Detail Opini Siswa

KEPUTUSAN TINA

Jumat, 4 April 2025 10:58 WIB
  58 |   -

                                   Ifen Perada

                                    XII MIA-I

 

Aku tahu tindakan ku ini salah tapi biarkan lah aku menjawab panggilannya..

Vaustina Elisabeth atau kerap disapa Tina, seorang gadis muda berasal dari keluarga yang cukup mapan. Tina merupakan seorang putri tunggal dalam keluarganya. Ia sangat disayangi oleh kedua orang tuanya. Tina juga dikenal sebagai sosok gadis muda yang aktif dalam semua kegiatan Gereja, dan  taat kepada Tuhan.

Malam menjelang, setelah membantu ibunya memasak di dapur dan menyajikan semua masakan, Tina mulai makan malam. Di tengah kehikmatan dan keheningan, ayah Tina mulai angkat bicara. "Tina, anakku, setelah tamat SMA ini, ayah dan ibu berkeinginan agar kamu bisa masuk di Universitas Kedokteran. Nilai-nilaimu bagus”.       

     "Benar kata ayah, sayang. Ibu  juga berkeinginan seperti itu”, sambung Ibunya. Saat mendengarkan perkataan orang tuanya raut wajah Tina seketika berubah. "Minta maaf ayah dan ibu, Tina tidak berkeinginan masuk Universitas Kedokteran. Tina ingin sekali menjadi seorang biarawati", jawab Tina.

 Mendengar jawaban Tina sontak saja ayahnya tidak setuju dengan hal tersebut. "Tidak Tina. Ayah tidak mengizinkanmu. Kamu tahu, Tina adalah anak satu-satunya dalam keluarga ini. Ayah dan ibu tidak akan menyetujui keinginan kamu ini", ayah Tina menggerutu.

 Kejadian di meja makan itu berlalu satu jam yang lalu. Tina tengah duduk termenung dalam kamarnya dan memikirkan tentang perkataan orang tuanya tadi. Tina begitu dilanda rasa bingung untuk memilih dan rasa tidak tega pada orang tuanya. Lama berpikir akhirnya Tina memutuskan untuk menyetujui keinginan orang tuanya.

Keesokan paginya, sebelum berangkat sekolah, Tina kembali membicarakan hal semalam kepada orang tuanya. Ia setuju mengikuti kehendak ayah dan ibu. Mendengar keputusan Tina, senyum lebar langsung terukir di wajah orang tuanya

             5 bulan berlalu...

Tina sudah menyelesaikan pendidikan menengah selama 3 tahun. Kini waktunya Tina berangkat  ke Yogyakarta untuk kuliah. Selamat sampai tujuan, Tina. Ayah dan ibu pasti akan sangat merindukanmu. Hati-hati selama dalam perjalanan. Tuhan memberkati” kata ibub Tina sambil memberi tanda salib di kening putri semata wayangnya.

”Ia ibu,  Tina pasti akan berhati-hati. Pastinya Tina juga akan merindukan kalian”, balas Tina. Namun di balik semua perkataan itu Tina telah membulatkan tekadnya untuk menjadi seorang biarawati. Setelah berpamitan, Tina naik pesawat meninggalkan kedua orang tuanya.

3 bulan sudah Tina berada di Yogyakarta.

Ketika hari itu, orang tua Tina menelponnya. “Malam sayang, bagaimana dengan kuliahmu?, tanya ayah Tina. Dengan gelagapan Tina menjawab, “i..iyaAyah. Ku...ku liah Tina aman.Dari jawaban ini, padahal jelas-jelas kalau Tina sedang berbohong. Mendengar jawaban putrinya ayah Tina merasa lega dan senang. Kemudian mereka kembali melanjutkan perbincangan seperti biasa.

4 tahun telah berlalu..

Harusnya di tahun ini Tina wisuda. Orang tuanya tidak mendapatkan kabar apapun dari putri sematawayang mereka. Dengan perasaan khawatir akhirnya orang tua Tina memutuskan untuk menelpon anaknya. Tina mengangkat telponnya. Tina mengatakan bulan depan ia akan pulang dan akan meceritakan segalanya.

 Mendengar pernyataan Tina, ayah dan ibu begitu bingung dan khawatir. Satu bulan berlalu. Tina kembali ke kampung halamannya. Perasaan Tina begitu campur aduk.  Antara takut, gelisah, dan sedih jika orang tuanya tahu jikalau ia sekarang sudah menjadi seorang biarawati. Ia telah mewujudkan impian tapi bagaimana dengan orang tuanya.

 Apakah mereka akan marah? Memakinya atau bahkan mengusirnya? Ia mulai mengumpulkan semua keberanian. Selagi ia selalu bersama Tuhan, semuanya bisa ia lewati. Tinaberdiri di depan pintu. Ia perlahan mengangkat tangan dan mengetuk pintu. Pintu terbuka. Orang tuanya berada tepat di depan pintu.

Mereka melihat Tina dengan berpakaian putih bersih dan kepalanya mengenakan kerudung. Tina tidak bisa menahan lagi air matanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Karena merasa bersalah telah membohongi orang tuanya selama ini. Orang tua Tina memeluk anak kesayangan mereka itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. 

Tina menceritakan semua kejadian yang dialami dari berbohong sampai ia menjadi biarawati. Walaupun orang tuanya merasa kecewa berat ,tetapi merekamenerima semua keputusan Tina. Ayah dan ibunya, percaya bahwa keputusan Tina adalah kehendak Tuhan dan biarkanlah Tina sendiri menjawab panggilan-Nya.

                   


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini