan keadaan ibu? Jangan sampai terjadi sesuatu pada ibu. Kaalau ibu kenapa-kenapa, siapa yang melihatnya?

Hari itu, aku berniat tidak mengikuti pelajaran dan pulang untuk menjaga ibu di rumah. Namun, aku masih memikirkan masa depan yang sudah kujanjikan pada ibu. 

                                                                                          ***

Sepulang sekolah, aku tak menghiraukan teman-teman sepermainanku. Aku berlari kecil menuju rumah.  Di rumah, aku melihat ibu masih terbaring lemah di tempat tidurnya. 

“Bu, ayo kita ke dokter.” Kataku pada ibu sambil memijat-mijat tangan ibu.

“Tidak apa-apa, Nak. Ibu baik-baik saja.” Kata ibu dengan suara lemah.

“Ibu jangan khawatir. Aku punya uang tabungan yang bisa kita pakai ke dokter.” Kataku sembari memberi kekuatan pada ibu. 

Aku melihat mata ibu berkaca-kaca. Ia berusaha menahan air matanya dengan sekuat tenaga. Ibu meramas tanganku kuat-kuat.  Aku berusaha untuk membujuk ibu agar kami bisa ke dokter untuk memeriksa keadaannya. Setelah beberapa saat, ibu menggangguk tanda setuju. Kami bersiap dan seger ke dokter.

Sepulangnya kami dari dokter, aku menyimpan obat dan hasil pemeriksaannya aku sembunyikan dari ibu. Aku takut, nanti kalau ibu melihat pasti keadaan ibu tambah parah. Sejak itu, seluruh perhatianku aku pusatkan pada ibu dan perjuangan untuk masa depanku tak kan kusia-siakan. Aku mulai merawat ibu dengan sepenuh hati supaya ibu bisa sehat kembali. 

Pelukan hangatnya mengajarkan aku tentang arti sebuah kasih sayang. Karena itu, kini tiba giliranku untuk merawat ibu. Sejak ibu sakit-sakitan dan kondisinya mulai membaik, aku merenungkan tentang arti kebohongan ibu yang selama ini dikatakan kepadaku. Ia rela menahan lapar demi aku bisa makan setelah pulang sekolah. 

“Bu, Maafkan aku. Aku belum bia membahagiakan ibu. Aku akan berusaha untuk menjadi orang sukses dan bisa membuat ibu bahagia.” Kataku dengan doa yang kurampungkan dalam kata amin dan tanda kemenangan. Ibu sudah terlelap sedari tadi. Aku melihat matanya lamat-lamat, lalu mencium keningnya. Aku pun tertidur di samping ibu. 


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini