Marianus Ama Beda
Seorang remaja duduk termenung dengan tatapan kosong. Kedua bola matanya sejurus tertuju pada kebun di samping rumahnya. Dalam tatapannya, ia tidak sedang merekam pemandangan yang ada di depan matanya. Namun, dalam pandangannya itu, ia sibuk mengadu pikiran di kepalanya.
Dahinya berkerut. Tatapannya tak pernah berpindah. Lirikan matanya bernyawa seolah membantu isi pikirannya yang terlintas oleh pertanyaan yang mengusiknya selama ini.
“Apakah membunuh hewan atau merusak lingkungan adalah tindakan yang benar?” Jika keadaan tersebut dilakukan demi bertahan hidup, bukankah makhluk hidup yang lain juga puya hak yang sama?” Beberapa pertanyaan ini membuat ia duduk semakin lama. Pandangan matanya kosong tetapi bernyawa dan penuh pertanyaan.
Semua pertanyaan itu menumpuk di kepalanya. Ia merumuskan pertanyaan dalam lamunan dan berusaha menjawab dengan akal yang ia imajinasikan. Sesekali ia memejamkan mata untuk menerbangkan pikirannya lebih jauh. Dari pikirannya, ia ingin menemukan jawaban dengan kenadaraan teori-teori yang ia dapatkan di sekolah atau dari buku bacaannya sendiri. Segala kemungkinan jawaban itu ia bantah dengan pikirannya sendiri.
Ia pernah mengajukan pertanyaan ini pada guru beberapa bulan lalu kala mengikuti pelajaran biologi di kelas. Namun, jawaban yang diberikan oleh guru sangat tidak memuaskan isi pikirannya. Ia menarik segala kekuatan dengan kepalan tangan yang merangkul rambutnya kuat-kuat. Sesekali ia melepaskan teriakannya untuk membangun kembali pikiran yang telah buntu.
Ia menunduk sejenak dan memusatkan pikirannya pada tanah. Dengan jarinya, ia meraih kerikil dan ia lemparkan tanpa arah. Reranting kecil ia ambil untuk mengukir pikirannya setelah menyeka bagian tanah utuk menulis. Sesekali, angin membelai rambutnya, menyeka dahinya yang berkerut. Gesekan reranting pohon di belakang rumah memerdukan suasana.
“Hukum rimba.” Dengan melukis semua bayangan yang ada di dalam pikiran, kata-kata itu melintasi pikirannya. Barangkali semesta merestui pertanyaan yang selalu mengganggu pikirannya.
“Cukup masuk akal.” Ia berbisik pelan seolah berhadapan dengan lawan bicara. Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya ia sendirian. Ia melanjutkan, “makan atau dimakan? Jika ingin bertahan, maka kau harus makan. Namun, jika kau tidak cukup kuat untuk berthan hidup, maka kau sendiri akan dimakan.” Katanya dengan hati-hati seolah pikiran lain sedang memburu di kepalanya untuk menemukan jawabannya.
Namun, bagaimana dengan hewan yang dibunuh untuk hiburan dan kesenangan atau untuk diperjualbelikan kulit untuk kepentingan industri? Pertanyaan itu mengganggunya lagi. Ia tahu, tak ada orang yang mempu menjelaskan isi pikirannya yang konyol bin ajaib ini. Ia berharap agar ada teman atau gurunya bisa mampu menjelaskannya dengan baik, sehingga mereka bisa mampu untuk mempertahankan argumen mereka masing-masing.
Dalam kekalutan dan pikiran yang tak pernah ada habisnya, ia dikejutkan oleh suara dari atap rumahnya. Ia beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya secepat dapat menuju rumahnya. Barangkali ada pohon di dekat rumah yang tumbang menimpa rumah mereka. Ia mempercepat langkahnya.
Tidak jauh dari rumahnya, ia melihat sekelompok anak-anak berdiri dengan masing-masing katapel pada tangan mereka. Setelah satu tembakan mengenai rumah, teman lainnya seolah-olah menyalahkan teman yang baru saja melepaskan tembakannya. Sebagian anak-anak membagi jalan mereka dan mencari tempat untuk menembak burung.
“Hei, hati-hati kalau menembak!” teriak remaja itu setelah melihat kelompok anak-anak itu. Tak ada yang mendengarkannya. Ia membentak sekali lagi. Teriakannya menyadarkan anak-anak bahwa mereka dalam bahaya. Sebagian sudah berlari bersembunyi di balik pepohonan.*
Jadilah yang pertama berkomentar di sini