Detail Opini Siswa

PELITA YANG TAK PERNAH REDUP

Sabtu, 5 April 2025 06:38 WIB
  152 |   -

Antonia Febrianti Soba

Jam menunjukkan pukul 05:00 pagi. Rasanya malas sekali beranjak dari kasur. Hawa  dingin seakan mencengkram tubuh mungilku. Aku serasa diajak kembali bermesraan bersama kasur.

“ Ring...ring...ring...”

Aku terkejut dengan mata yang masih kantuk. Pandanganku langsung terarah ke sumber bunyi. Oh, ternyata suara alarm ponselku. Dengan gontai langkahku mematikan alarm itu. Kantukku masih menggelantung.

                                     ***

Semenjak bersekolah, aku sudah bergabung dalam salah satu ekskul jurnalistik. Bersama beberapa teman lainnya, kami bercita-cita menjadi wartawan. Aku mulai menulis naskah. Menyusun ide tulisan. Tidak lupa, aku selalu menatap naskah tulisanku yang belum rampung. Hal ini kulakukan setiap hari. Kurasa, tulisanku jauh dari kata sempurna. Seringkali dibaca, membuatku menghela napas.

Jehan, sahabatku menatap dengan bingung. Tidak biasanya ia melihat aku begini. Dia mengerutkan alis.  Dengan masygul, ia menanyakan keadaanku.

“Jeh, aku kehabisan ide buat tulisanku. Tulisanku tentang budaya membaca hening di sekolah. Tulisannya baru setengah. Aku bingung, bagaimana keanjutannya.Kataku lesu sambil meletakkan pena pada lembaran kertas di atas meja.

Begini saja, aku punya seorang guru pembimbing. Barangkali dia bisa membantumu. Tempatnya memang jauh dari....” Jehan berhenti menjelaskan. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Tak sabar menunggu, aku langsung menyela untuk mendapatkan jawabannya.

“Jauh di mana? Terus kita perginya dengan apa?" Tanyaku risau. Terkadang bingung membuat panik dan risau. Entahlah, saat itu juga adrenalinku seperti memuncak.

“Di Tanjung Galuh. Tenang saja, aku akan menghantarmu dengan mobilku.” Katanya datar tanpa memikirkan perasaanku. Jehan mulai menenangkan aku dengan kata-kata akrabnya.

“Memangnya siapa gurumu itu?” Sergapku mendesaknya agar segera memberi jawabannya. Sepertinya aku tak sabar lagi untuk segera bertemu dengan gurunya Jehan itu

“Pak Elton.” Jawabnya singkat.

                                     ***

Keesokan harinya tepat pukul 15.00 WITA, kami tiba di kompleks perumahan Tanjung Galuh. Kami berhenti di depan rumah sederhana. Rumah itu ttanpa kemewahan berlebihan dan eksteriornya tertata rapi. Rasanya damai berada di sekitar rumah tersebut. Rasa gugupku perlahan menghilang.

“Selamat sore, Pak. Saya Samuel, teman Jehan. Saya ingin bertemu bapak. Meminta bantuan bapak membimbing saya  dalam menulis."

Pria paruh baya itu tersenyum hangat mendengar permintaanku. Senyumnya tidak berubah. Ia sangat tulus menyambutku. Air mukanya terpancar memberi harapan kalau dirinya bersedia membingku.

Ia langsung mempersilakan kami duduk. Kami berbagi cerita seadanya tentang perjuangan kami. Kami duduk saling berhadapan di atas tempat duduk yang terbuat dari bambu.

“Pak Elton, maaf sebelumnya. Muridmu ini sudah lupa akan dirimu, Pak. Ternyata bapak pernah mengajar pelajaran di sekolah kami. Aku lupa, Pak mengajar di kelas berapa?" Tanyaku malu.

Ya, aku serasa orang kalah perang. Sebuah perasaan yang sangat tak enak tentunya. Kenangan masa SD mungkin tertumpuk sekian ratus ribu memori lain yang telah begitu deras menerpa. Entalah, mungkin chispet yang menyimpan memori tersebut ikut hancur berkeping-keping setelah terjatuh ke dalam jurang ingatan.

Sebagian dari diriku bahkan sempat merutuk kesal kepada Jehan. Namun sebagian lain membuatku malu karena aku lupa akan Pak Elton. Jangankan beliau beberapa guru lain juga aku lupa. Apalagi aku jarang, mungkin juga tak pernah bertemu dengan mereka.

Kehidupan pula yang menempatkanku untuk pintar memakai topeng dan bermanis muka, seolah kenyataan adalah sebuah fiksi dengan lakon drama panggung yang aku jalani. Maka demikianlah sembari berpura-pura bermuka manis, ku coba menutupi kenyataan yang diakui sang batin, "Aku lupa Pak Elton."

“Pak Elton, lama tak berjumpa. Tambah awet muda Pak El,” sapaku sambil berulur salam menyambut sosok pria paruh baya yang menghampiriku. Jujur aku lupa dan hanya menebak-nebak saja bahwa beliau adalah Pak Elton.

Beliau mengenakan baju kaos putih dan celana jeans pendek. Raut wajahnya terlihat cerah dengan pandangan teduh. Dengan pamor aura kawibawaan nan lembut yang perlahan membuatku membuka-buka memori lama.

"Hahaha... Samuel. Duh maaf ya, sudah lama tak bertemu.”

Tidak Pak, saantai aja. Toh, hanya mau bertemu bapak saja," jawabku sambil beruluh salam santun.

Sebuah sikap yang refleks keluar dari diriku tanpaku sadari. Aku sendiri terkejut, mungkin separuh aku sudah menyadari hubungan guru dan murid kepada beliau.

“ Mari duduk dulu!” Katanya dengan lembut. Suara itu yang mengingatkan aku tentang kelembutan dan keteduhan sosoknya ketika masih di kelas dahulu. Kami berbicara banyak hal dan aku menyimak dengan saksama. Ia mengoreksi tulisanku dan memberi masukan satu per satu dari tulisan mentahanku sendiri.

                                       ***

Senin, pukul 06.30 pagi aku berangkat ke sekolah. Di jalan, aku masih mencoba merangkai memori kenangan masa-masa di Sekolah Dasar bersama pak Elton.

“Ah... ke sudut mana kenangan itu berada? Hidupku bergerak laksana jetcooster.”

Bagaimana Sam, tulisannya? Selamat ya, akhirnya kamu bisa selesaikan tulisanmu itu.” Sapaan Ibu Lili membubarkan ingatanku.

“Puji Tuhan, Bu. Akhirnya selesai juga.” sahutku dengan senyum senang.

Setelah Bu Lili memeriksa tulisanku, kemudian kami saling bertukar cerita mengenai pengalaman masing-masing tentang tulisan. Dari Bu Lili, aku bisa tahu banyak penjelasan mengenai coretan pada kanvas putih dan kisah-kisah indah di dalamnya.

“Kau tahu nak? Dari sekian banyak siswa, kamulah yang paling ibu banggakan.”

“Ahh.. Bu Lili terlalu meninggikan. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan yang lain Bu. Banyak yang lebih hebat menulis selain aku.” Sahutku sambil mencoba berpikir keras.

“Benar, nak. Menurut ibu, bukan hanya prestasi yang patut dibanggakan tapi juga bagaimana kamu bisa menjadi orang yang rendah hati. Menjadi orang yang rendah hati itu tidak mudah. Orang zaman sekarang cenderung silau oleh pencapaian karir dan sebagainya.

Namun, lupa bagaimana menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang bisa memanusiakan manusia lain dan menjadi pemuda-pemudi tangguh yang bijak di negeri ini. lbu Salut dengan siswa seperti kamu yang menghargai kami para guru. Masih mengingat akar di mana kalian dibesarkan dan bagaimana berada didalam masyarakat.”

Jujur aku kaget mendengar perkataan bu Lili.

Perlahan aku mulai mengingat sosok pak Elton yang dulu pernah mengajar bahasa Indonesia semasa aku SD. Pelajaran gampang yang aku sepelehkan. Ternyata Guru tetaplah seorang Guru.

“Kau tahu, nak? Di kelas ibu mengajar bahasa Indonesia. Namun sembari mengajar kurikulum, ibu juga menyelipkan proses menjadi manusia yang baik dengan pelajaran bahasa Indonesia sebagai alatnya. Sering ibu ceritakan mengenai dharma baik kakak-kakak alumni kalian di kelas.

 Tentang bagaimana mereka bersatu membantu sesama alumni yang mengalami kesulitan. Tentang bagaimana mereka membentuk dana swadaya abadi buat kemanusiaan. Serta bagaimana perhatian mereka kepada adik-adik tingkat yang masih menjalani pendidikan disekolah saat ini.” Kata-kata itu terus keluar dari mulut Bu Lili sambil ia meremas-remas kertas coretanku.

Aku semakin terdiam memikirkan ucapan ibu Lili. Hatiku yang membatu seolah runtuh ke dalam jurang gelap. Seolah apa yang aku banggakan dan aku takutkan menjadi tak berarti. Seolah dicabut dari sebuah pemikiran yang salah seketika.

“Tahukah kau nak, kalau kakak-kakak alumni kalian adalah contoh yang ideal dalam membangun karakter adik-adik tingkat mereka?”

Aku hanya bisa tersenyum pahit mendengar beliau bercerita. Benar-benar seperti ditampar keras dengan sebuah kelembutan. Sebuah pujian yang laksana belati menyayat ketidaksadaranku. Kemudian membuka mataku agar menjadi orang yang lebih baik, besok dan dimulai saat ini.

“Bahkan kepada Fami, putri ibu semata wayang. Ibu menyatakan hal yang sama."

Sejam sudah berlalu, percakapanku dengan bu Lili berlarut tanpa menyadari bahwa waktu berjalan dengan cepat.

“Hidup itu naik turun nak, nikmat dan cobaan hanya warna dalam hidup saja. Jangan putus asa dan tetaplah semangat. Tak apa sekali-sekali kita jatuh, terpuruk atau kalah, itu biasa dalam kehidupan. Menang, kalah, pertemuan, perpisahan, terpuruk dan bangkit, sebenarnya hal yang wajar dalam hidup. Namun yang pasti, jangan pernah menyerah untuk bangkit dan berjuang, nak.”

Ya, benar kata Bu Lili barusan. Naik turun kehidupan itu hal yang biasa, hanya perlu disikapi dengan bijak. Kemudian aku berpisah dengan Bu Lili. Aku ke kelas dan Bu Lili ke ruang guru.

Ketika sampai di kelas, aku melihat gelak tawa dan senyum akrab mewarnai damainya suasana. Di sana-sini bertebaran hawa motivasi dan penyemangatan untuk bersabar dan kuat bertarung di antara ganasnya samudera kehidupan.

“Demikianlah kurikulum sudah habis disampaikan, tapi pelita kehidupan yang kalian bawa ternyata tak pernah redup. Terima kasih wahai bapak dan ibu guru.”

 

 


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini