Detail Opini Siswa

SEPENGGAL KISAHKU

Sabtu, 5 April 2025 04:49 WIB
  43 |   -

Yosep Caritas Maran

Pagi itu, rumahku dipenuhi orang-orang yang datang berbelasungkawa. Rumahku sangat ramai. Tak seperti biasanya. Untuk pertama kalinya aku merasakan kehadiran orang lain di sekitarku.

Aku duduk di samping peti, mengenakan kerudung hitam sambil memegang tisu. Berhadapan denganku, berdiri adik laki-lakiku yang baru berumur satu tahun. Aku tak sanggup, benar-benar tak sanggup dan belum siap dengan kehilangan ini. Kehilangan yang begitu tiba-tiba, seperti meninggalkan luka yang tak dapat diobati. Kesedihan yang begitu mendalam, datang tanpa adanya tanda-tanda, bagaikan petir yang menyambar. Begitu cepat. Sungguh menyakitkan. Di sampingku duduk seorang perempuan renta, dia nenekku, ibu dari ibuku.

Usianya memang sudah tua. Wajahnya menampakkan kesedihan yang sungguh mendalam. Bagaimana tidak, anak semata wayangnya kini terbujur kaku dalam peti. Sebentar lagi menjadi seonggok tanah

Bersebelahan dariku, ayah duduk dengan ekspresi datar. Tidak ada kesedihan terpancar dari wajahnya yang kusam. Tubuh kekarnya tetap tegar, duduk dengan lurus, seolah menjaga wibawa. Di sampingnya, duduk adik perempuanku, Dina. Ia tidak menitihkan air mata, tapi aku bisa membaca kepedihan yang ia rasakan.

Kakinya penuh bekas luka koreng. Dia baru berumur lima tahun, sepuluh tahun lebih muda dariku. Namun, sebagai anak pertama, tugasku adalah menaungi dan menghibur mereka. Aku harus mengantikan posisi ibuku. Memasak, mencuci, menyapu, dan semua pekerjaan rumah lainnya sekarang menjadi tugasku. Aku juga harus melanjutkan usaha keripik yang telah ibu rintis sejak lama.

Tiba lah waktu penguburan. Aku menangis dengan suara keras, berusaha memeluk ibuku untuk terakhir kalinya. Namun, aku ditahan ayah. Begitu keras dia menggenggam lenganku seraya membenamkan kukunya ke dagingku. Dia melotot ke arahku dengan tatapan tajam. Layaknya sedang mengancam.

Jeritanku  memecah keheningan saat peti hendak ditutup. Oh Tuhan, aku kehilangan arah hidupku. Aku merasa seperti ibuku pergi membawa semua kebahagiaan yang pernah ia berikan kepadaku. Aku akan sangat merindukan senyum yang terukir pada wajahnya ketika melihatku dan Dina pulang sekolah. Aku akan merindukan semua nasihatnya, merindukan masakkannya dan merindukan setiap detik yang telah kami lewati bersama.

Peti diarak menuju tempat pemakaman umun. Semua anggota perkabungan berjalan kaki. Ada empat pria dewasa yang memikul peti ibuku. Aku berjalan pelan di belakang mereka sambil memegang foto ibuku. Aku bahkan tidak kuat lagi untuk berjalan. Tenagaku sudah hampir habis. Badanku serasa baru saja dicambuki dengan keras.

Setiap langkah begitu berat menyiksaku. Sandalku yang sudah aus membuat telapak kakiku bisa merasakan kerikil tajam pada jalan setapak tanah menuju pemakaman. Aku tetap memaksakan diri berjalan dengan tegar. Menahan segala rasa sakit yang menggerogoti tubuhku.

Kutahan semua rasa sakit itu sebagai pengabdian terakhirku kepada ibu, sebagai ucapan terima kasih atas segala kebaikannya. Aku tahu, mengantarkan ibuku ke tempat peristirahatan terakhirnya mungkin tidak bisa membalas seluruh kebaikkanya. Namun, tak ada hal lain yang dapat kulakukan. Ayahku bahkan tidak ikut dalam perarakan ini. Kedua adikku juga dilarang untuk ikut.

Aku benci ayahku.

Rombongan tiba di pemakaman. Tubuhku melemah. Aku terjatuh dan cahaya perlahan mulai menghilang.

***

Ibuku pernah bercerita bahwa tujuannya berjualan saat hamil adalah sebagai biaya kelahiranku nanti. Pada saat itu, ayahku hanyalah seorang pengangguran yang tiap hari hanya memuaskan dirinya dengan  minuma keras bersama teman-temannya. Imbasnya, ia selalu pulang dalam keadaan mabuk. Saat itu ibuku belum menikah dengan ayahku. Iya, benar sekali. Ibuku hamil di luar nikah.

“Apa ibu tetap berjualan saat sedang hamil?” tanyaku sambil membantunya memasukan keripik pisang ke dalam kemasan sederhana dari plastik bening yang direkatkan dengan mencairkan kedua sisinya dengan api lilin, lalu disatukan.

“Iya nak, ayahmu tidak bisa diajak bekerja. Dia sungguh malas. Lebih baik ibu mejauhi perdebatan dengan ayahmu. Ia tidak terampil dalam mengendalikan emosi. Ia bahkan tidak segan menyakiti nenekmu. Jauhi dia, semampu yang kamu bisa,” kata ibu sambil mengelus perutnya. Ia sedang mengandung Dina saat itu

Kita juga tidak punya keluarga dekat  yang bisa dimintai tolong, mereka semua mengucilkan ibu dan ayah. Bila kelak ibu telah tiada maka pergi, tinggalkan rumah ini, bawa sisa tabungan ibu.”

Aku menyadari air mata menggenang di kelopak matanya.  Sesaat kami terdiam.

“ Nak, kamu ingat tentang sosok R. A. Kartini? ”

“Iya bu, aku ingat. Seorang wanita yang berkorban banyak untuk memperjuangkan kesetaraan antar kaum pria dan wanita. Seorang perempuan tangguh yang menentang pernyataan bahwa perempuan tidak seharusnya bersekolah. Seorang perempuan yang berjuang mempertahankan kedudukan perempuan dalam masyarakat agar tidak diinjak-injak,” kataku dengan tegas.

 Apakah ibu ingin aku mencontohinya? ”

“Benar nak, ibu ingin suatu hari nanti, kau dapat mendirikan sebuah panti asuhan dan sekolah untuk semua perempuan yang tak dapat bersekolah karena berbagai alasan. Rangkul dan didik mereka seperti ibu mendidikmu dan adik-adikmu untuk tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang ibu lakukan. Jadikan dirimu dan diri mereka pribadi yang berguna bagi negeri ini, sekarang maupun di masa yang akan datang. Ibu akan sangat bahagia jika keinginan ibu ini terwujud,” kata ibu sambil mengelus lembut kepalaku. Pandangan penuh harap itu tertuju padaku.

Jadilah perempuan yang baik. Kuatkan hatimu. Ingat selalu akan Tuhan dalam semua rencanamu,” tambahnya.

“Kenapa harus aku ibu ? Kenapa tidak ibu saja ? ” tanyaku dengan polos.

“Lihat ibu sekarang.” 

Kata-kata singkat yang sulit kupahami saat itu, namun sangat membuatku patah saat ini.

Beliau menasihatiku tentang banyak hal, beliau juga bercerita banyak tentang sosok R. A. Kartini yang ia gemari sejak ia berada di bangku SD. Aku masih terlalu muda saat itu untuk mengerti semua perkataannya. Namun itu hal yang sangat berarti bagiku sekarang.

***

Aku terbangun di sebuah kamar. Tubuhku ditutupi selimut. Aku menyadari, itu selimutku dan ini kamarku. Aku sedikit mengangkat tubuhku, seraya menggunakan sikuku sebagai tumpuan. Kepalaku masih terasa sedikit berat. Matahari menyusup dari jendela yang tepat berada di samping tempat tidurku.

Sebuah keributan membuatku mengangkat tubuhku sedikit lebih tinggi untuk melihat ke luar jendela yang masih tertutup. Ayahku sedang berdebat dengan seorang pria. Suaranya begitu keras dan kasar. Aku melihat ayahku melemparkan sejumlah uang ke arah pria itu dan langsung pergi. Aku memilih kembali berbaring dalam ketenangan kamarku daripada harus memikirkan keributan itu.

Aku hampir hanyut dalam keheningan ketika suara ketukan pintu kembali menarikku ke alam sadarku. Aku membuka mata, menoleh pelan ke arah pintu. Nenekku membuka pintu dengan pelan, berjalan pelan ke arahku. Aku bangun dan menyandarkan tubuhkku pada tembok. Kugunakan bantal sebagai alas. Nenekku perlahan duduk di sampingku.

Dia menatapku begitu dalam. Sesaat kami hanyut dalam kesunyian. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut. Keheningan itu pecah ketika aku menyadari air mata sudah menggenangi kelopak matanya dan mulai mengalir ke pipinya yang keriput. Seketika aku teringat bahwa, aku telah kehilangan seorang ibu. Seseorang yang begitu berarti bagiku. Nenekku menangis dan memeluku dengan erat. Tak ada sepatah kata pun terucap selama beberapa lama.

“Tak apa-apa nak, ada nenek di sini. Seseorang memang akan pergi. Siap atau tidak, kita diharuskan menerima kenyataan itu,” kata nenek sambil mengelus pelan kepalaku. Tak ada hal yang lebih menenangkan dari pelukan ibu dan nenekku.

Kami dikagetkan dengan bunyi keras pintu kamarku yang ditendang oleh ayahku. Nenek seketika melepaskan pelukannya. Ayahku menjambak rambutku dengan kasar dan menjatuhkanku ke lantai. Ia menariku keluar, ke ruangan depan untuk membersihkan lantai. Aku benar-benar tidak menyangka, ayahku bahkan membuat ruangan itu seperti tidak terjadi apa-apa. Ia bahkan menyingkirkan foto dan lilin ibuku. Aku tak berdaya untuk melawan. Tubuhku seperti baru saja dipaksa bekerja siang-malam selama berhari-hari. Energiku tak tersisa. Ditambah lagi dengan duka yang begitu dalam.

                                    ***

Selepas hari itu, ayahku memperlakukan aku, adik-adikku dan nenekku secara semena-mena. Ia bahkan tidak membayar uang sekolah kami. Uang hasil penjualan keripiklah yang aku gunakan sebagai biaya sekolahku. Hidupku sangat hampa. Begitu banyak tekanan. Kedua adikku disuruh bekerja. Kami ditindas bagai budak di rumah ini.

Hingga suatu malam ayahku pulang dalam keadaan mabuk dan mengobrak  seisi rumah. Ayah menarik aku dan kedua adikku keluar rumah dan mengusir kami. Tak terkecuali nenekku. Ia dipaksa segera mengemas semua pakaian kami dan meninggalkan rumah malam itu juga.

Aku memeluk kedua adikku, melindungi mereka dari amukan ayahku yang mungkin akan memukul kami. Kami bangkit dan pergi. Aku memang sudah menduga hal ini akan terjadi.  Bahkan belum genap sebulan setelah ibuku meninggal.

Malam suram itu kami habiskan di pos kamling yang sudah lama tidak digunakan. Kedua adikku tidur dengan pulas, namun wajah mereka masih menampilkan kegelisahan. Aku tetap terjaga untuk menemani nenek. Aku bergerak mendekati nenek yang sedang duduk memegang tasnya.

“Tidur nak, bukan waktunya kamu terjaga. Siapkan tenagamu. Kita akan berjalan jauh besok.” Perintah nenek yang bahkan tak memalingkan wajahnya untuk melihat keadaanku.

“Kita mau kemana nek? ”

“Mencari bantuan. Nenek punya seorang teman yang tinggal di kota. Mungkin dia bisa membantu kita. Sekarang tidur.”

Aku pun perlahan membaringkan badan di atas tikar tipis yang sudah usang. Di samping kedua adikku. Air mataku sudah habis dikeluarkan. Aku tak ingin menangis lagi. Lagipula aku harus bangkit. Aku tak mungkin terkurung dalam kepedihan ini.

Fajar telah tiba. Cahaya matahari perlahan menyelinap masuk ke mataku yang masih sayu. Kedua adikku masih tertidur pulas.

“Makan ini, nenek mengambil sisa roti malam tadi. Sisakan untuk adikmu. Hanya ini persedian yang kita punya hingga kita sampai di rumah kerabat nenek. Aku menerima roti itu dan kumakan, kusisakan bagian yang besar untuk kedua adikku. Perlahan nenekku mebangunkan mereka, karena kami harus segera pergi sebelum ayahku menemukan kami.

Kami berempat pergi ke terminal bus. Jarak terminal yang cukup jauh dari terminal membuat berjalan sejauh itu. Kami tiba di terminal bis. Untuk pertama kalinya aku berada di keramaian seperti ini. Sangat asing bagiku. Nenek menggenggam tanganku dan tangan Dina dan menarik kami ke salah satu bis.

Kami harus bergerak cepat, karena nampaknya akan ada banyak orang yang naik. Dan tempat duduk sangat terbatas. Setelah lama kami menunggu bis berangkat. Aku melihat keluar jendela, untuk pertama kalinya aku mmenaiki bisa.

Pemandangan yang luar biasa membuatku kagum. Banyak orang dengan kendaraan mereka, para pejalan kaki, para pedagang, toko-toko besar dan gedung pencakar langit yang menjulang ke atas. Pengalaman yang luar biasa. Kami melewati toko baju. Aku melihat terusan mirip punya ibu. Aku tak menyadari air mata menetes di pipiku, membawa kembali semua kenangan indah tentang semua momenku dan ibuku. Sebuah kedamaian yang tak ada duanya.

***

Nak, kita sudah sampai. Bangunkan adikmu juga. Kita harus segera pergi. Bisa ini akan segera berangkat.” Kata nenek sambil sedikit mengelus keningku.

Aku menggendong adik bungsuku, sedangkan nenekku memegang tangan Dina. Kami turun dari bis. Kami berjalan ke arah pemukiman. Nenekku membawa secarik kertas yang sudah lama. Sesekali ia membaca kalimat di kertas itu. Nampaknya itu alamat rumah kerabatnya.

Tak lama kemudian, Kami tiba di depan sebuah rumah yang berandanya tidak terlalu besar. Halamannya dikelilingi berbagai tanaman bonsai yang indah. Kami melangkah perlahan mendekati teras rumah itu. Aroma harum menyeruak keluar dari taman bunga yang cukup besar di samping rumah. Taman itu tampak terawat, tak ada satupun daunnya yang berwarna kuning. Rupanya, taman itu baru saja disirami dan digembur tanahnya.

Kami tiba di depan teras. Teras itu dibuat mirip anjungan, memiliki tangga di kedua sisinya. Tangga itu dibuat dari kayu jati yang divernis. Menampilkan kesan klasik yang mewah.

Nenekku memanggil nama seseorang. Seorang wanita tua yang seumuran dengannya perlahan berjalan keluar. Ia mengenakan kacamata dengan bingkai bulat kecil dan dikaitkan dengan kalung untuk menahan kacamata agar tidak jatuh ke tanah kalau-kalau kacamata itu lepas. Wanita itu tampak anggun dan tenang, mengenakan kebaya kuning telur dan dipadukan dengan batik Jawa sebagai bawahan. Gaya berpakaian itu mengingatkanku pada sosok R. A. Kartini.

Singkat cerita, kami diajak masuk. Aku baru pertama kali menerima sambutan hangat dengan suguhan teh hangat dan pisang goreng yang sudah dingin. Sesaat rasa bahagia melihat kedua adikku makan dengan lahap membuatku tersenyum. Begitu banyak perbincangan antara nenekku dan kerabatnya, tapi tak sedikitpun kuhiraukan.

Aku terfokus pada desain rumah itu dan jam kayu besar yang terletak disudut ruangan. Rumah ini benar-benar menerapkan tema klasik. Aku memperhatikan setiap benda yang ada di rumah itu. Setelah berbincang, kami diajak ke kamar. Aku merindukan kamarku, tetapi aku lebih suka berada di sini. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, aku dapat merebahkan tubuhku yang begitu kurus dengan damai ke atas sebuah kasur. Aku hanyut dalam kedamaian.

Hari demi hari berlalu begitu cepat. Aku dan kedua adikku disekolahkan. Aku disekolahkan khusus kepandaian putri. Segala macam skil perempuan seperti menjahit, memasak, menyulam dan lain-lain diajarkan kepadaku. Bertemu banyak teman di sekolah membuatku bahagia. Aku sangat bersyukur masih memiliki nenekku

. Waktu terus berjalan, aku mendapat prestasi yang baik di sekolah. Aku banyak memenangkan lomba menulis artikel, terutama artikel yang menentang pengkotak-kotakan berdasarkan ras, suku, agama, apalagi jenis kelamin. Setelah lulus SMA aku melanjutkan kuliahku, dengan prestasiku, aku dibiayai oleh pemilik rumah dan juga mendapat sedikit beasiswa dari SMA.

Aku juga mendapat penghasilan dari berjualan keripik. Tak kusangka usaha kecil-kecilan ini berkembang. Dari yang awalnya hanya kubuat sendiri, kini sang tuan rumah juga turut membantu untuk mengembangkan usaha itu, terutama untuk mendistribusikannya ke kios-kios sekitar. Makin hari, permintaan makin banyak.

Aku menyelesaikan kuliah pertamaku. Aku sangat bersyukur menjadi salah satu lulusan terbaik. Ibuku pasti sangat bangga dengan pencapaianku ini. Sungguh luar biasa seorang gadis kecil yang lusuh dan penuh lumpur saat pertama kali datang, kini menjadi seorang wanita hebat dengan segudang prestasi. Aku bekerja sebagai seorang guru honorer di sebuah sekolah selama lima tahun. Dan setelah itu, aku berhenti.

Aku mendapat tawaran beasiswa dari universitas untuk melajutkan kuliahku di universitas yang lebih tinggi. Aku menolaknya. Sekarang fokusku adalah mewujudkan impianku, membangun sebuah panti asuhan dan sekolah untuk para putri-putri yang terlantar. Namun, motivasiku sudah berbeda.

Aku tak ingin lebih banyak perempuan bernasib seperti aku, yang masa kecilnya begitu kelam. Segala usaha aku jalankan untuk mewujudkan impianku. Aku mempekerjakan banyak perempuan yang putus sekolah di usaha keripikku. Aku mengajukan permohonan untuk membangun sekolah khusus putri kepada dinas pendidikan setempat.

 Di saat bersamaan, aku juga mengajukan permohonan untuk membangun sebuah panti asuhan bagi para yatim-piatu. Aku sudah memikirkan semuanya dengan matang. Tak lupa kumeminta bantuan Yang Maha Kuasa dalam usahaku ini.

Dua minggu berlalu, aku mendapat balasan surat dari dinas. Permohonanku diterima dan aku akan diberikan dukungan tenaga dan finansial dari beberapa donatur. Tak butuh waktu lama, sekolah dan panti asuhan impianku mulai dibangun. Aku mambangun sekolah dan panti asuhan dalam satu kompleks besar.

Enam bulan berlalu, semuanya selesai dibangun. Aku mulai mengoperasikan sekolah dan panti asuhan yang kubangun. Semuanya berjaln lancar. Aku menjadi kepala sekolah, sekaligus guru pengajar di sekolahku. Aku memberi pengajaran pada anak perempuan untuk menjaga diri mereka dan tetap fokus pada tujuan mereka.

 Tak lupa juga aku memberi pegertian kepada anak laki-laki tentang pentingnya menjaga martabat perempuan, bagaimana pentingnya saling menghargai. Aku memperkenalkan mereka pada sosok R. A. Kartini, tentang kegigihan beliau dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dalam masyarakat.

Aku juga mengajarkan mereka bagaimana mengawali sebuah usaha untuk mendapatkan biaya tambahan. Aku melaksanakan banyak sosialisasi tentang perempuan dan anak. Aku tak sendiri, dinas perlindungan perempuan dan anak selalu membantuku. Aku juga menjadi penulis besar, terutama mengenaik isu-isu gender.

Nenekku sudah meninggal. Bersama dengan kerabatnya, sang pemilik rumah. Aku diwariskan  semua harta benda mereka. Kugunakan semua itu untuk menunjang usahaku. Usahaku sudah menjadi usaha besar. Namun aku menolak menggunakan mesin-mesin elektronik. Terlalu banyak pengangguran yang perlu dipekerjakan, daripada harus menggunakan mesin-mesin itu.

Aku masuk kedalam kamarku, kubakar lilin dan berdoa. Berterima kasih kepada Tuhan yang telah menganugerahkan jalan hidup yang sangat indah bagiku. Aku berterima kasih untuk semua orang baik. Aku berdoa untuk kemajuan negeri ini dan untuk kebaikan anak-anak asuhku. Untuk eluruh masyarakat dan untuk kemajuan sekolahku. Aku bedoa untuk para pemimpin agar memimpin dengan  jujur dan adil.

Tak lupa kumendoakan ketenangan bagi arwah ibu dan nenek, serta kerabat nenek. Teruslah berjuang. Jangan menyerah dengan keadaan. Jika gagal, ubahlah strategimu bukan tujuanmu. Negeri ini perlu generasi muda yang inovatif, yang mampu menciptakan ide-ide cemerlang dan menjujung tinggi ke-bhinekaan. Kalian bertanggung jawab atas itu wahai anak-anaku. Kalian adalah penentu masa depan bagi negeri ini. Pesanku pada semua anak pada suatu malam di ruang makan.*

 

 

 

 


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini