Paulina Arini Kuna
Di sudut kota yang semakin sepi, aku mencoba menerka bayangmu. Tergambar wajahmu pada genangan air yang mengalir.
Semua orang akan selalu berusaha menjalani hidupnya. Walau beribu-ribu masalah yang datang menghampiri, mereka tetap tegar. Sama halnya denganku. Aku selalu menantikan momen-momen indah dan menyenangkan yang akan terjadi dalam hidupku. Salah satunya hujan. Entah mengapa setiap butir-butir hujan yang turun seakan melukis kembali kisah yang dulu telah pudar.
***
Pagi ini, aku kembali ke sekolah setelah sebulan penuh aku menyesuaikan diri di kota ini. Ya, aku adalah siswa pindahan. Kami sekeluarga pindah ke sini karena pekerjaan Papa yang dipindahtugaskan ke daerah ini.
Cuaca pagi ini kurang bersahabat. Baru selangkah aku meninggalkan rumah, hujan sudah turun sangat deras. Papa amenelpon temannya untuk menjemput kami di rumah. Kurang dari 10 menit perjalanan aku pun sampai di sekolah. Hujan saat itu masih cukup deras. Untungnya di situ ada pos satpam, sehingga aku bisa berteduh sedikit untuk menunggu hujan agak redah.
Seorang perempuan datang ke arahku dengan kondisi pakaian yang sedikit kuyup. Ia tersenyum ke arah ku dan memperkenalkan dirinya.
“Lani.” Katanya setelah menyodorkan tangannya untuk bersalaman denganku.
Ya, namanya Lani. Dengan postur tubuh yang tinggi dan kulit sawo matang. Terukir garis senyum di bibir. Bagiku Lani adalah orang yang ramah dan mudah akrab untuk orang-orang yang baru ia temui.
Selang beberapa menit, hujan sudah mulai redah. Lani mengajakku untuk bergegas ke kelas. Karena kami berdua sudah sangat terlambat. Tak ada lagi pembicaraan antara kami berdua selama menuju ke kelas. Kami berlari menerobos genangan air hujan. Kami berpisah karena kelas kami berbeda.
“Huft.... Aku sangat menyayangkan hal itu. Karena aku ingin lebih akrab dengannya.” Kataku kesal sebelum masuk ke ruangan kelas.
Waktu pelajaran akhirnya selesai. Bel pulang sekolah pun berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas. Aku pulang dengan rasa sedikit sedih.
Hari pertamaku di sekolah berjalan lancar. Semuanya sangat ramah dan baik kepadaku. Tapi bagiku tidak ada yang seperti Lani. Entah mengapa aku hanya ingin bersama Lani. Duduk berbicara, dan bercerita banyak hal layaknya seorang sahabat. Suatu kali, harapanku tak sesuai kenyataan. Seharian penuh waktuku di sekolah aku tak bertemu dengannya.
Sewaktu perjalanan menuju ke gerbang, kurasakan tangan dingin yang menyentuhku. Perasaan tiba-tiba berubah arah. Aku merasa seperti baru bertemu dengan sahabat lamaku. Senang sekali.
"Hai Luna..." sapanya dengan ramah.
" H-ha..... " Balasku dengan sedikit gugup. Karena walaupun aku merasa sangat senang, tetapi tetap saja dia orang asing yang baru aku temui tadi pagi.
Kami berjalan bersama-sama sampai ke gerbang. Dan kami pun berpisah di gerbang setelah berpamitan dan saling melambai tangan.
***
Pulang melewati pinggiran kota . Banyak daun kering terbawa angin dan jatuh. Jalanan kota yang lenggang. Hanya beberapa saja yang melintas menembus pekat. Pikiranku masih tertuju pada Lani. Seorang teman yang baru aku temui tadi pagi. Singkatnya pertemuan tak membuatku merasa asing.
Tak hanya pagi, siang pun cuaca tak begitu bersahabat. Langit mulai menjatuhkan butir-butir airnya. Pikiranku tiba-tiba tertuju lagi kepada Lani. Kucoba menerka apa yang dia lakukan kalau hujan kini. Apakah ia menegur secangkir teh hangat sambil memandangi hujan dari balik jendelanya? Atau sedang terbaring di balik selimut hangatnya. Aku berusaha untuk masuk ke dalam dunia Lani.
***
Kring.... kring..... kring...
Alarmku berbunyi membangunkanku dari lamunan mimpi sesaat.
"Oh, astaga. Apa yang aku mimpikan semalam? Mendapat teman baru? Haha, lucunya." Ucapku setengah sadar. Perlahan aku melangkahkan kaki keluar dan mendengar suara yang tak asing lagi ditelingaku.
"Lun. Ayo cepat bersiap ke sekolah. Ini hari pertamamu loh. Jangan sampai terlambat, karena cuaca lagi mendung. Takutnya kamu sama papa terjebak hujan," kata mama setengah berteriak.
" Iya ma," ucapku juga sembari berteriak dan bergegas ke kamar mandi memulai ritual mandiku dan berangkat ke sekolah. Setelah usia bersiap, aku langsung menuju ke luar karena sudah di tunggu oleh papa. Tidak lupa bersalaman dengan mama .Ternyata benar kata mama. Cuaca sedang mendung. Tampaknya sedikit lagi akan hujan. Aku dan papa pun buru-buru untuk berangkat.
Setibanya di sekolah, hujan mulai turun. Aku memutuskan berteduh di pos satpam. Seorang perempuan datang ke arahku dengan kondisi pakaian yang sedikit kuyup. Ia tersenyum ke arah ku dan memperkenalkan dirinya.
Lani. Ya, namanya Lani. Dengan postur tubuh yang tinggi dan kulit sawo matang. Terukir garis senyum di bibirnya sembari melihat ke arah ku. Aku teringat sesuatu.
“ Oh Tuhan... Mimpiku semalam? ”
Jadilah yang pertama berkomentar di sini