Sri Soviah Benyamin
Pagi ini, semua terbangun lebih lambat kecuali aku dan Syarif. Semuanya segera bergegas menyiapkan perlengkapan mereka untuk melawan para tentara sekutu nanti. Kulihat keletihan telah sirna dari wajah mereka digantikan dengan semangat juang tinggi untuk membebaskan bumi Surabaya. Meskipun mungkin tidak seluruh kota di Indonesia yang akan terbebas, setidaknya kami memberi pelajaran
"Hari ini, 10 November, adalah puncak perjuangan kita. Meskipun darah telah tumpah, air mata sakit mengalir dari bola mata, meskipun kaki susah untuk melangkah, tapi hari ini, kita kerahkan seluruh tenaga yang kita punya untuk membela tanah air kita, tumpah darah kita, mengabdi untuk satu negara, Indonesia! Merdeka!" Serunya lantang mengobarkan semangat kami.
"Merdeka!" Jawab kami dengan semangat yang berkobar-kobar. Mereka pun bergerak cepat. Berjalan menyusuri jalan setapak yang hanya kami yang tahu.
"Amir, kau yakin ingin pergi?" Syarif menahan lenganku sejenak. Menatapku dalam-dalam. Itu membuktikan bahwa bantahannya mulai goyah. Aku tersenyum tulus padanya.
"Ayolah. Masih banyak yang harus kita lakukan. Apa kau tidak dengar apa yang diucapkan kapten kita? Aku masih bisa berjuang Syarif. Dan aku takkan mundur satu langkah pun sampai aku benar-benar tak mampu untuk bangkit lagi." Yakinku. Syarif menghela napas.
"Baiklah. Aku percaya padamu. Dan kalau sampai kauambruk dengan cepat, aku takkan memaafkanmu," Jawabnya mengalah. Aku mengangguk. Kami mengayunkan langkah kaki dengan pasti mengikuti langkah pejuang yang lainnya.
Sebenarnya, luka ini hanyalah sebuah luka yang biasa didapatkan ketika perang terjadi. Hujatan peluru, sabetan pedang, dan luka yang lainnya. Hanya saja, kemarin luka-luka itu menyerang organ vital. Membuat badan ini kehilangan indra perasanya sejenak. Sakit? Tentu saja. Tapi luka ini takkan mengalihkan langkahku. Justru luka ini akan kujadikan pelajaran. Bahwa aku harus lebih hati-hati lagi.
"Untuk Indonesia, seraaaanngg!!!" seru Hanif yang berada di barisan depan.
Untuk tanah airku, takkan kubiarkan badan ini istirahat barang sejenak. Karena Indonesiaku tak pernah istirahat untuk bertahan pada perang. Hari ini, 10 November, aku kan berjuang dengan seluruh tenaga yang kupunya. Dan berharap, di masa anak cucu kami nanti, penjajahan tak lagi menyandera mereka. Para penerus kami dengan bangga mengatakan bahwa Indonesia.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini