Detail Opini Siswa

NASEHAT YANG MELULUHKAN HATI

Sabtu, 5 April 2025 06:22 WIB
  410 |   -

                                                                   Maria Magdalena Djari Nimanuho

Matahari mulai memancarkan cahayanya di sisi timur langit biru. Cahayanya menyinari seisi jagat dan memantul lewat pepohonan. Cahaya juga menembus masuk lewat celah-celah reranting dan dedaunan hijau yang rimbun. Burung-burung berkicau ria menyambut pagi yang cerah ini. Dari kejauhan terlihat seorang gadis berjalan dengan santai sambil bersenandung penuh penghayatan.

Nanda adalah murid yang selalu datang ke sekolah tepat waktu. Kerena jarak dari rumah ke sekolah yang jauh membuat ia harus datang lebih awal. Hari itu, seperti biasa ia berjalan sambil melihat pemandangan yang sama. Pemandangan itu tak berubah sedikitpun.

Ia selalu menikmatinya dengan girang. Setelah tiba di sekolah, ia menyusuri lorong kelas yang sepi dan hening. Ruang guru dan ruang kelas masih tertutup rapat. Belum ada aktivitas apa pun di sekolah ini. Malam masih memendam teduh pada sekolahnya.

Nanda sampai di kelas. Ia membuka jendela lalu duduk dan membaca buku. Hanya ia sendiri dalam keheningan menikmati pagi yang teduh itu. Satu per satu teman-teman, bapak ibu guru, dan para frater mulai berdatangan.

 Bel tanda masuk kelas pun berbunyi. Doa pagi dimulai. Semua siswa dan siswi mengikuti doa dengan tenang. Selesai berdoa, dilanjutkan jam perwalian.

Ibu Hana memasuki kelas XI IPS B. Ia langsung disambut dengan salam oleh Nanda dan teman temannya. Ibu Hana adalah wali kelas sekaligus guru favorit Nanda. Beliau sangat sabar dalam menjelaskan materi dan juga menghadapi berbagai tingkah laku anak walinya.

“Selamat pagi anak-anak...” Sapa bu Hana saat memasuki kelas.

“Selamat pagi ibu.” Jawab murid-muridnya dengan semangat.

“Hari ini siapa saja yang tidak hadir?” Tanya ibu Hana kepada murid-muridnya. Pertanyaan ibu Hana paling pertama ditujukan kepada anak walinya karena beliau merupakan orang yang sangat teliti mengenai kehadiran anak muridnya.

“Tidak ada, bu. Semuanya hadir.” jawab murid-muridnya serempak.

“Oke bagus. Tetap pertahankan ya anak-anak.” Kata bu Hana.

“ iya ibu.” Jawab muridnya.

Setelah selesai jam perwalian, pelajaran pertama di kelas pun dimulai. Namun hari itu guru yang mengajar tidak masuk karena sakit, sehingga Nanda dan teman-temannya ditugaskan belajar mandiri di perpustakaan. Saat hendak meninggalkan ruang kelas, kedua teman Nanda bernama Randy dan Andy tiba-tiba berkelahi dan membuat semua yang tadinya hendak pergi ke perpustakaan menjadi terdiam.

“Woi! Kalau omong mulut tu dijaga ya!” Teriak Randy sambil meunjuk nunjuk Andy dengan tatapan penuh amarah.

“Kamu juga jangan seenaknya kalau bicara!” balas Andy sambil menangkis tangan Randy yang dari tadi menunjuknya.

Nanda yang bertugas sebagai seksi keamanan kelas langsung melerai mereka berdua dan di bawah ke ruangan bu Hana.

Sesampainya di ruangan bu Hana, mereka berdua dipersilakan duduk terlebih dahulu dan menjelaskan apa yang terjadi sampai membuat keributan tersebut.

Dengan muka yang masih kesal, Randy lebih dahulu membuka suara. “Andy mengolok potongan rambut saya, bu. Dia bilang, kalau rambut saya seperti sangkar burung. ” Tambah Randy sambil menatap sinis ke arah Andy.

“Tapi bu, Randy juga mengatakan hal yang lebih menykitkan dari itu. Dia bilang kalau wajah saya jerawatan dan jelek.”

Mendengar perkataan mereka berdua, bu Hana tersenyum sambil memberikan nasihat kepada Randy dan Andy. “Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak ada yang sempurna di dunia ini kecuali Tuhan yang sang pencipta. Kita sebagai sesama manusia harus bisa saling menerima kekurangan masing masing.

Jangan saling menghina maupun merendahkan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Dengan begitu kita dapat menjalani hidup dengan aman dan damai dengan sesama kita. Kita juga makhluk sosial yang hidup saling berdampingan dengan orang lain. Maka dari itu, kalian berdua jangan lagi saling menghina teman sekelas atau sebangku.

Mendengar perkataan bu Hana, keduanya tersadar dan saling memaafkan satu sama lain dan berjanji tidak lagi saling menghina fisik. Nanda yang dari tadi menguping di luar ruangan bu Hana pun ikut senang karena kedua temanya sudah berbaikan.

Guru selalu menyelesaikan masalah anak muridnya dengan kata-kata yang dapat meluluhkan hati. Guru yang baik tidak pernah menegur dengan kekerasan, tetapi selalu menaruh perhatian lebih kepada muridnya.*

                               

 


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini