Detail Opini Siswa

PENYESALAN TERAKHIR

Sabtu, 5 April 2025 04:52 WIB
  41 |   -

                                                                                      Droste Maria

 

“Oca berhenti!” Aku terhenti karena suara itu.

"Iya Ibu" sahutku sambil menoleh ke arah suara itu.

“Oca, besok  setelah selesai pulang sekolah, kita ada pertemuan ya. Besok Oca masuk shift berapa?

"Shift siang, ibu."

“Kalau begitu, besok bawah bekal dan air minum. Kita langsung mulai setelah shift siang.

“Oh iya Ibu, Siap Bu.”

                                                                                     ***

Obrolan di atas terjadi di jumat pagi. Karena pandemi, pembelajaran di sekolah berlangsung secara terbatas untuk menghindari penyebaran covid-19. Percakapan itu pulalah yang membangkitkan semangat belajarku. Bagaimana tidak, ibu guru cantik dan lembut itu selalu membimbing kami dalam perlombaan di tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional.

Kami juga punya grup belajar. Grup yang dibimbing oleh guru bahasa Indonesia itu diberi nama Peserta Persiapan Lomba. Bersama dia, beberapa siswa pernah mengharumkan nama sekolah di tingkat propinsi.

Aku sendiri memang belum pernah mendapatkan kesempatan itu. Aku hanya selalu bersyukur, sebab aku masih bersama dengannya dalam pelajaran bahasa Indonesia.

Percakapan singkat jumat pagi itu masih terekam kuat dalam ingatanku dan terbenam ke dalam benakku. Percakapan itu juga yang memicuku untuk bersiap mengukir kisah bersamanya.

Langkah kupercepat menuju ke ruangan kelas. Aku mengumpulkan seluruh tenagaku bersiap menaiki anak tangga menuju lantai dua. Kelasku terletak di lantai dua gedung sekolah. Sesampainya di depan kelas aku menghentikan langkahku dan menarik nafas dalam-dalam menikmati suasana pagi dengan kicauan burung di halaman sekolah. Aku menarik nafas legah.

Pandanganku, kuarahkan sepenuhnya pada gambar Yohanes Don Bosco, santo pelindung sekolahku. Setiap hari, pandanganku selalu saja ditujuk padanya. Aku merasakan semangat St. Don Bosco bernyala-nyala di hidupku.

Setelah beberapa saat menikmati pagi yang teduh dari lantai atas, aku bergegas menuju ruangan kelas. Aku mengetuk pintu dan memberi salam pada teman-teman yaang sudah lebih dahulu masuk .

Setelah memberi salam, aku langsung menuju ke tempat dudukku dan meletakkan tas di atas meja. Teman-teman yang lainnya saling berbagi cerita, entah apa yang mereka kisahkan. Aku selalu senang setiap kali bertemu dengan mereka. Setelah meletakkan tas, mengeluarkan buku dan menaruhnya di dalam laci meja dan siap untuk menulis tentang ilmu yang kudapat hari ini.

                                    ***

Lonceng pulang sekolah pun berbunyi pertanda semua jam pelajaran hari ini sudah berakhir. Dalam hatiku, ada perasaan senang dan bahagia karena bisa kembali ke rumah setelah mendapatkan asupan ilmu dari para pendidikku. Begitu banyak hal yang ku dapatkan hari ini. Marah, tertawa, bersalah dan bahagia kulalui hari ini walaupun waktu hanya berputar 2 jam untuk aku dan teman temanku menghabiskan hari bersama.

Aku pun terus berjalan melewati koridor, menuruni anak tangga sambil berjalan perlahan-lahan menuju pintu gerbang. Dari kejauhan, bapak selalu setia menunggu untuk menjemputku. Kadangkala, ketika bapak terlambat akulah yang menunggu. Kebanyakkan bapaklah yang selalu setia menungguku kalau aku terhalang oleh  tugas tambahan di sekolah.

Namun, hari itu bapak terlambay. Di depan gerbang, bapak belum tampak. Rupanya bapak belum datang menjemputku. Dengan senang hati aku siap menunggu kedatangan bapak. Di pintu gerbang sekolah, tidak hanya aku sendiri yang menunggu jemputan. Ada juga seorang teman yang menunggu jemputannya. Di tempat ini pula kami saling bertukar cerita dengan teman-teman. 

Dari kejauhan, terdengar bunyi motor khas bapak. Itu pasti motor bapak, aku membatin. Tak lama berselang, dengan motor tuanya bapak pandangan bapak terhenti di depan pintu gerbang. Aku bergegas menaiki motor butut bapak. Aku berpamitan dan meninggalkan Mala, teman obrolan depan gerbang.

Jalan demi jalan kami lalui bersama. Bapak adalah sang konduktor terbaikku. Bapak memulai berbicara di tengah keheningan.

“Oca lapar tidak? Kita makan dulu?”, tanya bapa.

“Ai, Bapa ada uang?” Sahutku.

“Ada, Oca. Kamu mau makan apa?”

“Ai, tidak Bapa, kita langsung pulang saja.” Aku mengerti perasaan bapak. Aku khawatir bila uang itu dikeluarkan untuk makan di warung. Di rumah, mama pasti sudah menunggu dengan masakan seadanya. Kami menikmati bersama walau tidak seistimewa hidangan di warung.

Akhirnya, sampai di rumah. Aku menarik nafas legah bersaman bapak mematikan motornya.  Aku pun langsung turun, lalu beristirahat sejenak di pelataran rumahku. Setelah istirahat sejenak, aku langsung bergegas masuk. Mengganti baju. Membantu ibu menyiapkan makan siang.

                                                                                     ***

Pagi yang cerah datang lagi. Hari baru memanggilku untuk bangun dan siap untuk berangkat ke sekolah hari ini. Aku teringat bahwa selepas sekolah akan diadakan pertemuan para peserta persiapan lomba di sekolah

 Aku pun langsung menuju ke dapur dan  mengambil bekal dan air minum yang sudah disiapkan ibu. Seperti biasa, bersama dengan bapak aku siap menempuh jarak yang begitu jauh.

 Namun, jarak rumah hingga sekolah terasa lebih dekat karena bapak bersedia menuturkan cerita-ceritanya. Cerita dan dialog panjang itu akhirnya terhenti karena ternyata kendaraan bapak sudah sampai di sekolah. Aku  lalu menyalim tangannya.

Sesampainya di depan kelas aku memandangi gambar serupa kemarin, St. Yohanes Don Bosco. Terpandang, ia seperti sedang menyebar senyumnya untukku.  Di kelas, aku lalu membuka tas dan mengambil buku.  Menaruhnya di dalam laci meja, kemudian mengambil satu buku kegiatan materi pembelajaran.

Aku sedang berada di shift pagi, yakni 09.50. Pembelajaran berjalan normal hingga pulang. Aku pun teringat kembali dengan pikiranku pagi tadi,  Hari ini ada pertemuan!

“Ohhh syukur saya ingat kalau tidak maka  saya jalan terus ini.” Aku bergumam pelan dalam hati.

Aku pun bergegas menuju ke taman di perpustakaan. Di area itu tempat pertemuan kami.

“Oca,dari tadi kah?”

“Ibu, barusan Bu.”

“Teman lain?”

“Belum datang Ibu.”

Kegiatan hari ini diadakan, ternyata karena ada perlombaan yang membutuhkan banyak peserta dari masing-masing peserta setiap kategori lomba yang dilombakan. Ada satu lomba yang aku rasa sangat menarik dan aku yakin, aku bisa melaksanakannya.

"Oca bisa tulis esai? Ini ibu kasih contoh kaka kelas punya lalu buat, e Oca!" Pinta ibu Santi.

“Baik ibu, Oca coba buat duluh nanti konsultasi ke Ibu lagi.”

“Semuanya, ibu tunggu samapi bulan depan harus sudah selesai, karena cukup sulit e teman teman.” Pesan ibu Santi.

“Baik Ibu.” Sahut kami serempak.

Aku sangat senang karena aku bisa mengikuti perlombaan ini dan siap untuk mengerjakannya. Hari itu, aku dan teman teman pulang dengan hati yang gembira karena kami bisa di percaya untuk mengikuti perlombaan ini dengan peran kami masing-masing.

                                                                                 ***

Sejak pertemuan hari itu, hari-hari hidupku hanya disibukkan dengan kegiatan membuat esay. Aku hanya punya satu tekad, yaitu bisa mejadi yang terbaik dalam perlombaan ini. Aku terus mencoba merangkakan kata demi kata, menjadi kalimat, namun aku tak bisa. Yang ada adalah coretan-coretan tanpa makna yang hanya ku sobek satu per satu. Aku sama sekali  tidak bisa mendapatkan hasil yang baik dalam merangkai kata. Aku selalu salah dan tak ada inspirasi yang masuk dalam pikiranku. Di tengah kebuntuan pikiran itu, aku sengaja mengganggu mama supaya ia bisa membantuku. Akhirnya, malam itu aku hanya menghabiskan waktu bersama mama dan bercerita perihal masalah yang akan dituliskan dalam esay ini.

Hari pengumpul pun tiba. Pagi itu, aku dibangunkan mama untuk bergegas ke Sekolah. Saat ingin menyalim tangan mama, mama memberikan sesuatu kepada aku yaitu buku tulis yang berisi essai yang mama buat untuk aku. Aku pun langsung mengucapkan terimakasih banyak untuk mama dan berangkat ke sekolah.

Di sekolah, setelah jam pelajaran selesai, aku pun langsung bergegas menuju ke taman perpustakaan. Dalam kesendirian itu, aku membaca kembali essai yang mama tulis untuk aku. Tak lamaa berselang, Ibu Santi dan Pak Okto selaku pendamping serta teman-teman akhirnya datang dan kami langsung memulai  pertemuan.

Jantung aku berdetak dengan cepat akan menunggu giliran pemeriksaan Essai kami.

“Oca...” Nama ku di panggil dan aku pun langsung membasuh muka dengan tangan sambil menuju ke  Ibu Santi.

“Ibu... Ini Oca punya essai, Oca baru selesaikan bagian pembahasan nya ibu dan masih dalam bentuk teori.” Kataku datar.

“Oca juga minta bantuan mama untuk membantu memberikan pikiran untuk tulisan ini, bu.” Kataku malu.

Aku terpaksah berbohong kepada Ibu Santi dan Pak Okto tentang essai yang aku bahwa ini. Aku ingin berkata jujur, namun aku juga malu mengakui bahwa itu ada tulisan mama.

Setelah selesai di lihat oleh Ibu Santi, respon ibu hanya mengangguk dan terdiam. Aku pun langsung merasa, pasti ibu mara. Aku dan teman-teman akhirnya duduk dan  mendengarkan penjelasan dari Ibu dan Pak Okto.

"Oke baik, untuk yang belum selesai, Ibu tunggu hari Jumat tanggal sepuluh, Ibu butuh orang yang bertanggung jawab, nak!"

Mendengar hal itu, aku langsung merasa ada yang tertolong dari dalam diri ku yang sedang di dalam penjara gelisah dan malu. Namun kalimat terakhir membuat ku sangat merasa malu dan bersalah. Aku pun langsung mengucapkan terimakasih banyak kepada Ibu Santi dan Pak Okto lalu pamit kepada Ibu dan pak guru dan langsung berjalan pulang dengan rasa bersalah yang besar.

Dalam perjalanan pulang ku aku hanya memikirkan kata-kata dari Ibu Santi. Namun aku binggung bagimana menyelesaikan essai tersebut. Hanya satu Ucapan yang bisa ku ucapkan untuk Ibu Santi adalah terima kasih.

Sejak pertemuan siang itu, aku mulai membulatkan tekad untuk harus mampu menulis. Hanya itu tekadku. Aku menyelesaikan tulisanku seadanya. Setelah selesai, aku langsung mengirimkannya ke Ibu Santi. Aku menarik nafas dalam-dalam dan mencoba untuk tenang setelah itu aku mengirimkan tulisanku.

Pengiriman itu, besoknya aku langsung menemui Ibu Santi.  Aku pun menarik nafas dalam-dalam sebelum melangkah masuk ke ruangan guru. 

"Selamat pagi Ibu, Pak guru...”

“Oca...” Saut Ibu Santi.

Sepertinya ibu Santi sudah membaca tulisan yang aku kirimkan. Aku melihat raut mukanya mengisyaratka sesuatu yang tak mengenakkan.

“Oca... Oca menyerah saja e. Soalnya hanya sedikit saja tulisan Oca. Kalau Oca mau sambung maka takutnya jadi beban untuk Oca. Tidak apa Oca...” kata ibu Santi datar.

Aku terdiam. Setelah mengucapkan terima kasih, aku berpamitan dengannya. Aku tersentak terdiam karena ini. Namun, aku sangat senang karena senjata tajam yang ku harapkan akhirnya datang juga untuk diri ku yang bodoh ini. Aku tidak bisa bicara lebih banyak lagi dan hanya mengucapkan terima kasih untuk Ibu Santi dan Pak Okto yang duduk bersebelahan. Aku melangkah perlahan-lahar ke luar setelah berpamitan dengan mereka.

“Oca... tunggu!”

"Ini ada lomba menulis berita. Nanti ade ikut yang ini saja suapya bisa lanjut untuk menulis. Pak guru sudah bagikan di group tinggal Oca baca dan ikuti semua persyaratannya." kata Pak Okto.

"Baik Pak guru. Oca siap Pak.” Kataku semakin percaya diri.

Aku terdiam dan sangat bersyukur atas apa yang Aku terima hari ini. Apakah ini menjadi panggilan bagiku untuk mulai menulis lagi, lagi dan lagi? Kesempatan itu datang lagi,  dan aku sangat bahagia untuk mengerjakannya.

Siang itu, sejak pulang dari sekolah, aku membuka  pesan whatsApp dalam smartphoneku untuk melihat informasi perlombaan tersebut. Aku berfokus pada satu group dalam WhatsApp itu. Group Jurnalistik, salah satu grup yang membahas kegiatan ekskul di sekolah kami sangat ramai bak para penjual yang sedang menawarkan barang nya pada raja dan ratu yang datang. Namun keramaian ini seperti sebuah Ucapan Selamat pada seseorang.

Aku pun mencoba membuka dengan hati yang berdebar-debar dan ternyata, itu adalah ucapak selamat kepada maran yang berhasil menjuarai lomba di tingkat propinsi.

"Conratulate Maran...”

“Selamat e Maran, ...”

“Selamat buat teman kita Maran, akan keberhasilan yang dicapai."

Berbagi emoji penyemangat dan ucapan selamat di berikan oleh teman teman dan Pak Okto.

Aku sendiri merasa binggung, sebenarnya ada apa ini.

Aku mencoba melihat dan membaca lagi, ternyata Maran teman sebaya ku meraih juara 3 lomba menulis berita dari seluruh NTT. Lomba inilah yang di berikan Pak Okto untuk aku. Aku hanya terdiam dan hanya bisa melihat.

"Terimakasih banyak Maran. Selamat Maran..." Tulisku pendek pada obrolan whatsap grup jurnaalistik kami.


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini