Sri Soviah Benyamin
“Tidak semua orang muslim itu buruk, yang buruk hanayalah isi pikiran manusia.”
Aku dilahirkan dari latar belakang dua agama yang berbeda. Papaku penganut Islam dan Mamaku Katolik. Entahlah, cerita ini harus dimulai dari mana dan harus dilukiskan dengan cara apa, tapi yang jelas aku tak memiliki agama yang pasti sejak kelahiranku hingga aku beranjak kelas enam sekolah dasar. Teman-teman sekelas di sekolah dasar selalu mengejeku. Aku tak peduli. Yang aku tahu, tidak ada agama yang paling baik atau yang paling buruk di dunia ini.
Hari-hariku hidupku selama dua belas tahun tahun yang kujalani kini, mungkin berbeda dengan teman-teman yang lain. Aku selalu menikmatinya karena aku harus membagi waktu dalam sepekan untuk beribadah di dua tempat yang berbeda. Pada hari rabu aku akan mengikuti mengikuti kegiatan (Serikat Kepausan Anak-Anak Misioner) atau SEKAMI, begitulah anak-anak kampung menyebutnya. Pada hari jumad, aku akan mengaji dan sholat di Masjid sedangkan pada hari minggu aku akan pergi bersama mamaku ke Gereja untuk sembahyang.
Aku selalu menikmati hari-hari hidupku. Aku sangat menyukai apa yang kulakukan di setiap pekan dan aku akan bercerita dengan bangga kepada teman-temanku yang beragama Katolik tentang apa saja yang ku lakukan di Masjid dan juga sebaliknya. Terakadang aku bercerita sambil menyombongkan diriku karena yang kutahu hanya aku yang melakukan hal itu. Tidak ada teman atau bahkan satu orang pun di dunia ini yang melakukan atau setidaknya mengikuti kegiatan seperti yang aku lakukan.
***
Akhir pekan minggu pertama bulan Oktober ini benar-benar menjadi musibah yang tak terduga buatku. Tak sengaja aku mendengar percakan kedua orangtuaku tentang agama apa yang harus dianut oleh anak-anak mereka. Mereka tidak egois. Tidak ada silang pendapat yang berlebihan dalam pembicaraan mereka.
“Bagaimana, Pak? Anak-anak kita sudah 17 tahun. Mereka harus memilih Agama mereka masing-masing yang ingin dianut. Kita tidak boleh memaksakan mereka, Pak.” Kata mama sambil melihat ke arah Papa. Papa tidak menjawab apa-apa. Ia terdiam sesaat.
Raut wajah papa tidak seperti biasanya. Ada kata yang tertahan dibenaknya yang tak mampu ia ucapkan pada mama. Sepertinya papa tidak menerima ungkapan ibu. Ia tak mau kalau anak-anaknya dibilang kafir oleh teman-temannya.
Kali ini, raut muka papa sudah datar. Ia memberanikan diri untuk menyampaikan pada mama. “Aku mau mereka memilih agama mereka masing-masing, Mah. Tapi boleh gak kalau mereka milih agama islam?” Katanya dengan hati-hati. Ia melanjutkan “Atau gini saja, Mak, kalau tidak semua, aku hanya ingin satu dari ketiga putrinya ikut dengan aku menganut Agama Islam.” Ibu terdia. Ibu tak mengatakan apa-apa. Melihat ibu tak mengatakan apa-apa, papa melanjutkan, “tapi kalau anak-anak mereka tak mau, gak apa-apa juga kok. Ibu masih tak menjawab apa-apa.
Melihat mama tak mengatakan apa-apa, papa memutuskan untuk memanggil kami, anak-anak mereka dan menanyakan secara langsung kepada kami.
***
Setelah makan malam, suasana di meja makan itu hening. Tak ada pembicaraan. Kami masing-masing lebih asyik dengan hanphone di tangan kami. Sepertinya kami lebih asyik untuk berkomunikasi dengan barang mati ini ketimbang raga yang duduk di hadapan kami.
Setelah mengecek beberapa pesan yang masuk di handphonenya, papa memecah kesunyiam. “Jadi gini, papa dan mama mau tanya ke kalian. Kalian sekarang sudah dewasa. Jadi, untuk mempermudah nanti mengurus administrasi kependudukan dan lain-lain, kalian harus memilih agama.” Aku menyaksikan raut muka papa yang tidak biasa. Mendengar perkataan itu, dalam hatiku, aku lebih memilih untuk ikut mama.
Di hadapan papa, mama, kakak dan adikku, dengan berani aku mengatakan aku lebih memilih untuk ikut mama. Kakak dan adikku pun menyampaikan sama seperti yang ku ucapkan.
“Apa betul, apa kamu sungguh-sungguh,apakah itu keinginan yang murni dari hati? Papa tidak mau kalau kalian sudah dibaptis baru nanti mau masuk Islam lagi.” Nada suara ayah sedikit meninggi. “Agama itu bukan mainan jadi coba pikir baik-baik lagi.” Setelah papa berkata seperti itu,kami bertiga pun memikirkannya dengan lebih baik lagi, sedangkan papa dan mama pergi menghadap Pastor dan berdiskusi tentang semuanya.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini