Modesta Kewa
Ini aku, seorang gadis berumur 16 tahun yang sedang mengejar mimpi. Inilah aku dengan segala kekuranganku, dengan segala kerendahan hatiku. Dengarkanlah kisahku.
Saat ini, aku sedang berada di SMAS Frater Don Bosco Lewoleba, sebuah sekolah yang terletak di timur kota Lewoleba. Hari-hari yang aku jalani di sekolah ini terasa sangat menyenagkan. Apalagi, wali kelasku saat ini adalah seorang ibu. Tubuhnya langsing dengan segala kemolekannya. Potongan rambut rata bahu adalah ciri kahasnya. Ia termasuk salah satu guru muda di sekolahku ini. Beliau adalah seorang guru yang ahli dalam menceritakan tentang masa lalu Indonesia.
***
Di dalam kelas, tampak tiga orang remaja laki-laki lagi memegang hp di tangan mereka. Mereka seperti sedang memperebutkan dari tangan teman yang lainnya. Sesekali suara mereka terdengar keras sekali. Tawa ria mereka terdengar sampai ke kelas lainnya.
Suara sepatu tanpa hak itu terdengar dengan begitu jelas. Murid-murid yang awalnya ribut seketika kembali ke tempat duduk mereka yang semula. Mereka seperti menandakan gerak langkah dan derak sepatu yang menempel di keramik. Suasana yang ribut tiba-tiba menjadi hening. Secara diam-diam, mereka berpura-pura membaca buku.
Tak lama berselang, langkah itu terhenti tepat di depan kelas. Pintu masih tertutup. Perlahan-lahan Ibu Meri membuka pintu dan memasuki kelas sambil tersenyum dengan manis.
“Hai semua, apa kabar kalian?” Sapanya riang ditambah dengan mimik ramah membuat siswa-siswi kelas XII IPS lantas bersemangat.
“Kabar kami baik ibu.” Jawab semua siswa dengan semangat.
Ibu Meri Bunda meraih spidol yang ada di atas meja guru kemudian mulai menulis di papan. Proses belajar mengajar pun dimulai. Ada beberapa siswa yang tertidur. Biasanya, mereka penghuni kursi bagian belakang. Ibu selalu tidak mempermasalahkan itu.
Asal mereka tidak mengganggu yang lain dan berjanji untuk belajar kembali apa yang telah dipelajari hari ini di rumah. Tidak lupa mengerjakan tugas yang telah diberikan. Salah satu murid tidur dengan sangat pulas di belakang adalah Santoso. Kedua temanya Jesen dan Riko tidak mau lagi mendapatkan hukuman.
“Boleh bangun Santoso?” Pinta ibu Mer membuat mata semua siswa tertuju kepada Santoso. Semuanya sudah tahu apa yang akan terjadi. Riko lekas membangunkan Santoso. Santoso sedikit menggerutu kecil kemudian mata Santoso pun terbuka sedikit.
“Apa si Riko! Mengganggu saja!” Protes santoso. Kepalanya ia balikan ke sebelah kiri agar tidak lagi terganggu lagi oleh Riko dan mendapatkan posisi tidur yang nyaman. Ibu memberi isyarat kepada Riko untuk kembali membangunkan Santoso. Riko mengeti isyarat ibu lalu dengan cepat membangunkan Santoso
“Woi… Santoso, bangun!” teriak Riko tepat di dekat telinga Santoso. Dengan cepat Santoso pun bangun dan mengangkat kepalanya dari meja di ikuti dengan tangannya yang siap memukul Risko. Hampir saja tangan Santoso mendarat di kepala Riko. Teriakan ibu Mery Bunda terlihat menyeramkan saat menghentikan Santoso. Santoso menyusap matanya dan dengan samar-smar memandang ibu Meri.
Bel istirahat pun berbunyi. Ibu Meri mengakhiri pelajarannya dengan doa dan salam. Setelah jam istirahat berakhir, Santoso mengajak kedua temanya untuk bolos sekolah. Kemudian ajakannya itu disetujui oleh kedua temanya. Mereka mengangkat tasnya sebelum guru jam pelajaran berikutnya masuk. Saat hendak berjalan keluar kelas, mereka kedapatan oleh ibu Meri.
Mereka bertiga sangat terkejut setelah menuruni anak tangga dan melewati koridor sekolah. Mereka terkejut, karena tiba-tiba saja yang berdiri di samping mereka adalah orang tua mereka yang datang karena mendapat panggianl dari sekolah karena ulah mereka. Mereka bertiga bingung dan hanya berdiri kaku.
“Mau kemana kalian bertiga?” Tanya ibu Meri Bunda.
“hmm.... ini ibu ehh... itu mau ke toilet.” Jawab mereka bertiga dengan terbatah batah.
“Tapi kenapa sampai bawah tas segala?” tanya ibu sambil menunjuk tas yang mereka bawah itu.
“Mereka mau bolos ibu.” Jawab salah satu murid yang baru saja dari kantin hendak masuk ke kelas. Wajah mereka bertiga seketika menjadi pucat dan tertunduk malu di hadapan ibu dan orang tua mereka.
Akhirnya mereka bertiga dipanggil ke ruang BK bersama orang tua mereka. Kali ini terasa lebih menakutkan dari biasanya karena berhadapan dengan guru BK sekaligus dengan orang tua mereka.
“Kamu kenapa tidur selama jam pelajaran?” Suara terseram ayah Santoso keluar. Santoso hanya bisa tunduk dan terdiam tak berkutik sama sekali.
“Kalau ayah tanya, jawab!” Bentak ayah Santoso. Santoso pun kaget dan langsung mengangkat kepalanya dan menunjukan mukanya yang pucat itu. Santoso memang anak yang sangat nakal. Namun, saat berhadapan dengan orang tuanya, sifat nakalnya seketika hilang.
Ibu Riko yang dari tadi hanya diam lalu menasehati anaknya yang nakal itu dengan kata-kata yang lembut dan pelan. Lalu ibu Riko meraih tangan ibu Meri lalu mengucapkan maaf atas kelakuan anaknya.
“Ibu, bapak saya sebagai wali kelas juga meminta maaf jika bapak dan ibu kecewa karena kami gagal mendidik anak kalian dengan baik. Ini sepenuhnya bukan salah murid. Tentu saja ada peran guru di dalamnya yang salah mendidik. Terima kasih karena telah mempercayai sekolah ini untuk mendidik mereka.”
Santoso, Riko dan Jesen pun meminta maaf kepada ibu guru mereka selaku wali kelas. “Ibu, kami minta maaf karena selama ini selalu melawan dan tidak mendengarkan nasihat nasihat ibu. Kami janji tidak akan melakukan itu lagi dari sekarang.”
Kini ketiga murid itu sadar, bahwa ibu Meri adalah seorang guru yang harus dihormati walaupun sering bercanda dan bergurau dalam kelas. Ibu Meri terharu karena ketiga muridnya yang nakal itu telah berubah. Ada sebuah kebahagiaan tersendiri yang ia rasakan. Benar kata orang, kesabaran pasti akan berbuah manis.*
Jadilah yang pertama berkomentar di sini