Maria Rosasio P. Bayo
Mentari pagi mulai muncul di ufuk timur. Angin berhembus menerpa pepohonan di luar rumah. Di sebuah rumah, detak jam dinding terus melaju menunjukan pukul 06.30. seisi rumah itu tampak hening. Hanya seorang ibu yang dengan diam dan tabah menanak nasi dan mempersiapkan bekal untuk suami dan masa depan untuk anak-anaknya.
Pagi itu, seperti biasa setelah menyelesaikan tugasnya di dapur, ibu harus membangunkan anaknya untuk ke sekolah. Begitulah kebiasaan ibu setiap pagi.
Doni, siswa SMA itu masih lelap di atas kasur. Ia lupa kalau hari ini adalah hari ia harus mengikuti ujian akhir Karya Tulis Ilmiah (KTI). Sebagai siswa, memang ia harus menerima tugas ini sebagai taanggung jawab akademisnya, namun dalam hatinya, ia sangat membenci tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Termasuk tugas akhir KTI ini.
Doni memang sudah terkenal di sekolahnya sebagai anak yang pemalas dan tidak terlalu pintar. Semua teman-teman dan guru di sekolahnya tahu. Saat teman-temanya suda hampir habis menyelesaikan tugas mereka, ia masih bingung dalam mementukan judulnya. Padahal, batas pengumpulan tinggal seminggu lagi. Ia benar- benar frustasi. Itu semua gara-gara pak Olah yang adalah guru pembimbingnya yang sangat tidak disukainya.
***
“Hey Doni, kenapa lihat-lihat ke belakang? Kamu mau nyontek?” Bentak pak Olah pada Doni saat ulangan Bahasa Indonesia.
“Tidak Pak. Saya mau mbil pensil saya yang jatuh.”
“Alasan saja kamu. Berikan jawabanmu ke saya!”
Tanpa berpikir panjang, pak Olah merobek lembar jawaban Doni. Doni hanya diam menyaksikan aksi dramatis dihadapannya tanpa suara.
“Pak kenapa jawabn saya dirobek?” Ujar Doni gagap.
“Saya lebih menghargai nilai jelek hasil karya sendiri daripada yang bagus karena hasil nyontek.” Bentak pak Olah dengan nada menasehati.
“Tapi, pak. Saya hanya mau mengambil pensil saya yang jatuh pak.”
“terus yang didepan kamu itu apa? Cangkul?”
“Kamu itu bodo atau dungu?” Kata pak Olah dengan nada tinggi.
Doni hanya tertunduk diam mendengrkan kata-kata menohok yang keluar dari mulut guru yang ia benci itu. Doni keluar dengan menghentakan kaki dengan keras dan membanting pintu dengan keras. Usai ujian itu, Doni mendapatkan nilai yang buruk. Nilai Doni dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia bias dibilang jelek dibadingkan dengan nilai teman-temannya yang lain.
***
Doni berangkat sekolah degan tergesa-gesa karena waktu suda menunjuka pukul 7.00 kurang 15 menit. Sesampainya di sekolah, ia langsung memarkirkan motornya dan bergrgas menuju ke ruang kelasnya.
Astaga! Jam pelajaran pertama adalah les Bahasa Indonesia. Ia berhenti sejenak sambil memikirkan roster pelajaran hari itu. Langkanya yang semula secepat kilat seketika berubah menjadi lambat. Keinginannya untuk bolos pada jam pertama yang telah direncanakannya akhirnya gagal seketika, karena di koridor, ia langsung berpapasan dengan pak Olah di lorong meuju ruang kelas. Sial! Ia mengumpat sambil menundukan kepalanya.
“Selamat pagi pak.” Sapa Doni dengan nada ketus.
“Pagi, nak.”
Kemudian, ia segera berjalan cepat menuju ruang kelas agar tidak diintrogasi lebih lanjut lagi tentang karya tulianya yang belum habis. Ia hanya berusaha untuk lolos dari jebakan KTI karena ia belum mengerjakan tugas apapun.
“Jangan lupa karya tulismu!” Suara pak Olah seolah-olah mengantarkannya menuju ruangan kelas.
Sesaat setelah bel istirahar berbunyi, Doni bertemu dengan sahabatnya di kantin dan mencritakan masalah KTI yang belum juga ia kerjakan. Dari pertemuan itu, Doni mendapat ide konyol dari sahabanya, yaitu menyuruh Doni untuk meng-copy paste latar belakang karya tulisnya dari internet. Awalnya, Olah sempat ragu karna takut ketahuan dan pastinya akan mendapat ocehan dari guru pembimbingnya yang keras itu Namun, karna waktu yang mepet maka ia terpaksa mengikuti ide sahabatnya itu.
Setelah pulang sekolah, Doni langsung berkuat dengan karya tulisnya. Ia sama sekali tidak ada bayangan untuk menulis karya tulisnya yang berjudul “Pengaruh Pelajaran Sosiologi Terhadap Kepribadian Siswa”. Karena mendekat deadline, ia terpaksa menulis karena takut tidak lulus. Doni laangsung men-search materi buat karya tulisnya. Ia langsung copas semua isi tulisan dan melakukan sedikit editing agar tidak di curigai oleh pak Olah.
Setelah membaca tulisannya, Pak Olah langsung memberi tanda silang pada lembaran pertama. Artinya, tulisan yang ia buat tidak berarti apa-apa.
“Sial!” katanya setelah sampai di ruanan kelas dan membanting hasil kerja yang dicoret pak Olah tersebut. Padahal ia sudah membuka laman paling terkhir agar pak Olah tidak mencurigainya. Doni tak menyangka kalua pak Olah bisa seteliti itu.
“Kamu harus tanamkan didalam diri kamu sikap jujur. Saya tahu kamu tidak suka dengan saya tetapi apa yang saya lakukan selama ini semata mata hanya untuk kebaikan kamu. Kamu sebenarnya murid yang pandai tetapi sedikit dungu.” Satu kata itulah yang menumbuhkan kebencian Doni dengan pak Olah.
“Apa kamu marah saya ejek kamu dungu? Atau sakit hati? Mulai hari ini jadikan kata dungu sebagai motivasi diri.”
***
Sejak pertemuan itu, Doni sudah benar benar serius dalam mengerjakan karya tulisnya. Tinggal empat hari, pak Olah memintanya untuk selesai pada hari jumad.
Hari jumad yang mendung telah tiba. Pak Olah tidak masuk sekolah sampai hari sabtu. Doni benar benar kecewa dan membuang karya tulisnya yang ia jilid dengan rapih di lantai koridor sekolah. Ia merasa tidak dihargai. Ia pun berlari menuju ke kantin untuk sekedar menenangkan pikiranya. Sesampainya di depan kantin ia berseruh memanggil pak Olah.
“Pak Olah!” Serunya kaget.
“kayak perempuan saja kamu. Laki laki kok nengis!” kata pak Olah dengan nada mengejek.
“Kok bisa, kata guru-guru bapak tidak masuk sampai hari sabtu?”
“Ia, tapi jumad dan sabtu minggu depan.”
Sekarang Doni jengkel dengan guru gurunya.
“Sekarang mana karya tulis mu?”
“maaf pak sepertinya jatuh di dapen kelas.” Kata Doni langsung pergi dengan semangat mengembil karya tulisnya yang ia buang tadi.
Memang dungu si Doni. Kata pak Olah dalam hati.
Karya tulis Doni akhirnya diterima oleh pak Olah. Kemudian ia berulang kali berterimakasih kepada pak Olah. Keesokan harinya, ia menjalani sidang mempertangungjawabkan karya tulisnya dengan begitu detail dan meyakinkan. Setelah selesai, ia menemui pak Olah dan berterimakasih kembali.
“Bapak salut dengan kamu. Berjuang dengan jujur memang sulit tapi kalua di kerjakaan dengan sungguh sungguh dan ditambah di kejar deadline kamu pasti bisa.” Lanjut pak Olah. Kemudian ia membuka amplop dan diserahkan ke pak Olah. senyuannya mengembang lebar. Ia kemudian memeluk pak Olah dan meminta maaf atas apa yang dia lakukan selama ini dan berteriakasih sekali lagi kepada pak Olah. Pak Olah hanya menatapnya dengan senyuman yang menunjukkan rasa bangga dan bahagia karena berkat pendampingan dan ocehannya yang memotivasi Doni dapat menyelesaikan KTInya dengan baik.*
Jadilah yang pertama berkomentar di sini