Maria Gregoriana Ona
Waktu terus berlalu. Bulan berganti. Hari demi hari juga begitu. Kini tidak terasa, sebentar lagi tanggal 25 november. Dua puluh lima November dimaknai memperingati hari guru.
Guru tidak pernah lelah untuk memberikan semua ilmunya yang kelak akan bermanfaat untuk masa depan kami semua anak-anak mereka. Guru adalah tumpuan kami menaruh harapan pada masa depan. Tanpa guru, kami bukanlah siapa siapa dan tidak akan menjadi apa-apa.
“Woe, lagi pikir apa kamu?” Risna menepuk pundakku dan membuat aku terkejut.
“Apa saja kamu? bikin kaget saja.” Jawabku penuh kekesalan dengan nada sedikit membentak. “Oh iya, sebentar lagi sekolah kita akan memperingati hari guru. Kalau boleh tahu, guru favorit kamu siapa? Tanya Risna dengan tergesa-gesa seolah hendak mendapatkan jawaban dariku.
Sebelum sempat menjawab pertanyaan, bel tanda masuk jam pelajaran dimulai berbunyi. Dari emperan kelas, kami berjalan beriringan masuk ke ruangan kelas. Sepanjang perjalanan itu, aku sedang memikirkan para guru yang menjadi idolaku selama ini.
Di tempat duduk, bangku lipat milik kami masing-masing, pertanyaan itu masih terus mengganggu pikiranku. Ada begitu banyak guru yang muncul di kepalaku seketika aku mengingat semuanya. Dari semuanya, hanya ada satu guru yang mampu menjadi motivasi hidupku.
“Selamat pagi anak anak!” Sapa Ibu Novi menyambut semua pelajar dengan seyuman manisnya. Sapaan itu sudah akrab di telinga kami semua siswa.
“Selamat pagi juga ibu.” Jawab kami serempak dengan penuh semangat.
Ibu Novi adalah guru yang selalu dinantikan kehadiranya oleh banyak siswa. Banyak kata-kata motivasi yang keluar dari mulutnya yang selalu dinanti-nantikan. Banyak motivasi yang selalu ia sampaikan. Motivasi itu yang sangat berguna sekali bagiku dan bagi temanku semua yang ada di kelas ini.
Kadang-kala, aku berpikir apa motivasi hidupku di masa depan nanti. Apakah aku bisa menjadi orang yang sukses dan bermanfaat bagi banyak orang atau tidak? Namun, ketika aku teringat kata-kata yang pernah diucapkan oleh Ibu Novi. Sku mulai belajar untuk mengintrospeksi diri.
Aku ingat persis kata-kata yang pernah diucapkan oleh Ibu Novi, “Banyak orang yang dikatakan fisiknya tidak sempurna saja bisa menjadi orang sukses dan tidak pantang menyerah. Kenapa kalian dikatakan sempurna tidak mau berusaha dan berdoa. Hanya bisa menyerah dengan keadaan.”
Aku mencoba merenungi semua kata kata yang di lontarkan ibu Novi, hingga aku terbawah dalam lamunan yang jauh tak tertempuh.
“Ona... na na!” Risna memanggilku berkali kali dengan nada yang mulai kesal.
“Ada apa Risna? Kenapa kamu teriak teriak?” Kataku sedikit membentak.
“eehhh, pertanyaanku tadi belum dijawab, Ona. Siapa guru favorit kamu?” katanya sambil memelankan nada suaranya. “Ibu Novi.” Kataku datar.
“Dia baik sekali ya Ona?”
“Tentu.” Kataku pendek. Setelah diam sejenak, aku melanjutkan “ ia selalu memotivasi hidupku. Membuatku mengerti kenapa ilmu sangat berguna sekali di masa depan.” Aku menatap Risna dengan seyuman.
***
Guru itu ibarat sebuah lilin yang tidak akan pernah padam. Ia rela terbakar demi menerangi masa depan siswa-siswinya. Guru selalu punya banyak cara agar siswa siswinya kelak menjadi orang yang berguna bagi Nusa dan Bangsa. Walaupun sudah lelah, guru tidak pernah memperlihatkannya kepada siswa-siswinya. Karena guru tidak ingin siswa-siswinya menjadi orang yang mudah menyerah.*
Jadilah yang pertama berkomentar di sini