Nonna Antoni Larasima Itung Beni
Siang itu begitu panas. Pak Nimus menyeka keringat yang sejak tadi bercucuran. Diteguknya air di botol untuk menghilangkan dahaga yang sedari tadi menyerangnya. Masih tersisa satu kelompok lagi yang akan ia kunjungi siang itu. Pak Nimus adalah seorang guru SMA di desa. Pengabdiannya di dunia pendidikan sudah sangat luar biasa. Ia sudah banyak berjasa bagi murid-muridnya di luar sana. Kondisi di era pandemi ini memaksakan dirinya untuk mengajar di tiap-tiap rumah siswa, karena keterbatasan media pembelajaran jarak jauh bagi beberapa siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Tak mau melihat siswanya ketinggalan pelajaran, ia harus mengajar dari rumah ke rumah.
Selang sepuluh menit ia akhirnya sampai juga. Sudah ada sekitar tiga anak sedang menungguinya di depan rumah.
"Selamat siang pak." Ucap mereka serentak.
"Siang juga anak-anak." Jawab pak Nimus sambil duduk di kursi yang sudah dipersiapkan.
"Kenapa hanya kalian bertiga saja? Joni ke mana?" Tanya pak Nimus, sembari mengerutkan dahi tanda kebingungan.
"Dia sepertinya tidak sekolah lagi pak. Orang tuanya menyuruh dia untuk membantu melaut." Jawab Puan, salah satu murid yang ada di situ.
Pak Nimus tampak berpikir sejenak. Kondisi pandemi memang membuat sebagian orang tua murid enggan menyekolahkan anaknya. Banyak orang tua murid memberhentikan pendidikan anaknya untuk dapat membantu mereka bekerja. Sangat disayangkan padahal pendidikan sangat penting di zaman ini. Dahinya berkerut. Pikirannya seperti saling beradu keras.
"Baiklah kita lanjutkan belajar kita hari ini, sebentar baru bapak kunjungi dia."
Setelah selesai mengajar, ia bergegas menuju rumah Joni untuk berbicara dengan orang tuanya.
"Saya kesini ingin membicarakan perihal Joni, kenapa bapak tidak ingin dia bersekolah lagi?” Tanya pak Nimus membuka pembicaraan.
"Dalam kondisi seperti ini pendapatan kami dari hasil penjualan ikan mengalami penurunan, pak Joni. Jadi, saya sangat mengharapkan dia bisa membantu saya di laut." Kata ayah Joni.
"Tapi sangat disayangkan anak sepintar Joni putus sekolah. Dia sangat berbakat, dan sedikit lagi dia akan segera tamat dari SMA. Apakah bapak tidak ingin dia melanjutkan ke perguruan tinggi?" ucap pak Nimus.
"Saya sangat menginginkan hal itu, tetapi dapat dari mana uang untuk membiayai pendidikannya. Hidup kami sudah pas-pasan." Kata Ayah Joni.
"Joni anak yang pintar. Saya yakin dia bisa dapat beasiswa kalau dia berusaha lebih keras lagi. Saya siap membimbing dia, bapak." Pak Nimus menghela nafas sejenak kemudian lanjut berkata,
"Tidakkah bapak tahu, pak Ridwan yang sekarang hidupnya sudah menjadi lebih mapan, dulu juga berpikiran sama seperti bapak. Anaknya Alan tidak mau ia sekolahkan karena bodoh, tapi ia memikirkan nasihat saya dan lihat, sekarang hidupnya jauh lebih baik ketika anaknya sudah bekerja. Apa bapak mau Joni menjadi nelayan seperti bapak”? Setiap orang butuh perubahan pak".
Mendengar perkataan pak Nimus yang begitu meyakinkan, ayah Joni berpikir sejenak. "Baiklah saya rasa bapak memang benar. Zaman ini sangat keras. Saya juga menginginkan Joni memiliki hidup lebih baik. Saya akan berusaha sebisa saya sampai ia lulus nanti." kata Ayah Joni menyetujui. Pak Nimus menarik napas lega dan segera berpamitan untuk pulang.
***
Di rumah, anak bungsunya Wulan datang menghampirinya. Ia mengatakan ada seorang pria yang datang mencarinya ke rumah dan mengaku sebagai mantan muridnya.
"Siapa anak itu?" pikirnya dalam hati.
Dihampirinya istrinya yang sedang duduk termenung di meja.
"Persediaan makanan kita sedikit lagi habis. Sepertinya kita tidak akan makan apa-apa selain ubi, pak. Dua hari ke depan, minyak dan gula juga pasti akan habis." kata istrinya. Kondisi ekonomi keluarganya memang dibilang masih sangat rendah. Gaji yang ia dapat juga pas-pasan. Begitulah nasib menjadi seorang guru. Dia duduk termenung sembari memikirkan makanan apa yang bisa keluarganya makan beberapa hari kedepan. Uang ditangannya sangatlah sedikit. Gajinya sudah dipakai untuk biaya kuliah kedua anaknya. Sekian lama berpikir diputuskannya untuk meminjam uang di sekolah. Keesokan harinya, saat sedang mengajar dilihatnya Joni sudah hadir di situ. Wajah anak itu sangat ceria dan memancarkan rasa bahagia.
"Baik sekarang kita mulai belajar ew!" kata pak Nimus sambil menepuk bahu Joni. Selesai belajar ia bergegas kembali ke rumah. Dia belum bisa meminjam uang dari sekolah karena kas sekolah sedang kosong.
Sesampainya di rumah anaknya Wulan berlari menghampirinya sambil membawa sebuah amplop sambil berkata “Yah, ini amplop dari om yang kemarin datang mencari Ayah”. Ia melanjutkan sambil menunjuk ke arah teras. “Dan lihat itu Ayah.”
Ia tertegun melihat ke arah yang ditunjuk Wulan. Sekarung beras, mi instan, minyak goreng dan beberapa dos sembako lainnya tertumpuk di situ. Karena penasaran, ia lalu membuka amplop itu siapa tahu ada nama dan alamat pengirimnya. Ketika amplop itu dibuka, didapatinya beberapa lembar uang ratusan ribu dan sepucuk kertas. Dibacanya tulisan yang ada di dalam kertas itu.
“Guruku yang terkasih, jasamu memang tidak dapat kubalas sepenuhnya, tapi sekiranya terimalah dengan tulus pemberian ini. Sekarang hidupku jauh lebih baik berkat jasamu.
Banyak sekali hal yang ingin kuceritakan kepada bapak. Tetapi saya harus segera pergi karena ada pekerjaan yang tidak dapat saya tinggalkan. Oh iya bapak, berkat bapak saya sudah menjadi direktur di perusahaan ternama.
Dari murid yang bapak perjuangkan
Selamat hari guru, Pak.
Hormat saya
Alan
Sejenak air matanya jatuh membayangkan perjuangannya saat-saat membimbing anak itu. Sejenak ia mengingat kembali saat ia mengajar si Alan penulis surat itu.
"Bapak tidak usah memikirkan saya. Lagi pula apa untungnya bagi Bapak. Tidak masalah bukan jika hanya satu siswa yang bodoh. Itu tidak akan merugikan bapak." Pak Nimus terkejut mendengar ocehan anak itu
"Satu atau banyak siswa itu tidak ada hubungannya, tugas guru untuk mengajar siswanya. Satu orang saja juga termasuk siswa. Guru mana pun tidak akan mau ada muridnya yang bodoh." Nada pak Nimus meninggi.
Saat itu, ia sangat berusaha mengajar anak itu. Ia tidak menyerah untuk mengajar sampai anak itu betul-betul paham. Alan yang otaknya kurang mampu pernah diberhentikan orang tuanya untuk bersekolah karena berulang kali tidak naik kelas dan juga malas belajar. Tapi berkat kegigihannya ia berusaha untuk membimbing Alan hingga menyelesaikan sekolahnya.
“Terima kasih Tuhan untuk semua penyelenggaraan-Mu yang agung ini” ucap pak Nimus dengan penuh syukur.
Berhari-hari setelah kejadian itu, kabar menggembirakan datang. Semua anak muridnya lulus Ujian. Joni mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi di kota. Sore itu, semua anak muridnya datang mengunjunginya. Mereka membawa sayur-sayuran, jagung dan buah hasil panen dari kebun milik orang tua mereka.
Tak lupa Joni datang membawa ikan hasil tangkapan ayahnya. Mereka ingin berterima kasih kepada pak Nimus atas jasanya selama ini mengajar mereka dengan susah payah di tengah pandemi. Mereka tahu jasa pak Nimus tidak bisa dibalas dengan apa pun.
Pak Nimus menatap bangga anak muridnya. Walaupun masih panjang jalan yang harus mereka tempuh, tapi setidaknya dia sudah memberikan yang terbaik untuk mereka dengan harapan kelak mereka akan menjadi orang yang berguna bagi sesama.
Seorang guru tidak membiarkan muridnya gagal, mereka akan berusaha agar murid-muridnya berhasil. Pak Nimus tersenyum kecil. Air matanya mengairi pipinya yang cekung. Ia menaruh uang itu kembali ke dalam amplop dan menyeka rambut anaknya yang terurai.***
Jadilah yang pertama berkomentar di sini