Detail Opini Siswa

UJUNG KACA

Sabtu, 5 April 2025 04:46 WIB
  44 |   -

Citra Leni

XII MIA II

 

Sinar mentari yang terpancar lewat ventilasi jendela ingin menegaskan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk kembali ke rumah. Bel sekolah terdengar berbunyi. Segerombolan pelajar keluar berdesakan, menuju ke muka gerbang. Siswa bernama Berliana Emerlad atau biasa disapa Berlin ikut berdesakan.

Kakinya melangkah maju walaupun panas menyengattersa hingga ke tulang kering. Panas pada saat itu membuat Berlin dengan sigap masuk ke dalam rumah. Ia gegas melepaskan pakaian sekolah yang sudah melekat sepanjang 6 jam pelajaran. Sekarang tersisa pakaian kecil tertempel pada badan kecilnya. Berlin adalah anak yang duduk di bangku kelas 5 SD. Rasa lapar yang mengoyak dinding perut membuat Berlin segera mencomot nasi di piring

Setelah menghilangkan rasa lapar, Berlin kemudian gegas ke ruang tengah untuk bercerita bersama Anna, adiknya. Pada saat bersamaan, tibalah  Fisya , salah satu anak tetangga yang datang hendak bermain bersama Berlin. Entah kenapa Fisya tanpa sengaja menumpahkan tinta printer di atas kaca meja rumah Berlin.

Melihat kejadian itu Berlin berinisiatif mengambil kain untuk menyeka tinta yang merembes pada meja kaca itu. Namun, tanpa sadar Berlin telah duduk dan menyentuh sebagian genangan tinta dan akhirnya dirinya terjatuh. Seketika itu cairan merah bak hitam menitik dan bercucuran mengaliri tubuh Berlin. Ternyata sayatan sobek panjang membelah hingga hampir menyentuh pembuluh darah Berlin.

Pecahan kaca yang jatuh berserakan membuat ibu Berlin yang sedari tadi bersantai, beranjak lari. Mimik muka pucat yang terlihat saat itu membuat ibu Berlin segera menggendongnya dan membawa Berlin ke teras rumah. Cairan merah yang keluar tak henti membuat ibu Berlin harus segera menahan dengan tangan kecil.

Ia berteriak mencari pertolongan. Warga sekitar yang datang sontak berhenti menarik nafas panjang karena terkejut akan peristiwa itu. Mereka tidak sanggup memberikan pertolongan, hanya teriakan histeris yang keluar dari bibir.

Berlin dengan mata yang redup kemudian digendong dan dilarikan ke UGD setempat. Pengelihatan Berlin perlahan mulai memudar. Cahaya menjadi hitam. Banyaknya perbincangan di atas motor membuat Berlin tidak hilang kontrol. Ia tetap memejamkan mata.

Muka panik terlihat saat tiba di UGD. Bunyi roda bergesekan pada ubin putih. Bau obatan menyeruak menyengat hidung. Dengan Dorongan yang cepat mendadak Berlin tiba di ruang operasi. Sengatan jarum panjang menembus kulit, bius mulai bekerja, tubuh terasa lemah, mata mulai tertutup tetapi kesadaran tetap hadir. Dua bagian leher yang sempat terpisah akibat ujung kaca kembali disatukan oleh benang biru yang terlihat kuat.

Ayah Berlin yang tampak sibuk-sibuknya di kantor, saat itu juga harus dikagetkan dengan kejadian nahas yang menimpa Berlin. Ia gegas menemai Berlin. Saat operasi, ia menunggu Berlin di depan ruang operasi. Ayah dan ibu Berlin, tampak khusyuk berdoa. Dari kejauhan, tarikan benang mulai menyatukan daging dan akhirnya operasi saat itu selesai.

Berlin kemudian dipindahkan ke ruang oberservasi. Di ruang itu, Berlin dirawat tiga hari. Berlin kemudian beranjak membaik. Ketika membaik, dokter mengizinkan Berlin untuk pulang. Tubuh ringkuknya harus tetap mengikuti kondisi leher yang sakit. Balutan perban tebal melilit sepanjang leher, membuat Berlin merasa memikul 50kg bakul beban.

Sayatan dengan 13 benang ini bukan hanya memberi bekas luka pada Berlin tetapi pada keluarga, sahabat dan juga kenalan. Semenjak peristiwa itu Berlin merasa sangat sensitif dengan kaca. Orangtuanya melarang Berlin berinteraksi dengan benda-benda tajam.

Hari terus berlalu. Sayatan tetap membekas. Ribuan pertanyaan mulai mengusik telinganya. Berlin mulai terbiasa dengan situasi itu. Ia tetap tenang dan merasa seperti tanpa masalah, meski pertanyaan-pertanyaan tetap membekas kuat perihal kejadian hari itu.


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini