Detail Opini Siswa

PERJUANGAN

Sabtu, 5 April 2025 04:46 WIB
  47 |   -

Maria Rosasio P. Bayo

Mentari pagi mulai muncul di ufuk timur. Angin berhembus menerpa pepohonan di luar rumah. Detak jam dinding terus melaju menunjukkan pukul 06.30 pagi. Seisi rumah itu tampak hening. Hanya seorang ibu yang dalam diam tabah menanak nasi dan mempersiapkan bekal untuk suami serta untuk anak-anaknya.

Pagi itu setelah menyelesaikan tugasnya di dapur, ibu harus membangunkan anaknya untuk ke sekolah. Begitulah kebiasaan ibu setiap pagi.

Doni, siswa SMA itu masih lelap di atas kasur. Ia lupa kalau hari ini adalah jadwal ujian akhir Karya Tulis Ilmiah (KTI). Sebagai siswa, memang ia harus menerima tugas dan tanggung jawab akademisnya ini. Namun dalam hatinya, ia sangat membenci tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Salah satunya tugas akhir KTI.

Doni memang sudah terkenal di sekolahnya sebagai anak yang pemalas dan tidak terlalu pintar. Semua teman-teman dan guru di sekolahnya tahu. Saat teman-temanya sudah hampir habis menyelesaikan tugas mereka, ia masih bingung dalam menentukan judul KTI. Padahal, batas pengumpulan tinggal seminggu lagi. Ia benar- benar frustasi. Apalagi, ditengarai ketidaksukaan Doni kepada Pak Olah yang adalah guru pembimbingnya. 

                                                                                                     ***

“Hai.. Doni, kenapa lihat-lihat ke belakang? Kamu mau nyontek?” Bentak pak Olah pada Doni saat ulangan Bahasa Indonesia.

“Tidak Pak. Saya mau ambil pensil saya yang jatuh.”

“Alasan saja kamu. Berikan jawabanmu ke saya!”

Tanpa berpikir panjang, pak Olah merobek lembar jawaban Doni. Doni hanya diam menyaksikan aksi dramatis gurunya itu tanpa suara.

“Pak kenapa jawaban saya dirobek?” Ujar Doni gagap.

“Saya lebih menghargai nilai jelek hasil karya sendiri daripada yang bagus karena hasil nyontek.” Bentak pak Olah dengan nada menasehati.

“Tapi, pak. Saya hanya mau mengambil pensil saya yang jatuh pak.”

Terus yang di depan kamu itu apa? Cangkul?”

“Kamu itu bodoh atau dungu?” Kata pak Olah dengan nada tinggi.

Doni hanya tertunduk diam mendengarkan kata-kata menohok yang keluar dari mulut guru yang dibencinya itu Doni keluar dengan menghentakkan kaki dengan keras dan membanting pintu dengan keras. Usai ujian itu, Doni mendapatkan nilai buruk. Nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia Doni bisa dibilang jelek dibadingkan dengan nilai teman-temannya yang lain.

                                                                                               ***

Doni berangkat sekolah dengan tergesa-gesa karena waktu sudah menunjukka pukul 7.00 kurang 15 menit. Sesampainya di sekolah, ia langsung memarkirkan motornya dan bergrgas menuju ke ruang kelasnya.

Astaga! Jam pelajaran pertama adalah les Bahasa Indonesia. Ia berhenti sejenak sambil memikirkan roster pelajaran hari itu. Langkanya yang semula secepat kilat seketika berubah lambat. Keinginannya untuk bolos pada jam pertama yang telah direncanakannya berubah gagal seketika. Di koridor, ia langsung berpapasan dengan pak Olah di lorong meuju ruang kelas. Sial! Ia mengumpat sambil menundukkan kepalanya.

“Selamat pagi pak.” Sapa Doni dengan nada ketus.

“Pagi, nak.”

Kemudian, ia segera berjalan cepat menuju ruang kelas agar. Ia menghindar dari Pak Olah  karena tidak ingin diinterogasi lebih lanjut lagi tentang karya tulisnya yang belum tuntas. Ia hanya berusaha untuk lolos dari jebakan KTI karena ia belum mengerjakan tugasnya itu.

“Jangan lupa karya tulismu!” Suara pak Olah  seolah-olah mengantarkannya menuju ruangan kelas.

Sesaat setelah bel istirahar berbunyi, Doni bertemu dengan sahabatnya di kantin. Ia menceritakan masalah KTI yang belum juga ia kerjakan. Dari pertemuan itu, Doni mendapat ide konyol dari sahabanya, yaitu menyuruh Doni untuk meng-copy paste latar belakang karya tulisnya dari internet.

Awalnya, Pak Olah sempat ragu karna takut ketahuan dan pastinya akan mendapat ocehan dari guru pembimbingnya yang keras itu  Namun, karna waktu yang mepet maka ia terpaksa mengikuti ide sahabatnya itu.

Setelah pulang sekolah, Doni langsung berkuat dengan karya tulisnya. Ia sama sekali tidak membayangkan akan menulis karya tulisnya yang berjudul “Pengaruh Pelajaran Sosiologi Terhadap Kepribadian Siswa”. Karena mendekat deadline, ia terpaksa menulis karena takut tidak lulus. Doni laangsung men-search materi buat karya tulisnya. Ia langsung copas semua isi tulisan di internet dan melakukan sedikit editing agar tidak dicurigai oleh Pak Olah.

Setelah membaca tulisannya, Pak Olah langsung memberi tanda silang pada lembaran pertama. Artinya, tulisan yang ia buat tidak berarti apa-apa.

“Sial!” katanya setelah sampai di ruangan kelas. Doni membanting hasil kerja yang dicoret pak Olah tersebut. Padahal, ia sudah membuka laman paling terkhir agar Pak Olah tidak mencurigainya. Doni tak menyangka kalau Pak Olah bisa seteliti itu.

“Kamu harus tanamkan di dalam diri kamu sikap jujur. Saya tahu kamu tidak suka dengan saya, tetapi apa yang saya lakukan selama ini semata mata hanya untuk kebaikan kamu. Kamu sebenarnya murid yang pandai tetapi sedikit dungu.” Satu kata itulah yang menumbuhkan kebencian Doni dengan Pak Olah.

“Apa kamu marah saya ejek kamu dungu? Atau sakit hati? Mulai hari ini jadikan kata dungu sebagai motivasi diri.”

                                                                                  ***

Sejak pertemuan itu, Doni sudah benar-benar serius dalam mengerjakan karya tulisnya. Tinggal empat hari, Pak Olah memintanya untuk selesai pada hari jumat.

Hari jumat yang mendung telah tiba. Pak Olah tidak masuk sekolah sampai hari sabtu. Doni sudah kelewat kecewa. Ia berani membuang karya tulisnya yang ia jilid dengan rapi di lantai koridor sekolah. Ia merasa tidak dihargai. Ia pun berlari menuju ke kantin untuk sekedar menenangkan pikirannya. Sesampainya di depan kantin ia berseru memanggil pak Olah.

“Pak Olah!” Serunya kaget.

Kayak perempuan saja kamu. Laki laki kok nengis!” kata pak Olah dengan nada mengejek.

“Kok bisa, kata guru-guru bapak tidak masuk sampai hari sabtu?”

“Ia, tapi jumat dan sabtu minggu depan.”

Sekarang Doni jengkel dengan guru gurunya.

“Sekarang, mana karya tulismu?”

Maaf pak, sepertinya jatuh di depn kelas.” Kata Doni langsung pergi dengan semangat mengembil karya tulisnya yang ia buang tadi.

Memang dungu si Doni. Kata Pak Olah dalam hati.

Karya tulis Doni akhirnya diterima oleh Pak Olah. Kemudian ia berulang kali berterima kasih kepada pak Olah. Keesokan harinya, ia menjalani sidang pertanggungjawaban karya tulisnya dengan begitu detail dan meyakinkan. Setelah selesai, ia menemui Pak Olah dan berterima kasih kembali.

“Bapak salut dengan kamu. Berjuang dengan jujur memang sulit tapi kalau dikerjakaan dengan sungguh-sungguh dan ditambah di kejar deadline kamu pasti bisa.” Lanjut pak Olah.

Kemudian ia membuka amplop dan diserahkan ke Pak Olah. Senyumannya mengembang lebar. Ia kemudian memeluk Pak Olah dan meminta maaf atas apa yang dia lakukan selama ini. Pak Olah hanya menatapnya dengan senyuman yang menunjukkan rasa bangga. Doni baru sadar ternyata ocehan Pak Olah selama ini yang ditujukkan untuk memotivasi dirinya agar dapat menyelesaikan KTI dengan baik.*

 

 

 

                                                       


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini