Wihelmina Lasaren
Mentari pagi telah bersinar dengan terangnya. Hujan tadi malam membuat pagi begitu segar. Cuaca pun berubah cerah. Terlihat awan putih berkejaran di atas langit.
Burung-burung terdengar saling bercicit. Setiap hari, Yunita memanjatkan doa pagi kepada Tuhan atas nafas kehidupan yang ia terima. Setalah berdoa, ia membereskan tempat tidurnya dan bergegas ke sekolah. Langkah kaki yang cepat dan gesit akhirnya mengantarkan Yunita sampai di sekolah dengan tepat waktu.
***
Suara bel berbunyi. Pergantian jam ke tiga. Semua siswa bergegas mengganti seragam dengan kostum olahraga. Yah, sekarang jam pelajaran olahraga. Siapa sih yang tidak senang dengan pelajaran yang satu ini?
Hari ini adalah hari pertama bagi siswa XI IIS 1 berolahraga setelah melewati satu tahun bersekolah di SMAS Frater Don Bosco. Memang, sejak dua tahun terakhir, pembelajaran dilakukan secara online karena penyebaran covid-19. Antusias, hentakan kaki, senyuman lebar dipancarkan melewati area koridor ruang guru.
“Semuanya, harap berkumpul.” kata Pak Marianus, guru olahraga di sekolah ini. Semua siswa memasuki gedung aula dan berkumpul. Tak lama kemudian kami semua menuju lapangan bola voli.
“Aduh bagaimana nihhh, saya kan tidak tahu bermain bola voli.” gumam Yunita pelan. Ia hanya terdiam.
“Yunita, ayo bergabung! Jangan diam saja! Sahut Epy teman sebangkunya Yunita.
Pemanasan awal berlangsung selama 5 menit. Semua siswa membentuk lingkaran untuk memulai permainan bola voli. Pak Marianus mulai menerapkan pola permainan dasar.
“Aduh, bagaimana ini. Saya takut kalau membuat kesalahan.” Ucap Yunita dalam hati sambil memperlihatkan mukanya yang begitu cemas. Permainan pun berlangsung. Baru saja mulai, Yunita langsung membuat kesalahan.
Seharusnya bola itu dilemparkan ke pemain yang berada di tengah lingkaran. Ia malah melemparnya ke arah teman disampingnya. Dengan wajah panik Yunita berkata mengucapkan maaf kepada teman dan gurunya.
“Sekarang kalian akan dibagi menjadi dua tim ya! Tiga orang di bagian atas dan ketiga lainnya di bagian bawah.” Kata Pak Marianus. Yunita hanya diam dan mendengar arahan dari Pak Marianus. Ia masih takut melakukan kesalahan yang sama. Apalagi, yang menjadi lawan sebelahnya adalah teman kelas yang hebat bermain voli.
“Yunita, sekarang giliran kamu!” Kata Pak Marianus sembari memberikan bola kepada Yunita. Dengan raut wajah yang kaget, Yunita memberanikan memukul bola ka arah lawan.
“Yeehh, bolanya keluar lapangan.” Ejek teman seregu Yunita.
Kini tiba giliran tim lawan memukul bola. Ia memukul bola dengan sangat bagus sehingga mendapatkan pujian dari Pak Marianus. Yunita merasa sedih karena selalu membuat kesalahan terus-menerus. Pak Marianus pun menghampiri Yunita dan timnya. Ia memperagakan ulang teknik dan gerakan memukul bola secara benar.
Yunita diberikan kesempatan lagi oleh Pak Marianus untuk memukul bola sesuai contoh. Alhamdulilah, Yunita pun berhasil.
“Mantap-mantap. Bagus sekali Yunita.” Kata Pak Marianus.” Kedua teman yunita pun ikut melompat-lompat kegirangan menyaksikan Yunita berhasil memukul bola voli melewati net. Bahagia itu datang dengan mata yang berkaca-kaca melihat apa yang ia lakukan barusan. Yunita berpikir, pujian itu tak akan pernah menghampiri hidupnya tetapi hari ini. Ia berhasil membuktikannya.
“Ternyata, bukan orang hebat saja yang dipuji. Saya yang tak pandai pun dapat meraihnya.”
“Ternyata, suatu yang sulit itu akan mudah diraih kalau mau mendengarkan dan berusaha.” Gumamnya dalam hati sambil merefleksikan.
Yunita melanjutkan permainannya sambil tersenyum. Ia menaruh rasa bangga pada guru olahraganya tersebut. Ia berpikir menjadi guru itu tak boleh pilih kasih. “Saya kira Bapa pilih kasih... ee tau-taunya bapa menaruh kasih.” Ungkap Yunita membatin.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini