Detail Opini Siswa

YANG TERLUPAKAN

Sabtu, 5 April 2025 04:48 WIB
  41 |   -

             

                                                                              Patrisia Susana Ujan

Siang ini cuaca begitu panas. Udara pengap yang menyeruak masuk lewat fentilasi jendela sedikit membiaskan kami semua di kelas. Kelas mulai hening. Kami memandang layar kata-kata pada laptop sang guru. Kami memandang dengan tatapan kosong karena kebosanan yang semakin menjadi. Waktu pulang masih begitu lama. Perut sudah meronta minta diisi makanan ditambah rasa kantuk yang muncul membuat kami semakin lemas.

Cahaya yang berpancar dari layar monitor itu menampilkan pejuang-pejuang republik Indonesia. Sesekali ada siswa yang bosan sengaja meminta guru untuk memutar kembali slide sebelumnya. Pelajaran hari ini mengenai para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejarah mencatatkan bahwa Indonesia sudah merdeka selama 76 tahun. Perjuangan para pahlawan masih membekas sampai saat ini. Perjuangan para pahlawan teringat kuat dalam memori kolektif bangsa Indonesia karena berguguran di medan perang. Untuk memperingati para pahlawan, maka ditetapkan setiap tanggal 10 November sebagai hari pahlawan.   

“Baik anak-anak, kita baru-baru saja mempringati hari pahlawan pada tanggal 10 November kemarin. Silakan angkat tangan bagi yang tahu yaaa!” Kata guru sejarah setelah menampilkan gambar pahlawan perjuangan tanpa nama-nama sebagai penjelas.

Ia melanjutkan, “sebutkan pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia!” Katanya dengan datar sambil matanya menangkap semua gerak-gerik dan tingkah laku kami di kelas ini. Hampir semua siswa di kelas kami mengangkat tangan. Sang guru sejarah hanya meminta tiga orang siswa untuk menjawab.

“Soekarno, bu.” Jawab Andi dengan bangga setelah matanya memelototi seisi ruangan seolah dialah yang paling hebat.

Frans yang duduk di bangku paling belakang terkejut setelah guru memintanya untuk menjawab. Ia menyanggupi kalau pertanyaannya diulang. Pasalnya,  sedari tadi ia tidak memusatkan perhatiannya pada pelajaran. Setelah mendengar pertanyaan, ia langsung menjawab, “Mohammad Hatta.”

Sekarang giliran Sandi menjawab pertanyaan tentang pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan. Seluruh isi ruangan terdiam menunggu jawaban. Teman lainnya seolah mencelanya agar segera menjawab pertanyaan dari guru sejarah itu.

“Tan Malaka.” Jawabnya spontan tetapi dengan perasaan yang berat.

“Siapa itu Tan Malaka? Apakah dia merupakan seorang pahlawan?” Salah satu murid bertanya dengan raut wajah yang kebingungan. Bukan murid itu saja yang kebingungan, tetapi seluruh murid di dalam kelas tersebut. Pasalnya, nama Tan Malaka tidak tercantum dalam buku-buku sejarah di sekolah. Sang guru yang mengerti akan kebingungan para muridnya.

“Apakah tidak ada yang tahu siapa itu Tan Malaka?” Tanya sang guru kepada seluruh murid.

“Tidak, bu.” Jawab semua siswa serempak.

Kamu, Kopong? Apakah kamu tahu siapa Tan Malaka?” Tanya sang guru kepada murid ketiga yang menyebut nama Tan Malaka.

“Tidak, Bu. Saya pernah mendengar nama itu dari kakak saya. Saat ditanya balik, kakak saya hanya menjawab kalau beliau merupakan seorang pahlawan.” jawab murid tersebut dengan jujur.

“Baiklah, ibu akan menceritakan sedikit tentang Tan Malaka, sang pahlawan yang telupakan itu.” Kata ibu dengan gaya necisnya. Semua pandangan mulai tertuju pada guru di depan kelas. Teman-teman lain yang sedari tadi bosan mulai ceria kembali.

“Tan Malaka atau Gelar Datuk Sutan Malaka adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, pendiri Partai Murba atau Musyawarah Rakyat Banyak. Ia juga merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau menjadi guru dari Presiden pertama kita yaitu Bapak Soekarno.

Tan Malaka ini  salah satu sosok pahlawan yang terlupakan. Beliau lahir pada 2 Juni 1897. Tan terkenal akan kecerdasannya, sehingga dapat bersekolah di Belanda. Setelah mengenyam pendidikan, beliau pulang ke Indonesia dan mengajar anak-anak kuli di Sumatra Utara.

Tan Malaka juga pernah merantau dari Jawa ke Semarang, dan membangun sekolah di sana. Tan Malaka ini juga pernah memimpin PKI sebelum diusir dari Hindia Belanda. Semasa hidupnya, Tan Malaka hidup berpindah-pindah dari satu Negara ke Negara lainnya dan pernah melakukan penyamaran sehingga beliau menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan karya besarnya, Madilog.

Tan Malaka tewas terbunuh pada 21 Februari 1949. Ia ditembak oleh pasukan militer Indonesia yang disebabkan perlawanannya yang bersikap moderat dan penuh kompromi terhadap Belanda. Kemudian Presiden Sukarno menetapkan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI No.53 yang ditandatangani pada tanggal 28 Maret 1963.”

“Ok, anak-anak. Itu cerita singkat Tan Malaka sang pahlawan yang terlupakan. Tapi ingat, walaupun beliau terlupakan, ada jasa beliau dalam memperjuangkan bangsa Indonesia ini.” Kata guru mengakhiri ceritanya tentang Datuk Tan Malaka itu. Semua siswa di dalam kelas berteriak meminta guru tersebut untuk bercerita lebih banyak lagi tentang sosok Tan Malaka.

“Orang lain boleh melupakan para pahlawan tetapi kalian jangan. Karena mereka, kita bisa bersekolah, bermain, tanpa ganguan penjajah. Pahlawan bukan hanya ada di masa lalu tetapi pahlawan juga berada di masa sekarang.“ Kata motivasi sang guru. Tidak terasa, kata-kata itu beriringan dengan bunyi bel sekolah pertanda seluruh jam pelajaran ari ini sudah berakhir.

Para murid dan para guru di sekolah tersebut terlihat merapikan barang-barang mereka. Setelah mengakhiri seluruh pelajaran dengan doa, kami semua pulang dengan pelajaran baru hari ini tentang pahlawan yang terlupakan. Di jalan pulang, beberapa teman terlihat masih asyik berbincang tentang pahlawan yang terlupakan itu. Panas terik siang itu mengingatkan kami tentang perjuangan yang tak berkesudahan.*

 


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini