Maria Kewa Langoday
Hai, Namaku putri. Aku seorang remaja di bangku kelas sebelas SMA. Saat ini, aku tinggal bersama orang tuaku yang selalu menyayangiku. Mereka memberikan cinta sepenuhnya kepadaku dan aku menerima mereka apa adanya. Keseharianku seperti temen-temanku yang lain.
Setiap hari ke ke sekolah, bermain, dan ke Gereja pada hari minggu. Salah satu hobi yang paling digemari oleh teman-teman dan juga aku sendiri adalah kebiasaan menggosip. Aktivitas menggosip sudah menjadi kebiasaan sehari-hari kami. He..he..he biasalah, kami adalah anak remaja.
Pagi itu, matahari membiaskan cahayanya. Cahaya matahari menyala masuk melewati ventilasi rumah sampai membangunkanku. Panggilan ibu dari dapur menambah rasa jengkelku. Ah, rasanya aku tak mau bangun.
Seakan suara ibu seperti guling ini yang menarikku untuk harus bersamanya. Benar, rayuan bantal gulingku berhasil membuatku kembali terlelap.
“Kewa e... Kewa,,,, Hogo keme!” aku terkejut dari rayuan bantal gulingku akibat alaram hidupku memanggil.
Husss, siapa lagi kalau bukan wanita satu-satunya yang kupunyai. Ibu punya senjata cerewet yang siap ia semprotkan kepada siapa saja, apalagi pada anak-anaknya. Suara itu menyemangatiku memulai hari baru. Aku pun bergegas ke kamar mandi untuk membersikan diri terlebih dahulu, setelah itu sarapan pagi dan siap berangkat ke sekolah tidak lupa aku menyalim tangan orang tua ku.
Dengan doa dari ibu dan bekal semangat, Aku berjalan melewati gang kecil dan sempit. Dari kejauhan sudah terlihat gedung putih rumah keduaku “sekolah”. Dengan bersemangat aku berlari kecil menuju ke gedung putih tersebut. Perjalanan kyang kelihatan dekat, tetapi sedikit melelahkan, ahirnya sampai juga.
Tegur sapa dan ucapan salam beriringan antara guru dan siswa yang saling bertemu di koridor sekolah. Pagi itu, ketika hendak masuk kelas, Kornelia, sahabatku sudah menunggu di depan kelas bagai pengawal bupati. Eehhhh presiden. Kami saling bertanya tentang tugas matematika yang diberikan oleh guru kemarin.
“Putri minta tugas matematika, Ima.” Tanya Kornelia.
“Hei, sejak kapan saya kerja tugas matematika.” Jawabku seadanya.
Aku meletakkan tas di atas meja dengan tetap memandang teman-teman yang kebingungan sebab tugas matematika belum dikerjakan semuanya.
“Tugas matematika sudah?” Tanyaku pada Albert teman sebangku yang duduk di depanku.
“Sudah.” Jawab Albert pasti.
Tanpa tahu dan malu, aku memberanikan diri untuk meminta salinan dari Albert. Albert memberikan dengan pamri tetapi dengan omelan.
“Hisss, kebiasaan buruk le...” ucapnya sambil tetap memberiku tugasnya. Segeraku salin secepat mungkin sebelum jam pelajaran pertama dimulai agar aku bisa terbebas dari hukuman guru.
Aku mengembalikan buku tugasnya sambil mengucapkan terima kasih yang tak tulus. Hehehhe... maklumlah. Aku melihat teman-teman yang lain juga dengan aktivitas yang sama menyalin tugas matematika.
Sepertinya, kami semua membenci pelajaran matematika. Masih pagi-pagi juga sudah ketemu rumus baku. Aku berucap malas sambil mengeluarkan catatan dan beberapa buku dari dalam tas.
“Matematika tu lebih baik pagi supaya otak masih segar, ima.” Kata teman di belakangku sambil menusuk punggungku dengan boltpoint.
“Suttttt... pak sudah datang.” kode indah dengan kebiasaannya.
Tubuhnya yang tinggi, hitam dan keriting itu tidak asing lagi bagi kami. Namanya Pak Frans. Dia adalah guru matematika. Umurnya sudah lumayan tua, sekitar 1 tahun lagi ia pensiun.
Mungkin karena sudah tua, banyak teman yang mengabaikan dirinya. Ketika ia mengajar, hanya 1 atau 2 orang yang benar-benar mengikuti dengan baik, yang lainnya sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Ada yang bergosip, ada yang berdandan, dan ada yang tidur di bangku belakang.
Begitu pula denganku. Aku berjalan ke bangku belakang di samping sahabatku kornelia. Kami bersahabat dari bangku SD. Kami berdua sibuk ngerumpi.
“Pulang kita dua pigi pantai ka.” Kataku sedikit berbisik.
“Ayo ka sudah lama sekali kita tidak pesiar.” Ia menjawab dengan hati-hati dan sedikit berbisik.
Entah sudah berapa topik yang kami bahas, mulai dari film terpopuler sampai pada makanan-makanan enak. Jam pelajaran terus berlalu. Dalam kemalasan kami berharap agar jam pelajaran matematika segera berakhir. Aku melirik ke depan, kulihat wajahnya yang keriput dan dahinya yang berkerut dan memerah. Mungkin dia menahan amarah dan kecewa melihat sikap kami namun dia tak berucap sepata kata pun.
“Baiklah anak-anak pelajaran kita sampai disini dulu, apa yang diberikan hari ini kalian belajar ulang dirumah. oke!” Tutur pak Frans.
Kami tersadar dari kesibukan kami masing-masing tanpa mendengar penjelasan dari guru. Kami memasang muka ceria dan senang sambil mengucapkan selamat pada Pak Frans seolah-olah kami sangat antusias mengikuti pelajarannya.
Sebelum benar-benar keluar Dari kelas, ia sempat menoleh ke arah kami dan mengingatkan kami tentang jadwal ujian yang akan terjadi pada dua minggu ke depan.
“Baik Pak.” Jawab kami kompak. Kami mulai kembali dengan obrolan yang tak semstinya dan keributan yang sesungguhnya. Langkah Pak Frans pelan dan menghilang dari pandanganku. Melihatnya hati nurani aku merasa iba, tetapi perbuatanku berbanding terbalik.
Ini bukan pertama kali. Sudah berulang-ulang kami aku melakukan kesalahan bersama teman-temanku. Entah karena apa, memang les matematika membuatku mengantuk, bosan dan malas. Bukan hanya aku, hampir semuanya sama sepertiku.
Bahkan semua tugas yang diberikan tak pernah satu pun aku kerjakan. Aku masih ingat dengan baik, waktu itu aku berlutut di depan kelas karena tak mengerjakan tugas dan pernah bolos pas jam matematika bersama sahabatku kornelia.
***
Saat yang menegangkan bagi semua murid adalah ujian. Pagi itu, seperti biasa ibu membangunkan aku. Mandi, bersiap, makan dan menyalin tangan lalu berangkat. Dalam harapan ibu, ia memesan masa depanku untuk kuperjuangkan, tetapi di sekolah, aku menyia-nyiakan harapan ibu.
Kami duduk dengan rapi dan siap mengikuti ujian hari pertama, terlihat semuanya santai saja karena soal-soalnya tak terlalu menguras tenaga. Kami mengerjakannya dengan saksama dan berharap agar kami bisa mendapatkan nilai yang baik nantinya.
Jam ujian berakhir dan kami pulang dengan perbincangan tentang soal-soal yang sudah kami kerjakan. Ujian Hari kedua berjalan tidak sesuai harapan. Aku merasa panik luar biasa meski tak kuucapkan pada teman-teman.
“Aduh sa deg-degan nih”. Indah berucap dengan muka yang malas.
“Sama. Soal berapa nomor eh?” Tanya lina.
“Santai saja, kawan.” Kataku pendek. Di balik kata santaiku ada ketegangan yang luar biasa, aku panik.
Sebenarnya malam itu aku tak bisa tidur. Ketakutan menyelimutiku. Aku berusaha membongkar semua buku catatan matematika. Namun, apalah daya tak ada satu pun tulisan didalamnya. Mendengarkan saja tidak, apa lagi mencatat. Aku Tidur sambil menangis diatas kasur.
“Tuhan kenapa penyesalan selalu datang terlambat? Kenapa aku begitu bodoh. Ternyata selama ini aku mengabaikan ilmu yang begitu penting dalam hidup. Bagaimana aku bisa hidup tanpa tahu hitungan matematika. Aku bisa dibodohi kapan saja. Tidak, semua ini tak boleh berlanjut aku tak boleh dibodohi, bantu aku kali ini saja Tuhan. Semoga matematika besok berjalan dengan baik.” Aku menunduk sejenak di kursi unian dan mengucapku dalam hati.
Guru pengawas masuk dan mengedar soal serta kertas cakaran. Kutatap soal-soal itu sejenak lalu mulai melihat, beberapa soal diambil dari materi kelas 1 dan 2 jadi masih cukup mudah. Namun, aku yang selama ini mengabaikan terlihat kebingungan. Satu jam berlalu dan aku hanya bisa menjawab 6 soal dari 25 nomor. Keringat dingin mengalir deras dari dahiku, rasanya aku ingin menangis disaat itu. Tak ada cara lain, aku mengkode sahabatku kornelia agar memberikan jawabannya padaku.
“Suttt, suttt bagi jawaban ka, kode ku padanya.” Dia yang peka pun balik berbisik
“Oke sabar,” ku lihat dia merobek kertas dan menulis jawabannya.
Setelah menuliskan jawabannya, ia melemparkan ke arahku dan dengan hati-hati aku menerima dan menyalin semua jawabannya. Bukan hanya aku, semua temaku di kelas memanfaatkan situasi untuk bekerja sama ketika pengawas tak melihat.
Waktu ujian selesai. Aku melangkah penuh penyesalan, mengumpulkan jawaban Dari hasil contekanku.
“Tuhan, maafkan aku kali ini, aku akan berubah.” Ucapku dalam hati dengan penuh penyesalan. Gurupun keluar dan dilanjutkan dengan jam berikutnya hingga hari kedua selesai.
Hari-hari setelah ujian adalah hari yang menyenangkan bagi kami. Hasil ujian pun dibagikan. Aku sedih, dan mengakui nilai buruk karena kesalahanku sendiri. Bahkan nilai 50 itu bukan nilaiku, tapi nilai sahabatku karena contekan darinya.
Aku tak tahu antara menangis atau apa. Aku benar-benar menyesal. Di dalam penyesalan, aku berjanji pada diri sendiri bahwa aku akan lebih giat lagi belajar. Hanya itu yang kutanamkan dalam hati.
Tibalah kini pada hari yang kami tunggu-tunggu. Hari yang penuh menegangkan, pembagian rapor. Aku sengaja tak sekolah karena takut, bapa pergi mengambil rapor. Bapa pasti marah besar kalau tau sikapku. Yah, aku memang salah maka aku akan menanggung resikonya. Aku berbenah.
Tak ada apa-apa yang terjadi setelah bapak pulang mengambil rapor. Aku masih sibuk duduk di beranda rumah dengan tetap memencet tombol hp yang ada ditanganku. Bapak beraktivitas seperti biasa. Setelah makan siang, bapak langsung bergegas ke kebun memberi makan ternak kami. Aku tahu, dari hewan ternak itu kami bisa sekolah dan hidup.
Malam itu, kami makan bersama. Hanya terdengar suara senduk yang sesekali mengenai piring. Pikiran ku kacau. Bapa sama sekali tak menyinggung tentang rapor sekolah membuatku semakin bertanya-tanya.
“Putri.” Suara bapa memecah keheningan.
Jawabku dengan datar dan langsung menunduk. Aku tak berani menatap bapak.
“Kau adalah anak perempuan satu-satunya saja. Sekolah baik-baik agar jadi orang sukses. Tadi bapa Ambil rapor dan ada beberapa nilai yang tidak tuntas. Bapa paham mungkin kau kesulitan. Pesan bapak agar belajar lebih giat lagi”, ucapnya sedikit membuatku lega.
“Iya bapa, ini pelajaran berharga bagi saya, saya tidak mau terus begini, saya tidak ingin terulang di SMA nanti” ucapku membatin.
Pagi itu aku bangun tanpa dipanggil, lalu mandi makan dan berangkat ke sekolah. Kebetulan sekali belum ada teman-tman di kelas, aku yang pertama. Aku masuk dan berhenti di meja paling depan. Bergegeas aku menyimpan tasku dibangkuku dan mengeluarkan buku untuk dibaca.
Beberapa menit berlalu dan teman-teman sudah berdatangan.
“Eh putri kenapa duduk di depan, bukannya tempat dudukmu di belakang?” Tanya ekka
“Masuk tu salam dulu,” jawabku.
“Eh jawab dulu.” sambarnya lagi
“Memangnya kenapa? Ada yang salah?”
“Mimpi apa tadi malam, lagian sebentar les matematika biasanya kau duduk di belakang.”
“Selamat pagi.” Sapa ellsa yang baru datang
“Pagi.”
Eka pergi dan duduk di tempatnya, sedangkan aku kembali fokus dengan buku ku. Kornelia, Albert, dan Ima datang bersamaan, seketika kaget melihat aku yang duduk di depan.
“Putri ko sakit k?” kata ima.
“Saya tidak mimpi to Albert?”
“Putri tidak biasanya ko duduk didepan, dan belajar. Kenapa tiba-tiba berubah? Kau sakit?” Pertanyan mereka membuatku merenung ternyata perilaku burukku selama ini membuat teman-temanku berpikir lain tentang aku. Ketika aku berniat berubah semuanya terasa sulit bahkan membuat merka keheranan.
“Sudah cukup aku bermain. Aku hanya ingin pintar agar tidak dibodohi” kataku dalam hati.
“Aku menyesal telah menyia-nyiakan ilmu selama ini, dan mengabaikan guru sebaik pak frans. Selama ini dia tidak menegur karena dia ingin kita sadar sendiri dan berubah dengan niat bukan paksaan, dia guru yang hebat, dia bahkan sangat sabar menghadapi tingkah laku kami. Diamnya ternyata mempunyai maksud, dan itu terjadi sekarang. Kita masih belum terlambat kawan, mari berubah bersama, menguba kebiasaan lama kita, ingat masa depan kita masih panjang.” Aku merenung semuanya dalam penyesalan.***
Jadilah yang pertama berkomentar di sini