Antonius Wadan Lazar
Hari minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh kaum rebahan. Setelah enam hari menghabiskan waktu belajar di sekolah, menimba ilmu, atau sekadar bersenda-gurau bersama teman-teman, hari minggu cocok dipakai untuk beristrahat dari aktivitas seperti itu.
Merasakan minggu pagi, tidak seperti pagi-pagi lainnya. Bagiku hari minggu menjadi hari sukacita. Terbebas dari pekerjaan sekolah. Tidak belajar. Tidak mengerjakan tugas. Bisa rebahan. Bisa menyendiri.
Namun, hari minggu kali ini berbeda. Lonceng Gereja terdengar kencang dari menara peraduannya. Aku langsung terjaga. Kaget. Terkesiap. Naluriku sebagai anak rebahan memuncak. Kucoba memandang keluar dari celah ventilasi jendela dengan berat. Bunyi kencang lonceng Gereja, memaksaku bergegas mencari tahu.
Tetiba suara ibu menggerogotiku. Dengan tulusnya, ia memintaku ke Gereja. Ibu tak suka melihatku tidak ke Gereja. Apalagi bermalas-malasan di hari minggu. Baginya hari minggu adalah hari khusus untuk Tuhan. Karena itu, wajib aturannya setiap orang Katolik ke Gereja. Tidak terkecuali, ibu selalu mengingatkanku agar ke Gereja.
Dengan berat hati aku bergegas ke kamar mandi. Sementara di pojok rumah bapak sedang sibuk menyiap diri. Merapikan pakaian Gerejanya. Tampak bapak tidak peduli dengan keadaanku. Barangkali sama dengan ibu, hari minggu adalah hari untuk Tuhan baginya.
***
Setiba dari Gereja, aku menceritakan mimpiku kepada bapak dan ibu saat sarapan. Kuceritakan bahwa, semalam aku terjaga dari tidur lelapku yang panjang karena mimpi buruk. Karena mimpi buruk itu, aku duduk tanpa daya di atas tempat tidurku dengan sisa napas yang masih terengah-engah.
Bapak bertanya, bagaimana alur mimpi burukku. Sambil menancapkan sesendok nasi ke mulut, aku mengisahkan di hadapan bapak dan ibu. Sedikit dramatis memang. Apalagi mimpi buruk terkesan selalu meninggal jejak ketakutan. Bagi yang mengalaminya.
Aku mulai menuturkan mimpiku, bahwa aku seperti berada di salah satu jalan yang tak pernah kutahu. Jalan panjang itu seolah-olah menuntunku untuk terus berjalan meski tak tahu arahnya ke mana. Aku merasakan seolah ada dorongan yang terus memanggilku. Pandanganku mengarah di setiap sudut jalan yang ku susuri. Jalan itu tiba-tiba menjadi gelap.
Aku terperangkap di hutan belantara yang tak pernah kuketahui sebelumnya. Di dalam hutan ini, aku merasakan akar pohon, reranting dan dedaunan merayap masuk ke semuruh tubuhku. Akar pepohonan melilit pada kedua kaki dan tanganku. Daun-daun dan reranting pohon terus menyusup masuk masuk lewat mulit, hidung dan telingaku.
Hanya bola mataku yang terus menyala mengawasi keadaan diriku sendiri dan membangkitkan semangatku. Aku merasakan tubuhku menjadi lemah. Perutku semakin membesar. Dengan kedua tangan dan kaki yang masih terikat pada akar pohon aku tak bisa berbuat apa-apa.
Aku merasakan perutku semakin membesar dan bola mataku tak mampu lagi melihat ujung kakiku. Dalam kegelapan itu, aku merasakan semua keributan yang memekikan telinga. Perutku tiba-tiba meledak memuntahkan semua dedaunan, reranting dan sisa tanah yang membatu, menghancurkan seluruh tubuhku berkeping-keping berserakkan.
***
Dengan nafas yang hampir habis dan erangan penuh ketakutan, aku kaget karena hentakkan kaki bapak. Aku dan ibu kaget. Kami ikut tertawa karena bersamaan dengan akhir ceritaku, bapak menggoda ibu.
Sambil diganggu bapak atas ceritaku tadi, aku membatin. Andai saja semua ini nyata, maka aku tak tahu apa yang bisa aku lakukan. Ibu memanggilku datar. Ibu menyuruhku untuk melupakan mimpi burukku semalam. Ia mengajakku membereskan meja makan. Merapikan semua piringan, senduk, dan gelas kotor.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini